Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Klenteng Agung Sam Poo Kong berlokasi di Jalan Simongan No.129, Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Klenteng ini merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok bernama Zheng He (Cheng Ho).
Klenteng ini berwujud bangunan tua yang masih terawat dengan baik dan menjadi objek wisata andalan Kota Semarang.
Pengunjung klenteng ini bisa menikmati bagaimana sejarah Laksamana Ceng Ho, seorang pelaut asal Tiongkok.
Sebelum menjadi Klenteng Sam Poo Kong nama objek wisata ini adalah Gedung batu. (3)
Baca: 6 Rekomendasi Tempat Wisata Liburan Akhir Tahun di Korea Selatan, Turis Indonesia Bebas Visa!
Baca: Lumpia Semarang
Sejarah
Dalam dialek Hokkian, Sam Poo Kong atau San Bao Dong (Mandarin) artinya adalah gua San Bao.
Penamaan Klenteng Sam Poo Kong dilatarbelakangi oleh kelahiran Laksamana Zheng He (Cheng Ho) yang kemudian diberi nama Ma San Bao.
Inilah mengapa Klenteng atau tempat petilasan untuk Zheng He ini diberi nama Sam Poo Kong.
Laksamana Zheng He pertama kali berlayar ke Pulau Jawa pada tahun 1406.
Asal mula Klenteng Agung Sam Poo Kong dimulai ketika armada pelayaran Zheng He merapat ke Pantai Simongan, Semarang pada tahun 1416.
Zheng He mendarat di Semarang karena juru mudinya, Wang Jing Hong sakit keras.
Akhirnya sebuah gua batu dijadikan sebgaai tempat beristirahat oleh Zheng He sambil mengobati Wang Jing Hong.
Sementara juru mudinya menyembuhkan diri, Zheng He melanjutkan pelayaran ke timur untuk menuntaskan misi perdamaian dan perdagangan keramik serta rempah-rempah.
Selama di Simongan, Wang memimpin anak buahnya menggarap lahan, membangun rumah, dan bergaul dengan penduduk setempat.
Lingkungan sekitar Gua menjadi berkembang dan makmur karena aktivitas dagang maupun pertanian.
Demi menghormati pimpinannya, Wang mendirikan patung Zheng He pada tahun 1417 di gua batu tersebut untuk dihormati dan dikenang masyarakat sekitar.
Inilah awal mula dibangunnya Klenteng Sam Poo Kong di Semarang.
Wang meninggal pada usia 87 tahun dan dimakamkan di sekitar Klenteng Sam Poo Kong.
Sejak itu masyarakat menyebutnya sebagai Makam Kyai Juru Mudi.
Ketika gua batu runtuh akibat hujan badai yang menjadikannya longsor, pada tahun 1704, masyarakat membangun gua buatan yang letaknya bersebelahan dengan Makam Kyai Juru Mudi.
Akhirnya pada tahun 1965 Yayasan Sam Poo Kong didirikan oleh Thio Siong Thouw.
Dalam perjalanannya, Klenteng Agung Sam Poo Kong sudah beberapa kali mengalami pemugaran.
Selain karena situasi politik yang tidak menentu pasca kemerdekaan, banjir juga merupakan masalah utama yang dihadapi Klenteng Agung Sam Poo Kong.
Revitalisasi besar-besaran dilakukan oleh Yayasan Sam Poo Kong pada Januari 2002.
Pemugaran selesai pada Agustus 2005, bersamaan dengan perayaan 600 tahun kedatangan Laksamana Zheng He di pulau Jawa.
Peresmian dihadiri oleh Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. (1)
Baca: Pasar Beringharjo Yogyakarta
Baca: Candi Penataran
Daftar Bangunan
Di dalam satu klenteng, selain dewa tuan rumah pasti ada Dewa Bumi.
Umat biasanya berdoa kepada Tian (Tuhan / langit) lalu kepada Tei (dewa bumi).
Dewa Bumi atau Hok Tek Ceng Sin merupakan dewa rezeki dan berkah.
Awalnya umat berdoa kepada Dewa Bumi untuk meminta kesuburan tanah, hasil panen yang berlimpah dan bebas hama.
Tapi tidak menutup kemungkinan, umat juga bisa meminta kesehatan, keselamatan, dagangan laris, hidup damai dan makmur kepada Dewa Bumi.
Dewa Bumi memiliki pengawal berupa macan hitam yang namanya Houw Ciang Kun.
Di depan tempat Dewa Bumi, ada penjaga pintu yang bernama Ue Tek Kiong dan Sie Siok Po Kelahiran Hok Tek Ceng Sin dirayakan setiap tanggal 2 bulan 2 kalender Tionghoa.
Sementara setiap tanggal 15 bulan 8 kalendar Tionghoa dirayakan sebagai hari ucapan terima kasih untuk Hok Tek Ceng Sin. Umat akan memberikan kue rembulan sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang berlimpah dan rezeki sepanjang tahun kemarin.
Nahkoda armada Zheng He yang bernama Ong Keng Hong / Wang Jing Hong saat datang ke Pulau Jawa untuk kedua kalinya mendadak jatuh sakit.
Dikarenakan sakit keras, ia tidak bisa melanjutkan perjalanan dan harus beristirahat di Semarang untuk mendapat pengobatan.
Setelah sembuh, Wang memilih untuk tetap tinggal di Simongan dan bergaul dengan penduduk setempat.
Ia menggarap lahan dan membangun rumah. Berkat jerih payahnya, lingkungan sekitar gua jadi berkembang dan makmur.
Wang Jing Hong meninggal pada usia 87 tahun dan dimakamkan di samping gua Sam Poo Kong.
Makam tersebut dikenal dengan sebutan Makam Kyai Juru Mudi.
Sejak itu penduduk kota Semarang dan sekitarnya sering datang ke sini untuk berziarah atau berdoa meminta berkah.
Khususnya setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon.
Di sinilah tempat utama bagi umat yang ingin sembahyang pada Sam Poo Kong.
Dinding luar gedung dihiasi oleh relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksamana Zheng He selama kurang lebih 30 tahun di abad ke-15.
Bebatuan yang digunakan untuk relief ini berasal dari Tiongkok.
Sementara ukirannya dikerjakan oleh seniman Bali.
Di dalamnya barulah ada tempat sembahyang.
Ada dua patung kecil yang menjadi simbol kedatangan Zheng He ke Semarang.
Patung pertama berwajah hitam terbuat dari kayu cendana, melambangkan kedatangan pertama Zheng He pada tahun 1406.
Saat itu ia masih muda, sekitar 30 – 40 tahun.
Patung kedua berwajah merah terbuat dari porselen, melambangkan kedatangan kedua Zheng He pada tahun 1416.
Wajahnya sudah lebih tua.
Di kiri kanannya ada patung tay jiang atau pengawal pribadi Zheng He.
Namanya, Tio Kee dan Lauw Im. Patungnya terbuat dari kayu cendana juga.
Sementara itu ada satu patung besar Sam Poo Kong di tengah-tengah.
Bahannya terbuat dari emas dan perunggu.
Patung besar ini hanya sekedar simbol.
Namun yang memiliki nilai penting justru kedua patung kecil tersebut.
Di dalam Gedung Batu ini juga ada sumur berisi mata air.
Sumur ini sendiri sebenarnya merupakan peninggalan Oey Tiong Ham.
Air ini dianggap suci dan kerap dimanfaatkan oleh umat maupun pengunjung yang ingin minta rezeki dalam berdagang, bertani, kesembuhan dari sakit, air siraman supaya pernikahannya lancar dan langgeng.
Air ini tidak boleh digunakan untuk sumpah, perceraian atau air minum.
Umat dan pengunjung diperbolehkan mengambil air dari sumur dengan asistensi Bio Kong.
Sebelumnya umat dan pengunjung harus menjelaskan keperluannya terlebih dulu agar air tersebut dapat didoakan oleh Bio Kong.
Di gedung ini ada tiga tempat pemujaan sekaligus. Paling kiri ada Makam Kyai Djangkar.
Dinamakan seperti itu karena di sinilah letak jangkar sekoci yang jatuh ketika armada Zheng He pertama datang ke Pulau Jawa.
Jangkar sekoci ini pertama kali ditemukan di Kali Kuping.
Sedangkan jangkar kapal utama jatuh di Rembang.
Banyak orang yang datang ke Makam Kyai Djangkar untuk meminta berkah baik untuk usaha maupun kerja.
Di tengah, ada tempat pemujaan untuk pendiri agama Kong Hu Cu.
Posisinya mengambil porsi paling besar.
Kemudian di sisi paling kanan ada Rumah Arwah Hoo Ping.
Arwah Hoo Ping adalah arwah orang meninggal yang tidak dirawat oleh keluarganya.
Mereka ditampung di sini untuk didoakan.
Arwah Hoo Ping diperingati tiga kali dalam setahun: sehari sebelum Imlek, saat Ceng Beng dan saat upacara Ulambama (Jit Gwee).
Dulunya, area ini dijadikan tempat penyimpanan dan perawatan pusaka.
Di sini juga merupakan tempat goa lama berada sebelum dipindahkan karena longsor.
Sekarang di sini hanya menjadi simbolisasi saja.
Sudah tidak ada lagi pusaka yang tersisa di sini.
Mendongaklah ke atas dan lihat keunikan pohon yang satu ini.
Bentuk dahannya menyerupai rantai atau tambang kapal.
Anda mungkin tidak akan menemukan fenomena alam unik seperti ini di tempat lain.
Kyai Nyai Tumpeng adalah juru masak Zheng He.
Nama aslinya Han Li Bao, putri dari Tiongkok yang diboyong oleh Zheng He untuk membantu memasak di kapal.
Dulunya ini tanah biasa.
Sampai ketika ada seorang suhu yang datang untuk sembahyang dan kerasukan.
Ia menyebut-nyebut “Tumpeng! Tumpeng!”.
Maka yayasan membuatkan tempat ini sebagai penghormatan terhadap Han Li Bao.
Baca: Dunia Fantasi Ancol
Baca: Saloka Theme Park
Tiket
Harga tiket masuk Klenteng Sam Poo Kong ini cukup murah, hanya dengan Rp 8.000 untuk tiket umum.
Namun, jika ingin menjelajah seluruh kawasan klenteng, maka pengunjung akan dikenakan tarif tiket terusan sebesar Rp 28.000.
Sementara, untuk biaya parkir untuk kunjungan Klenteng Sam Poo Kong, jika pengunjung membawa kendaraan roda dua dikenakan biaya Rp 5.000 dan roda empat Rp 10.000.
Jam operasional Klenteng Sam Poo Kong adalah pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. (3)