Informasi awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Filsuf Italia Giordano Bruno dibakar hidup-hidup pada 17 Februari 1600 karena dianggap sesat.
Giordano Bruno masyhur sebagai filsuf, astronom, matematician, dan okultis Italia abad ke-16.
Ide Giordano Bruno yang paling terkenal adalah teori alam semesta tak terbatas dan dunia-dunia yang beragam.
Dalam teori-teori itu, Giordano Bruno menolak teori geosentris dan merangkul teori heliosentris yang menyatakan bumi mengorbit matahari.
Namun, pandangan ini dianggap sesat oleh gereja dan dia akhirnya dihukum mati dengan cara dibakar.
Ketika putusan hukuman mati diberikan, Giordano Bruno berkata pada para hakim, “Mungkin ketakutan kalian dalam memberikan hukuman padaku lebih besar daripada aku sendiri yang menerimanya.”[1]
Baca: Hari Ini Dalam Sejarah, 17 Februari 1801, Thomas Jefferson Terpilih sebagai Presiden Ketiga Amerika
Baca: Hari Ini Dalam Sejarah, 15 Februari 1898, Meledaknya Kapal USS Maine di Havana Kuba, 260 Kru Tewas
Karier awal
Filipo Bruno lahir pada Januari atau Februari 1548 di Nola, sekitar 17 mil di timur laut Naples, sebagai putra dari seorang prajurit bernama Giovanni Bruno dan istrinya, Fraulisaa Savolina.
Pada umur 17 tahun, karena mendedikasikan hidupnya untuk belajar, dia masuk biara Dominika San Domenico di Naples dan menerima nama Giordano.
Dia kemudian menjadi pendeta pada 1572 dan mulai belajar teologi untuk mendapatkan doktoratnya tiga tahun kemudian.
Pada 1575, dia diselidiki oleh Provincial-nya karena pandangan-pandangannya pada Trinitas.[1]
Bruno dengan bebas mendiskusikan ajaran Arius yang menolak keilahian Kristus.
Hal ini memaksanya lari ke Roma pada Februari 1576.
Ketika komentar-komentar Erasmus yang terlarang ditemukan di Naples, dengan catatan kaki oleh Bruno, dia lari lagi pada 1576.
Bruno meninggalkan Ordo Dominikan, dan setelah berkelana di Italia pada 1576, dia pergi ke Jenewa dan bekerja sebagai proofreader atau korektor.
Dia memutuskan memeluk Calvinisme, tetapi kemudian sadar bahwa gereja Reformer juga sama intolerannya dengan Katolik.
Setelah ditahan, diekskomunikasi, dan direhabilitasi, dia akhirnya diizinkan meninggalkan kota dan pindah ke Prancis.
Pada 1581, Bruno hidup di Paris, menjadi tempat nyaman untuk bekerja dan mengajar.
Di Paris yang toleran, Bruno mendapat perlindungan dari raja Prancis yang menunjuknya sebagai lecteurs royaux.[2]
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Pembantaian Hari Valentine, 7 Anggota Geng North Side Dibunuh di Garasi
Baca: Hari Ini Dalam Sejarah, 13 Februari 1542, Dituduh Selingkuh, Ratu Catherine Howard Dihukum Pancung
Karya dan penentangan
Pada 1583, Bruno pindah ke London, kemudian ke Oxford, tempat dia menyajikan kuliahnya tentang teori Kopernikus yang menyatakan matahari sebagai pusat dunia.
Namun, ide-idenya tidak disukai di sana dan dia memutuskan kembali ke London, tempat dia menjadi familiar dengan tokoh-tokoh besar di istana Elizabeth I.
Ketika di London, dia juga menulis sejumlah karya satire, dan juga bukunya pada 1584 yang berjudul Infinito, universo e mondi atau Mengenai Ketidakberbatasan , Alam Semesta, dan Dunia.
Buku ini menyerang pandangan Aristotelian tentang dunia dan dibangun atas karya-karya filsuf Muslim Ibnu Rusyd.
Bruno membela Kopernikus dan padangannya tentang matahari sebagai pusat dunia.
Dia kemudian berpendapat bahwa “alam semesta tidak terbatas, berisi dunia dengan jumlah tak terhingga, dan semuanta dihuni oleh makhluk-makhluk cerdas.”
Bruno meneruskan perlawatannya, menulis dan memberi kuliah di Inggris dan Jerman sampai 1591.
Pada waktu itu, dia membangkitkan minat para sarjana setempat, dan juga membuat mereka marah.
Bruno diekskomunikasi di Helmstedt dan meminta untuk pergi dari Frankfurt am Main, kemudian tinggal di biara Carmelite.[3]
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Ibu Kota India (British Raj) Resmi Berpindah dari Calcutta ke New Delhi
Baca: Hari Ini Dalam Sejarah, 12 Februari 1912, Kaisar Terakhir China Hsian-Tung atau Pu Yi Turun Tahta
Dibakar hidup-hidup
Pada 1591, ketika berada di Frankfurt, Bruno diundang ke Venice oleh seorang bangsawan bernama Giovanni Mocenigo yang ingin diajarkan seni ingatan.
Dia juga mendengar bahwa kursi matematika di Universitas Padua juga sedang kosong.
Selain itu, Republik Venesia pada waktu itu juga menjadi negara paling liberal di Semenanjung Italia, sehingga dia memutuskan pergi ke sanam.
Setahun setelahnya, dia pindah ke Venice untuk mengajar Mocenigo.
Namun, Mocenigo tidak puas dengan kuliahnya Bruno dan mulai membencinya.
Morciego kemudian melaporkannya pada Inkuisisi Venesia, dan Bruno pun ditahan pada 22 Mei 1592.
Berdasarkan laporan Morciego, Bruno menerima berbagai tuduhan pengkhianatan dan kesesatan.
Bruno membela dirinya dengan baik, menekankan sifat filsafatnya dan mengakui dirinya memiliki keraguan pada dogma dalam beberapa hal.
Namun, pihak berwenang Venesia kemudian mengirim Bruno ke Roma.
Brunoi ditahan dan menjalani masa sidang selama tujuh tahun.
Tuduhan sesat ditujukan padanya berdasarkan buku yang ditulisnya dan kesaksian-kesaksian.
Dia membela seperti saat di Venice, menegaskan dirinya menerima pengajaran dogmatis gereja, tetapi juga mencoba mempertahankan dasar filsafatnya.
Pada 20 Januari 1600, Paus Clement VIII menyatakan Bruno sesat dan Inkuisisi memberikan hukuman mati.
Sebulan kemudian, tepatnya pada 17 Februari di alun-alun Campo de’ Fiori, dia digantung terbalik secara telanjang.
Dia dieksekusi dengan cara dibakar di tiang pancang dan abunya dibuang di Sungai Tiber.
Semua karyanya dimasukkan di index buku terlarang pada 1603.
Setelah meninggal, Bruno menjadi terkenal dan dipuja pada abad ke-19 dan awal ke-20 sebagai martir ilmu pengetahuan.[4]