Gelisah Anaknya Tak Kunjung Ditemukan, Suraji Terjun Langsung ke Sungai Sempor: Dek Maafin Bapak Ya

Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suraji (61) dalam prosesi pemakaman sang putri, Yasinta Bunga, siswa SMP N 1 Turi yang ditemukan meninggal dunia lantaran tragedi susur sungai Jumat (21/2/2020) di Sleman, Yogyakarta. Suraji terjun langsung ke Sungai Sempor untuk mencari Yasinta.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Suraji (61) ayahanda siswi SMP N 1 Turi, Yasinta Bunga Maharani terjun langsung dalam pencarian sang putri tunggal yang hilang lantaran hanyut di aliran Sungai Sempor, Turi, Sleman, Yogyakarta.

Peristiwa yang terjadi pada Jumat (21/2/2020) sore tersebut awalnya merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler Pramuka yaitu menyusuri sungai di sekitar lingkungan sekolah.

Nahas, ketika kegiatan berlangsung, banjir menerjang dan menghanyutkan 249 siswa SMP N 1 Turi yang turut dalam kegiatan.

Tim SAR Gabungan melakukan pencarian korban yang hilang saat susur sungai di Sungai Sempor, Sleman, Yogyakarta, Jumat (21/2/2020)(KOMPAS.com/WIJAYA KUSUMA) (KOMPAS.com/WIJAYA KUSUMA)

Gelisah lantaran sang putri tak kunjung ditemukan oleh tim SAR Gabungan, Suraji akhirnya terjun langsung ke Sungai Sempor.

Dikutip dari TribunJogja.com, sejak subuh pada Sabtu (22/2/2020), Suraji menyusuri sungai untuk menemukan Yasinta.

Diceritakan Suraji, dirinya terus mencari Yasinta meskipun tubuhnya terasa kram hingga tak bisa digerakkan.

Beruntung keluarga membantu Suraji untun mencari sang putri semata wayangnya.

“Saya gelisah. Pas habis Subuh, saya langsung ke dekat posko itu. Turun lewat jembatan. Saya nyusur sendiri, sampai saya keram di sana, hampir nggak gerak. Untung ternyata ada keluarga yang ikut juga,” katanya.

Sebelum terjun ke sungai, Suraji sempat bolak-balik menemui korban yang ditemukan oleh tim SAR Gabungan, baik di posko, klinik maupun Puskesmas Turi.

Dirinya berharap satu di antara korban yang ditemukan adalah Yasinta.

“Mulai Jumat sore itu, saya sudah tidak sabar. Saya cari infonya di mana- mana, sekolah saya datang, ke SWA (klinik), posko SAR, Puskesmas, semua lah. Setiap ada kabar ada korban ketemu, saya datang, ternyata bukan anak saya,” terang Suraji.

Namun hingga sekitar pukul 02.00 WIB pada Sabtu, (22/2/2020) Suraji belum mengetahui keberadaan Yasinta.

“Ada lagi korban di Puskesmas, 3 kali saya bolak-balik, terakhir jam 2 malam, katanya ada yang mau dicocokin, ternyata bukan anak saya. Makanya saya turun subuh subuh itu,” lanjutnya.

Hingga akhirnya Suraji memutuskan untuk menyusuri Sungai Sempoh bersama beberapa anggota keluarganya untuk mencari Yasinta.

Baca: Terkait Susur Sungai, Kepala Sekolah SMPN 1 Turi: Jujur Saya Tidak Tahu Ada Kegiatan Itu

Baca: Viral Pembina Pramuka SMPN 1 Turi Beri Jawaban Ini Saat Diingatkan Warga Lakukan Susur Sungai

Yasinta ditemukan meninggal dunia

halat Jenazah Yasinta Bunga, korban Susur Sungai Sempor (TRIBUNJOGJA/istimewa)

Minggu (23/2/2020) pagi jasad Yasinta dan Zahra Imelda akhirnya ditemukan oleh tim SAR di lokasi yang sama.

Yasinta dan Zahra Imelda adalah dua korban terakhir yang berhasil ditemukan dari 10 daftar siswa SMP N 1 Turi hilang terseret arus Sungai Sempor.

Dari informasi yang dihimpun oleh TribunJogja.com, tim gabungan mulai melakukan pencarian terhadap Yasinta dan Zahra pada pukul 05.00 WIB.

Korban pertama ditemukan sekitar pukul 05.00 WIB, sedangkan korban kedua ditemukan pukul 07.15 WIB.

"Posisi kedua jenazah sama waktu ditemukan, kemungkinan awalnya ndelik (sembunyi) di balik fondasi DAM," ucap personel SAR MTA Yogyakarta, Gandung Kusmardana saat ditemui di posko utama di Lembah Sempor.

Lokasi penemuan kedua jasad tersebut berada sekitar 400-700 meter dari tempat kejadian perkara kecelakaan banjir yang menewaskan 10 siswi SMPN 1 Turi pada Jumat (21/2/2020) sore.

Setelah dilakukan evakuasi, jasad Yasinta dan Zahra dibawa ke RS Bhayangkara Yogyakarta untuk identifikasi.

Dengan ditemukannya Yasinta dan Zahra, operasi SAR Gabungan yang melibatkan tim SAR, BPBD, Kepolisian dan relawan pun dinyatakan resmi ditutup pada Minggu (23/2/2020).

Yasinta dimakamkan pada Minggu (23/2/2020) pukul 14.00 di permakaman umum Dadapan Wetan.

Ketika prosesi pemakaman Yasinta berlangsung, sang ayah, Suraji  berusaha tegar.

Namun ketegaran Suraji terlihat goyah ketika melihat peti jenazah putrinya mulai diturunkan ke liang lahat.

Setelahnya Yasinta dikebumikan, Suraji memanjatkan doa, sambil mengusap-usap pusara sang putri.

"Dek, maafin Bapak ya," ucap Suraji lirih.

Sosok Yasinta, anak semata wayang yang telah lama dinanti hadir dalam keluarga Suraji

Suraji Ayah Yasinta Bunga saat pemakaman jenazah Minggu (23/2/2020). ((Tribunjogja.com/Irvan))

Yasinta rupanya merupakan putri yang lama dinanti kelahirannya oleh keluarga Suraji tersebut dikenal dekat dan manja pada orangtuanya.

“Dia itu sekalipun belum pernah saya marahin. Saya sudah tua, untuk punya anak satu saja, sama istri, itu lama sekali. Keluarga bilang, Yasinta itu anak mahal,” katanya lirih.

Tak hanya itu Yasita juga dikenal sebagai satu dari siswa SMP N 1 Turi yang berprestasi yang juga fasih membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

Diceritakan oleh Sutarji, putrinya sempat meminta hadiah ulang tahun pada sang Ayah berupa sepatu baru karena sepatu lama milinya sudah berlubang.

Namun Suraji mengaku belum bisa menuruti kemauan sang putri lantaran belum memiliki uang yang cukup.

“Pas ulang tahun kemarin, Saya belum bisa kasih hadiah, ya dia tanya. Bapak nggak ngasih hadiah ulang tahun?”, ujarnya menirukan anaknya.

“Sekarang belum, nanti ya, jualan baru sepi," kenang Suraji.

Rencananya, Sutarji ingin menempati janjinya membelikan sepatu untuk Yasinta Sabtu (22/2/2020).

“Rencananya besok mau saya ajak beli sepatu untuk hadiah ulang tahun kemarin,” katanya.

Sutarji kemudian menceritakan perjumpaan terakhir dirnya dengan Yasinta.

“Tumben, hari itu dia minta uang jajan dobel sambil merengek ke saya. Tapi bukan dia suka maksa lho, biasa itu manja- manja dia kalau sama saya, sambil ketawa-tawa kok kalau merengek itu, sama Ibunya juga,” kenang Sutarji.

“Pas berangkat, dia pakai jilbab, terus ditutup topi Pramuka. Sudah lama dia nggak pakai anting-anting, dia copotin titip ke ibunya. Sebelah sepatunya bolong bekas terbakar waktu kegiatan minggu lalunya, tapi masih dipakai dulu,” lanjutnya.

Baca: Jadi Tersangka Tragedi Susur Sungai, Guru SMPN 1 Turi Terancam Hukuman 5 Tahun Penjara

Baca: Hamengku Buwono X Tuntut Tanggung Jawab, Kepala Sekolah SMP Turi Tak Tahu Ada Kegiatan Susur Sungai

Baca: Menteri Sosial Janjikan Santunan Rp 15 Juta Pada Keluarga Siswa SMP Turi Korban Tragedi Susur Sungai

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi, TRIBUNJOGJA/Hendy Kurniawan) 



Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer