Seorang ibu terbukti bersalah menyiksa anaknya yang berumur 11 tahun hanya karena anaknya menelepon untuk tanya kapan pulang.
Saat disiksa, sang anak dengan ketakutan merekam dirinya sendiri oleh ibunya yang sedang mabuk.
Gadis yang tak dapat disebutkan namanya ini menggunakan iPad lalu merekam kondisi dirinya setelah sang ibu memarahi dan memukulnya.
Ia dianggap mengganggu 'waktu malam' sang ibu bersama teman-teman bermainnya.
Bocah yang masih bersekolah ini ditinggal sendirian di rumah bersama adik perempuannya.
Sementara sang ibu, yang juga tak dapat disebutkan namanya ini pergi bermain hingga dini hari bersama teman-temannya.
Sang ibu, perempuan berusia 35 tahun, dikabarkan sedang mabuk saat memukul anaknya tersebut.
Serangan ibu terhadap anak ini terjadi pada dini hari (6/1/2020) setelah sang ibu pergi dengan teman-temannya pukul 08.00 malam.
Setelah ditangkap polisi, kasusnya terungkap bahwa ibu ini telah menyiksa anaknya tersebut sejak lama, bahkan saat anaknya masih berusia 4 tahun.
Setelah kasusnya digelar pada Maret 2020, ia dijatuhi hukuman oleh pengadilan, seperti dilansir Manchester Evening News, Kamis (5/3/3030).
Baca: Kekerasan Seksual Kembali Terjadi, Seorang Reporter Perempuan Dilecehkan Pria saat Siaran Langsung
Gadis 11 tahun ini ditinggal sendirian bersama adik perempuannya yang masih kecil di sebuah rumah.
Ibu keduanya dilaporkan sedang bermain bersama teman-temannya.
Saat lewat tengah malam, pada pukul 01.00 dini hari, gadis 11 tahun ini menelepon ibunya untuk mencari tahu di mana keberadaannya.
Di telepon, sang ibu mengamuk dan berkata pada putrinya, "Kamu itu telah hancurkan malamku, (nanti) saat aku pulang lebih baik kamu lari".
Mengetahui ada ancaman tersebut, gadis ini kemudian menempatkan iPadnya di sudut tempat agar dapat merekam reaksi ibunya saat kembali ke rumah mereka di Shaw, Oldham, Inggris.
Dalam sebuah rekaman berdurasi 18 menit menunjukkan seorang perempuan dewasa mendorong dan menjepit putrinya ke dinding, mencekiknya hingga tak bisa bernafas.
Terlihat dalam rekaman, sang ibu juga menggunakan sepatu hak tinggi untuk menggarut kaki anaknya.
Selama aksi kekerasan terhadap anak terjadi, ibu muda ini berkata ke anaknya: "Jangan pernah kamu tak nurut aku lagi. Kamu itu tak akan pernah cocok denganku. Apa kamu pikir kamu lebih pintar dari saya? Aku tak akan memperdulikanmu".
Baca: Dewan Pers Didesak Aktifkan Pedoman Khusus Terkait Kekerasan Terhadap Jurnalis
Gadis kecil yang ketakutan ini lalu melarikan diri ke luar rumah.
Ia berlari hanya menggunakan piyama tidur dan tanpa alas kaki, hingga ia bertemu tetangga dekat rumahnya.
Seorang pejalan kaki menemukannya terluka berdarah di bagian hidung dan mulut.
Keduanya kemudian melapor polisi pada malam itu.
Baca: Balita 16 Bulan Kritis, Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Pria Pedofil, Pacar Ibunya
Saat berada di kantor polisi, gadis ini bercerita mengenai perilaku ibunya.
Ia juga mengaku terbantu sekali berkat ada tetangga yang datang menyelamatkannya.
"Aku pikir ibuku tak akan berhenti melakukan itu"katanya.
Sang ibu kemudian dipanggil pihak kepolisian setelah berlangsungnya wawancara dengan anaknya.
Ibu dari anak ini mengakui sering memukul anaknya tiga kali seminggu.
Sambil menangis, sang ibu mengakui perbuatannya saat rekaman tersebut diputar oleh kepolisian sebagai bukti.
Ia mengakui penyerangan dalam rekaman tersebut.
Akibat penyerangan ini, sang anak mengalami cedera di beberapa bagian tubuh.
Pengadilan yang menggelar perkara ini mengemukakan fakta bahwa ibu ini sering melecehkan anak-anaknya.
Pada acara Natal tahun 2018, ia pernah meninggalkan anak-anaknya sendirian di rumah selama berjam-jam, bahkan bermalam-malam.
Jaksa penuntut James Preece mengemukakan, "Pada jam, 1 pagi, gadis tersebut menyadari ibunya belum pulang dan dia menelepon untuk menanyakan kapan dia pulang. Tetapi ketika dia (sang anak) menelepon teman ibunya, ia dengan cepat dijawab oleh sang ibu: -Kamu telah menghancurkan malamku, kamu sebaiknya berlari ketika aku sampai di rumah-
"Gadis itu berpikir saat ibunya pulang, akan memukulnya, sehingga ia mengatur iPad di kamarnya agar dapat merekam video," tutur Jaksa di muka pengadilan.
"Ketika sang ibu datang, ia mabuk berat dan berkata: "Biarkan aku, itu ada kunci di rak".
Akhirnya sang ibu yang sudah terdakwa ini masuk ke rumah dan berkata, "Kamu sebaiknya lari" (memanggil anaknya).
"Kemudian ada insiden (dalam rekaman) yang berlangsung sekitar 18 menit di mana terdakwa berulang kali menyerang putrinya, meneriaki, melemparkan barang-barang kepadanya termasuk bingkai foto, perhiasan, menjambak rambutnya, meninjunya 7 kali, menendangnya dan memukul kaki-betis dan mendorongnya ke dinding.
"Terdakwa memiliki sepatu hak tinggi yang digunakan untuk menggarut kaki putrinya. Ia juga mencekik leher anaknya dan anak tersebut berjuang untuk bernafas, sementara terdakwa berteriak, "rasakan terus sakitnya, kau anak bodoh"
"Terdapat banyak teriakan dalam rekaman dan adik perempuannya terlihat beberapa kali menyaksikan penyerangan tersebut"
"(Serangan) itu berakhir ketika ada teman terdakwa datang. Sementara ibunya terganggu, sang anak mengambil kesempatan itu untuk keluar dari rumah. Terdakwa kemudian mengunci pintu rumahnya, meski anaknya keluar hanya mengenakan piyama dan tanpa alas kaki.
"Dia (sang anak) pergi ke sudut jalan dan dibantu oleh seorang pejalan kaki yang (kemudian) menelepon polisi yang datang dan segera menangkap terdakwa"
Dalam pembelaannya di pengadilan, melalui pengacara David Morton menyebut "Hukuman terbesar yang bisa ia dapatkan adalah saat anak-anaknya diambil darinya"
Kendati saat menyerang anaknya, ia berada di bawah pengaruh alkohol, namun menurut catatan pemakaian alkohol, perempuan ini tercatat jarang mengonsumsi alkohol.
Namun menurut pengacara, perempuan tersebut bukanlah peminum biasa.
Saat ia minum, ia tak tahu kapan harus berhenti.
"Dia sangat menyesali perbuatannya," kata Pengacara
Akibat penyerangan ini, gadis itu menderita memar, pendarahan, dan benjolan di bagian belakang kepalanya ditambah pendarahan dari hidung dan mulutnya.
Terdapat juga bekas luka di lengan dan kakinya, serta tanda merah di lehernya.
Melalui hakim pengadilan, Sophie McKone memberitahu sang ibu: "Anda membuat anak perempuanmu mengalami pelecehan fisik dan emosional, dan Anda benar-benar mengatakan kata-kata kasar padanya"
"Anda mempermalukan, menyerang, dan meninggalkannya, dan puncaknya pada awal Januari, Anda menyerangnya"
"Semua orang dengan akal sehat yang melihat rekaman tersebut akan menyimpulkan bahwa perilaku Anda terhadapnya adalah bentuk kekerasan kejam.
"Ia (anakmu) tentu punya ingatan di masa depan atas apa yang terjadi padanya dan dia juga (mengingat) pernah kabur dari Anda" kata Hakim.
"Semua ini terjadi di hadapan anak Anda yang masih sangat muda yang baru berusia empat tahun saat itu (kajadian pertama).
"Sangat sulit memahami bagaimana bisa Anda berpikir memperlakukan putri Anda dengan cara seperti itu. Dalam pandangan saya, Anda pantas mendapatkan hukuman penjara segera, namun satu-satunya orang yang benar-benar menderita atas kepergian Anda ke penjara adalah putri Anda.
"Saya telah memperhitungkan bahwa itu akan berdampak buruk padanya dan akan membuatnya merasa bersalah (karena anggapan apa yang dilakukan, membuat ibunya dipenjara)
"Orang-orang lain tentu juga berpikir hal yang sama, jika Anda menerima hukuman penjara, ini akan semakin meningkatkan perasaan bersalah putri Anda,"
Berkat kejahatan 'kekerasan terhadap anak' ini, sang ibu dijatuhi hukuman dua tahun penjara dengan masa tunda 24 bulan.
Sang ibu juga dikenakan jam malam selama enam bulan dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi dan diperintahkan untuk menyelesaikan 200 jam kerja tanpa bayaran.