Melansir CNN, sejak saat itu, Chen menghilang dan tidak dapat dihubungi oleh teman dan keluarganya.
Tiga hari kemudian, pihak keluarga baru mengetahui keberadaan Chen setelah polisi memberitahu mereka bahwa Chen dikarantina pada Minggu (9/2/2020).
Kabar itu pun langsung direspon oleh warganet Weibo, platform media sosial di China, dan mendesak pihak kepolisian untuk segera membebaskannya.
"Semoga pemerintah dapat memperlakukan Chen Qiushi dengan adil. Kita tak bisa lagi membeli Li Wenliang kedua," tulis salah seorang warganet.
Baca: Ahli dari Harvard Sebut Pemerintah Indonesia Tak Bisa Deteksi Virus Corona, Kemenkes Langsung Bantah
Dikutip dari Kompas.com, sebelumnya, warga China dihebohkan dengan kematian Li Wenliang, dokter mata di Wuhan yang telah memperingatkan bahaya virus corona, sebelum virus itu merebak.
Alih-alih didengarkan, Li justru ditahan oleh kepolisian karena dianggap telah menyebarkan desas-desus.
Kematian Li pun memicu kemarahan publik China dan menyerukan agar pemerintah meminta maaf secara resmi.
Ditahan atas nama karantina Pada 24 Januari 2020, atau sehari setelah kota itu dikunci, Chen tiba di Wuhan.
Jurnalis warga berusia 34 tahun itu mengunjungi banyak rumah sakit, kamar jenazah dan ruang isolasi kemudian mengunggah video hasil laporannya itu ke media online.
Teman-teman Chen mengatakan, mereka selalu menghubunginya untuk memastikan bahwa Chen tidak dibawa oleh pihak berwenang.
Namun, pada Kamis (6/2/2020) malam Chen tidak menjawab telepon mereka. Sehari kemudian, mereka mengunggah video pesan ibu Chen di halaman Twitter-nya yang mengatakan bahwa putranya telah hilang.
"Saya di sini memohon kepada semua secara online, terutama teman-teman di Wuhan untuk membantu menemukan Chen dan mencari tahu apa yang terjadi padanya," kata Ibu Chen.
Beberapa jam kemudian, petugas kemanan publik Qingdao, Provinsi Shandong memberitahu orang tua Chen bahwa putranya telah ditahan atas nama karantina.
Namun, petugas itu menolak memberitahu keberadaan Chen saat ini.
Baca: Korea Utara Disebut Tutupi Kasus Virus Corona, Mayat Dibuang, Dokter Bocorkan Kondisi Terkini
Kerap dibungkam Bukan kali ini saja Chen dibungkam oleh pihak berwenang.
Saat melaporkan aksi protes di Hong Kong pada Agustus 2019 lalu, Chen tiba-tiba dipanggil ke Beijing oleh otoritas China.
Dalam siarannya di Weibo, Chen menentang narasi China yang menyebut pengunjuk rasa di Hong Kong sebagai perusuh dan separatis.
Chen juga berulang kali dipanggil oleh sejumlah departemen pemerintah untuk diinterogasi.
Tak hanya itu, semua akun media sosialnya pun kemudian dihapus. Semenjak saat itu, ia banyak menunjukkan diri ke publik.
Akan tetapi, ia kembali pada awal Oktober dalam sebuah video yang diunggahnya di YouTube dan bersumpah untuk terus berbicara.
"Karena kebebasan berbicara adalah hak dasar warga negara yang ditulis dalam pasal 35 UU China.
Saya perlu bertahan karena saya pikir ini adalah hal benar untuk dilakukan, tak peduli berapa banyak tekanan dan hambatan yang saya temui," kata Chen dalam unggahan videonya itu.
Pada malam tahun baru Imlek, alih-alih berkumpul dengan keluarganya, Chen justru pergi ke Wuhan.
Sejak saat itu, ia menjadi mata bagi banyak orang luar yang ingin mengikuti situasi nyata di Wuhan.
Beragam potret pasien virus corona di banyak rumah sakit ia tampilkan dalam videonya.
Chen hanya memiliki masker dan sepasang kacamata untuk perlindungan dirinya.
"Saya takut, saya berhadapan dengan virus corona di depan saya dan penegak hukum China di belakang saya," kata Chen dalam video yang direkam pada 30 Januari 2020.
"Tapi saya akan tetap semangat. Selama masih hidup, saya akan melanjutkan laporan di kota ini. Saya tak takut mati," sambungnya.
Baca: Dokter Li Wenliang Meninggal Karena Corona, Ternyata Sang Istri Akan Melahirkan Pada Bulan Juni
Baca: Dokter yang Tangani Virus Corona Meninggal, Warga China Tuntut Permintaan Maaf Pemerintah Wuhan