Stop Virus Corona, NBA Minta Pebasket Tidak Lakukan 'Tos' Tangan

Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dua pebasket LA Lakers, Anthony Davis dan LeBron James. Stop Virus Corona, NBA Minta Pebasket Tidak Lakukan 'Tos' Tangan.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Penyebaran virus Corona atau yang bernama Covid-19 semakin luas di seluruh dunia, termasuk di negara adidaya Amerika Serikat

Virus Corona pun membuat event olahraga basket terbesar disana, NBA merekomendasikan 10 hal baru kepada para pebasket yang berkompetisi disana.

Salah satu rekomendasi utama dari otoritas NBA yaitu larangan untuk melakukan aksi tos tangan alias high-five.

Sebelumnya, aksi tos merupakan hal umum yang dilakukan para pemain NBA saat tengah berada di dalam maupun luar lapangan.

Gestur yang melibatkan dua telapak tangan dari dua orang berbeda ini memiliki arti "persetujuan" atau "kekompakan".

Biasanya, seorang pemain NBA akan melakukan tos apabila berhasil melakukan sesuatu yang memberi keuntungan untuk timnya, mulai dari mencetak poin, memblok tembakan lawan, sampai mencuri bola dari lawan.

Baca: Dari Liga 1 hingga Indonesia Open, Inilah Daftar Event Olahraga yang Terancam Imbas Virus Corona

Baca: The Academy akan Berikan Penghormatan untuk Mendiang Kobe Bryant di Piala Oscar 2020

Dua pebasket bintang Los Angeles Lakers, LeBron James dan Anthony Davis, melakukan tos pada laga NBA 2019-2020. (SILVER SCREEN AND ROLL)

Aksi ini biasa dilakukan dengan rekan satu tim atau penonton.

Selain itu, penonton juga acap mendapat kesempatan melakukan tos dengan para pemain saat mereka masuk atau keluar lapangan.

Di luar aksi tos, NBA juga merekomendasikan larangan untuk berfoto bersama, menerima benda seperti pena dan spidol, serta bola dan jersey dari para penonton untuk ditandatangani. 

Menurut otoritas NBA, rekomendasi tersebut dianggap penting karena proses penyebaran virus Corona terjadi melalui kontak atau sentuhan, bukan udara.

"Kami juga melakukan komunikasi reguler satu sama lain, tim-tim NBA, para profesional liga lainnya, dan tentu saja, Anda semua," tulis otoritas NBA pada memonya untuk para tim basket, dilansir dari The Associated Press.

Sejauh ini, para pemain NBA menanggapi rekomendasi tersebut dengan sangat positif.

Baca: Diidolakan Kobe Bryant, AC Milan akan Beri Penghormatan untuk The Black Mamba Saat Lawan Torino

Baca: Meski Tak Pernah Gandeng Kobe Bryant, Klub Ini Pensiunkan Nomor Punggung 24 untuk The Black Mamba

Pemain basket dari Oklahoma City Thunder, Darius Bazley dan Danilo Gallinari (kanan) melakukan high-five atau tos.

Pebasket Miami Heat, Jimmy Butler, mengatakan bahwa dia tidak terlalu cemas karena dilarang melakukan tos untuk sementara.

"Saya tidak memikirkan apapun dari rekomendasi itu. Saya tetap akan menjadi diri saya dan kami (Heat) tetap akan menjadi diri kami," ucap Butler.

NBA memutuskan untuk merilis rekomendasi mereka terkait wabah virus Corona setelah berkonsultasi dengan sejumlah aparat berwenang.

Selain dengan Centers for Disease Control, NBA juga melakukan konsultasi dengan para periset di Columbia University di New York, Amerika Serikat.

Virus Corona di Amerika Serikat

Situs peta sebaran Covid-19 terkini, Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE mendata ada tujuh pasien di Amerika Serikat yang sembuh dari virus corona.

Adapun tujuh pasien tersebut berada di lokasi Cook County (Illinois), Boston (Massachusets), King County (Washington), San Diego County (California), Santa Clara (California) dan Tempe (Arizona).

Tak hanya itu, per Senin (2/3/2020), Amerika melaporkan adanya tambahan empat kematian akibat virus corona di Washington.

Tambahan kasus tersebut menjadikan total korban jiwa di negara tersebut menjadi enam orang. Hal ini juga menjadikan Washington dikhawatirkan sebagai pusat wabah virus corona.

Baca: 2 Orang Warga Depok Positif Terinfeksi Virus Corona, Jokowi: Kita Tidak Perlu Terlalu Ketakutan

Baca: Positif Terinfeksi Virus Corona, Pasien Justru Baru Tahu dari Pengumuman Jokowi

Seorang penumpang AS melambai kepada para wartawan ketika tiba di Bandara Haneda, di Tokyo pada 17 Februari 2020 setelah turun di Yokohama dari kapal pesiar Diamond Princess, tempat orang-orang dikarantina di dalam pesawat karena kekhawatiran akan virus corona COVID-19 yang baru. Orang Amerika mulai meninggalkan kapal pesiar yang dikarantina di Jepang pada 17 Februari 2020, untuk naik ke pesawat sewaan ketika jumlah kasus virus corona baru yang didiagnosis di kapal itu melonjak menjadi 355. Kazuhiro NOGI / AFP (Kazuhiro NOGI / AFP)

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), empat kematian tersebut terdiri dari tiga laporan dari Pejabat Kesehatan dari King county, negara bagian Washington dan satu kematian dilaporkan oleh Snohomish County pada Senin (2/3/2020).

Adapun kematian baru yang diumumkan oleh pejabat kesehatan wilayah tersebut diikuti dengan pembatalan konferensi pers yang dijadwalkan oleh pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Nancy Messonnier.

Tak hanya itu, pihak CDC juga menghapus informasi dari situsnya yang berisi jumlah kumulatif orang yang telah dites untuk menemukan vaksin Covid-19.

Menurut mereka, lansia dan pasien dengan penyakit mendasar lebih memungkinkan untuk tertular virus corona dan menjadikannya masalah yang serius.

Beberapa kasus di negara bagian dapat ditelusuri kembali ke fasilitas perawatan di Kirkland, pinggiran Kota Seattle di King county. AS telah mengonfirmasi secara total terdapat 102 kasus virus corona yang menjangkiti negara tersebut.

Sementara itu, Presiden Donald Trump berulang kali menanyakan kepada para eksekutif farmasi mengenai apakah sebuah vaksin dapat tersedia dalam beberapa bulan terdekat?

Baca: Menkes Belum Mau Ikuti Australia dan Amerika Jemput WNI di Kapal Diamond Princess: Taruhannya Besar

Baca: Bernie Sanders Menang Pemilihan Kaukus di Nevada Amerika Serikat, Jadi Unggulan Partai Demokrat

Penumpang AS melambai kepada para wartawan ketika mereka meninggalkan Daikaku Pier Cruise Terminal di pelabuhan Yokohama, di sebelah kapal pesiar Diamond Princess, dengan orang-orang dikarantina di dalam kapal karena kekhawatiran akan coronavirus COVID-19 yang baru, pada 17 Februari 2020. Orang Amerika mulai meninggalkan sebuah kapal pesiar yang dikarantina dari Jepang pada 17 Februari 2020, untuk naik ke pesawat sewaan ketika jumlah kasus virus corona baru yang didiagnosis pada kapal itu melonjak menjadi 355.Behrouz MEHRI / AFP (Behrouz MEHRI / AFP)

Namun, para eksekutif farmasi menekankan bahwa pengembangan vaksin memerlukan uji coba multi-fase yang memerlukan waktu.

Kemudian, Wakil Presiden AS Mike Pence dan Duta Besar Deborah Birx diperkirakan akan memberikan pengarahan singkat berisi tanggapan pemerintah terkait wabah virus corona.

Sebelumnya, Pence juga telah mengarahkan dan berkoordinasi dengan pejabat lokal dan Gubernur AS dalam menanggapi wabah tersebut.

Terkait pengembangan vaksin, Pence mengaku bahwa AS telah tertinggal dari negara-negara lain dalam pembuatan dan distribusi alat uji virus corona.

Hal itu disampaikannya pada Minggu (1/3/2020).

Pence awalnya mengklaim ada 15.000 kit yang diliris pada akhir pekan dengan rencana untuk mengirimkan 50.000 lebih banyak pada minggu ini. Ia menjelaskan, rilis kit selama akhir pekan akan cukup untuk menguji ribuan pasien.

Baca: Indonesia Keluar dari Daftar Negara Berkembang, Terungkap Maksud Terselubung Amerika Serikat

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah, 17 Februari 1801, Thomas Jefferson Terpilih sebagai Presiden Ketiga Amerika

Penumpang kapal pesiar Diamond Princess, yang dikarantina karena takut akan virus corona COVID-19 yang baru, melihat dari dek kapal yang berlabuh di Daikaku Pier Cruise Terminal di pelabuhan Yokohama pada 16 Februari 2020. Orang Amerika mulai meninggalkan kapal pesiar yang dikarantina dari Jepang pada hari Senin untuk naik ke penerbangan carteran rumah karena jumlah kasus virus corona baru didiagnosis pada kapal melonjak menjadi 355.Behrouz MEHRI / AFP (Behrouz MEHRI / AFP)

Diketahui, CDC sebelumnya mengungkapkan bahwa setiap kit diagnostik dapat menguji 700-800 sampel pasien.

Tetapi, Sekretaris Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan Alex Azar mengatakan, pemerintah dapat memiliki kemampuan untuk menguji sekitar 75.000 orang.

Atas masifnya penyebaran virus corona, Trump telah mencoba mengecilkan risiko penyebaran virus. Sebab, virus ini telah menewaskan lebih dari 3.000 jiwa dan menginfeksi lebih dari 90.000 orang di seluruh dunia.

Dalam data terkini, Kota Wuhan, China masih menempati posisi teratas yang diyakini sebagai pusat penyebaran virus corona.

(Tribunnewswiki.com/Bolasport.com/Ris/Diya Farida)



Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr

Berita Populer