Penelitian menunjukkan perbedaan antara pilek ringan dan infeksi virus corona yang mematikan bisa dibedakan melalui jenis batuk yang muncul.
Seperti diketahui, virus corona yang seperti flu ini telah menginfeksi lebih dari 100.000 orang di seluruh dunia.
Corona juga telah membunuh lebih dari 3.000 orang.
Bahkan, pasar saham hingga industri perjalanan kacau, karena khawatir penyebarannya memburuk.
Gejala infeksi virus corona pun sangat mirip dengan penyakit sehari-hari.
"Orang-orang khawatir untuk alasan yang benar," kata Dr. Waleed Javaid, direktur pencegahan dan pengendalian infeksi di Mount Sinai Downtown, dikutip dari Kompas.com.
Di saat demam menjadi gejala paling umum dari virus corona (COVID-19), sekitar dua pertiga (67,7 persen) pasien juga mengalami batuk --khususnya batuk kering, menurut World Health Organization (WHO).
"Batuk kering adalah apa yang kami sebut batuk tidak produktif, karena tidak ada dahak yang muncul," kata Javaid.
Baca: Ancaman 5 Tahun Penjara bagi Warga yang Tidak Lakukan Karantina Mandiri Virus Corona Selama 14 Hari
Baca: Virus Corona: Tak Hanya Korsel, Iran & Italia, Turis China Lebih Dahulu Dilarang Masuk ke Indonesia
Batuk ini biasanya ditandai dengan tenggorokan yang gatal.
Di sisi lain, batuk berdahak menghasilkan lendir dan bisa terasa seperti berderak di dada.
Batuk berdahak dapat menyebabkan seseorang merasa mengi --gejala gangguan pernapasan serius yang ditandai bunyi napas seperti bersiul.
Batuk berdahak bisa merupakan gejala dari sesuatu yang lebih jinak, seperti pilek atau alergi.
Bronkitis dan pneumonia juga sering disertai batuk berdahak.
Gejala lain yang tidak begitu umum dari infeksi virus corona termasuk produksi lendir (sekitar 33,4 persen pasien dengan virus ini pernah mengalaminya).
Artinya, sebagian kecil orang dengan penyakit ini menderita batuk berdahak.
"Batuk itu sendiri adalah masalah, tetapi batuk kering akan membawa masalah lebih besar,” kata Javaid.
Lebih penting lagi, batuk, di samping demam terus-menerus harus mengibarkan "bendera merah."
"Kombinasi gejala lebih penting.
Batuk dan demam jenis apa pun akan sangat memprihatinkan."
Berdasarkan keterangan WHO, gejala tambahan infeksi virus corona termasuk sesak napas (ditemukan pada 18,6 persen pasien), sakit tenggorokan (13,9 persen pasien), dan sakit kepala (13,6 persen).
Tetapi, kata Javaid, batuk kering tidak selalu berarti kita mengidap infeksi virus corona.
"Batuk kering dapat terjadi karena ratusan alasan berbeda."
Terlepas dari batuk kering atau berdahak, pasien harus tetap berada di dalam ruangan tertutup dan memantau gejala yang muncul.
Jika demam dan batuk berlangsung lama, segeralah pergi ke dokter.
Namun yang penting diingat, kita harus fokus pada pencegahan penyebaran penyakit.
Taktik pencegahan terbaik diantaranya adalah mencuci tangan, mendisinfeksi lingkungan, dan tidak menyentuh wajah kita.
Dengan penyebaran virus corona di seluruh dunia, kekhawatiran akan terserang penyakit tersebut telah meningkat.
Namun, tidak selalu demam dan batuk berarti kita telah terpapar virus corona.
Lalu, bagaimana kita tahu jika kita terinfeksi virus corona? Dan kapan kita harus pergi ke dokter?
Gejala virus corona --seperti demam, batuk, pilek-- mirip dengan flu biasa.
Jika kita mengalami gejala-gejala tersebut, tetapi merasa seperti bisa mengatasinya dengan obat di rumah, para ahli mengatakan, itulah yang harus kita lakukan.
"Apabila kita merasa sehat dan itu bukan karena virus corona, kita tidak akan perlu pergi ke dokter," ucap Lauren Sauer, asisten profesor kedokteran darurat di Johns Hopkins Medicine, dikutip dari Kompas.com.
Baca: Pemerintah Sebut Dua Pasien Baru Virus Corona, Total Jadi 6 Kasus di Indonesia, Berikut Update-nya
Baca: BMKG - Prakiraan Cuaca Senin 9 Maret 2020: Cuaca Cerah Sepanjang Hari di Manado dan Padang
Namun jika gejalanya lebih parah, seperti demam yang tak kunjung hilang, sesak napas, dan lesu, maka itu saatnya untuk menghubungi dokter.
Sebagian besar kasus virus corona, yang secara resmi dikenal sebagai COVID-19 bersifat ringan.
Maka, jika semua orang dengan flu memenuhi ruang gawat darurat, akan lebih sulit bagi para profesional untuk merawat pasien yang sakit kritis.
Kita juga dapat terkena virus di rumah sakit jika belum memilikinya.
Tapi tanpa demam, kemungkinan kita tidak terinfeksi virus corona.
Centers for Disease Control and Prevention juga menyarankan untuk mencari bantuan medis jika gejala tampak, dan kita telah melakukan kontak dengan pengidap COVID-19, bepergian atau tinggal di daerah terjangkit.
Orang lebih tua dan mereka yang memiliki masalah kesehatan mendasar seperti diabetes, penyakit jantung atau penyakit paru-paru kronis lebih berisiko terhadap penyakit parah.
Jika kita termasuk dalam kategori tersebut dan merasa sakit parah, kita harus mencari bantuan medis.
Jika kita atau seseorang yang kita rawat berada dalam kondisi mengerikan --seperti napas pendek, kurang responsif, pucat atau punya tekanan darah rendah-- segera berkonsultasi pada dokter.
Demikian kata Amesh Adalja, seorang ahli penyakit menular di Johns Hopkins Center for Health Security.
Jika kita memutuskan untuk mendatangi ruang gawat darurat atau bertemu dokter, pastikan menelepon terlebih dahulu, sehingga mereka dapat siap melindungi pasien lain ketika kita tiba.
Baca: Rumah Mewah Senilai 60 M Digadai Sang Anak Cuma 3 M untuk Foya-foya, Orangtua Lapor Polisi
Baca: Meski Cerdas, Anak ABG yang Bunuh Bocah 5 Tahun Rupanya Sering Siksa Binatang: Tusuk Katak Hidup
Guna mencegah sakit, Centers for Disease Control and Prevention menyarankan kita menghindari orang-orang yang menunjukkan gejala, tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut, dan cuci tangan secara menyeluruh.
Ini berarti mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya 20 detik.
Jika tidak tersedia, gunakan pembersih tangan berbasis alkohol 60 persen.
Tidak perlu memakai masker jika kita tidak sakit.
Masker digunakan oleh orang yang menunjukkan gejala virus corona untuk membantu mencegah penyebaran penyakit ke orang lain.