Karantina WNI di Natuna Menuai Penolakan, Anggota Komisi I DPR RI: Sudah Sesuai Protokol WHO

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pesawat Batik Air yang digunakan pemerintah untuk mengevakuasi WNI dari Wuhan.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemerintah Indonesia resmi mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Wuhan, Hubei, Cina.

Diberitakan Tribunnews.com, pesawat Batik Air tipe Air Bus A330-300 yang mengangkut 42 anggota tim evakuasi WNI telah tiba di Bandara Internasional Tianhe Wuhan, di Distrik Huangpi, 26 kilometer arah utara dari pusat Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, Sabtu (1/2/2020) malam.

Pesawat yang mengemban misi kemanusiaan ini terbang pukul 13.00 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta dan tiba di Bandara setempat pukul 19.00 WIB.

"Pesawat sudah mendarat di Tianhe Wuhan pukul 19.00 waktu setempat. Pesawat terbang tanpa henti dan tanpa transit menuju Wuhan," kata Corporate Communications Strategic of Batik Air Danang Mandala Prihantoro saat dikonfirmasi, Sabtu (1/2/2020) malam.

Baca: Deretan Negara yang Melarang Turis China Masuk untuk Cegah Penyebaran Virus Corona

Baca: Renggut 200 Juta Jiwa dan Tularkan Seluruh Dunia, Wabah Penyakit Ini Lebih Ngeri dari Virus Corona

ILUSTRASI Pesawat Batik Air - Pesawat Batik Air yang kembali ke bandara asal setelah terbang, karena sang pilot diduga tidak sadarkan diri (Ryan Nong/Pos Kupang)

Tim tersebut terdiri atas 42 anggota yang berasal dari jajaran Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, TNI dan 9 orang kru pesawat Batik Air. Wuhan dijadikan lokasi titik kumpul pengangkutan.

Setibanya di Indonesia, WNI yang dievakuasi akan terlebih dulu dikarantina atau diobservasi di Natuna.

Pemerintah telah menetapkan hanggar Lanud Raden Sadjad di Natuna sebagai tempat observasi WNI yang dievakuasi dari Wuhan.

Terkait hal ini, Tokoh Pemuda Natuna, Haryadi menyatakan masyarakat menolak adanya karantina WNI dari Wuhan.

Adanya penetapan ini menuai penolakan dari warga Natuna karena khawatir akan berdampak pada menyebarnya virus corona.

Dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam yang diunggah di kanal YouTube Talk Show TVOne, Sabtu (1/2/2020), Haryadi menjelaskan mengapa masyarakat menolak karantina dilakukan di Natuna.

"Kita menolaknya karena dengan alasan yang sangat jelas sekali bagi kita untuk menolaknya," ujar Haryadi.

Alasan yang pertama menurut Haryadi, tidak ada sosialisasi yang dilakukan pemerintah pusat terhadap masyarakat di Natuna soal karantina ini.

"Tiba-tiba datang dan mengejutkan masyarakat, wabah corona ini sudah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi masyarakat."

"Tiba-tiba datang begitu saja untuk karantina di Natuna, masyarakat jadi terkejut. Otomatis masyarakat kita ketakutan dan menolaknya," ungkapnya.

Haryadi yuga meluruskan pernyataan yang menyebut jarak Bandara TNI Angkatan Udara Lanud Raden Sadjad ini jauh dari pemukiman masyarakat.

Baca: Dettol Antiseptik Disebut Dapat Membunuh Virus Corona, Hoax? CEK FAKTANYA DI SINI!

Baca: WNI yang Dievakuasi dari Cina, Akan Dikarantina di Batam atau Natuna, Bukan di Jakarta

Youtube KompasTV/Tangkapan Layar Pemerintah menetapkan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), sebagai tempat isolasi WNI dari Wuhan, China terkait dengan penyebaran virus corona. (Youtube KompasTV/Tangkapan Layar)

"Perlu diketahui oleh kita semua, bahwa ini jaraknya sangat dekat."

"Kampung Tua Penagih itu tidak sampai dua kilometer jaraknya dengan Lanud Raden Sadjad, dengan tempat yang digunakan untuk karantina itu."

"Maka dari itu kita menolak karantina itu dilaksanakan di Natuna," tegasnya.

Di sisi lain, Anggota Komisi I DPR RI Christina Aryani mengatakan bahwa pemilihan pulau Natuna sebagi tempat transit sudah tepat.

Hal itu sesuai dengan protokol yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO.

"Terkait dipilihnya Natuna sebagai tempat transit observasi oleh pemerintah tentu kami lihat sudah melalui proses kajian mendalam sesuai standar yang ditentukan dalam hal ini oleh WHO. Transit observation merupakan protokol evakuasi dari organisasi kesehatan dunia, WHO," ujar Christina saat dihubungi, Sabtu, (1/2/2020).

Menurut Aryani masyarakat di Pulau Natuna tidak perlu khawatir dengan kedatangan 250 WNI dari kota yang terpapar virus Corona itu.

Ia yakin pemerintah akan melakukan langkah yang tepat dan sesuai prosedur terhadap para WNI tersebut.

"Masyarakat perlu disampaikan juga bahwa yang dievakuasi ini adalah WNI yang semuanya sehat," katanya.

Menurut politikus Golkar itu akan terus memantau seluruh proses evakuasi dan penanganan WNI yang kembali dari Wuhan agar tetap berjalan sesuai dengan prosedur.

Ia berharap proses evakuasi dapat berjalan lancar dan para WNI yang pulang dari China dapat kembali ke keluarganya masing-masing.

"Evakuasi adalah harapan dari warga yang selama ini ada di sana termasuk keluarga mereka yang ada di tanah air. Maka tentu saja kita sama-sama berharap agar proses ini berjalan lancar selama keberangkatan sampai tiba di tanah air, baik melalui tempat transit di Batam, maupun saat tiba di tempat observasi di Kepulauan Natuna hingga kembali ke keluarga masing-masing," pungkasnya.

Rapat kerja Joko Widodo dengan beberapa menteri dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana di ruang tunggu Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, (30/1/2020). Jokowi memutuskan untuk segera melakukan evakuasi WNI yang berada di Provinsi Hubei, China. Dari pertemuan terbatas ini, saya memutuskan untuk segera mengevakuasi WNI yang berada di Provinsi Hubei, Tiongkok. (Twitter/Joko Widodo)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin) (Tribunnews.com/Danang Triatmojo/Taufik Ismail)



Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi

Berita Populer