Dilansir oleh BBC, orang tersebut telah ditahan oleh militer dan diperkirakan akan didakwa terkait keamanan nasional.
Penangkapan tersebut dilakukan menyusul dua rekaman yang memperlihatkan kecelakaan pesawat Ukraina Boeing 737 itu tersebar di media sosial.
Dalam video tersebut memperlihatkan pesawat Ukraine International Airlines itu dihantam oleh dua misil.
Dalam rekaman yang diverifikasi oleh New York Times, Iran menembakkan rudal pertama yang diyakini menghancurkan transponder mereka.
Kemudian rudal kedua yang diluncurkan beberapa detik kemudian menjatuhkan mereka sesaat setelah lepas landas dari Bandara Imam Khomeini, Teheran.
Baca: Pesawat Ukraina yang Membawa 180 Penumpang Jatuh di Dekat Teheran, Presiden Iran Singgung Lockerbie
Baca: Iran Bantah Tembak Jatuh Pesawat Boeing 737 Ukraina, Serang Balik Sejumlah Negara Barat
Dikutip Kompas.com dari Fars, pasukan Garda Revolusi menyatakan mereka sudah menahan orang yang mengunggah video tersebut pekan lalu.
Meski begitu, dilansir oleh FoxNews, Nariman Gharib yang merupakan jurnalis Iran di Inggris mengatakan jika apa yang diungkapkan Iran tidak benar.
Gharib juga memastikan jika Iran menahan orang yang palsu.
"Orang yang menjadi sumber video itu AMAN dan saya dapat meyakinkan Anda bahwa Garda Revolusi Iran (militer Iran) membuat kebohongan baru. Mereka (Iran) membunuh 176 penumpang pesawat komersial Ukraina, itu lah kisah nyata," tulis Gharib dalam akun Twitternya @NarimanGharib.
Dilansir oleh Kompas.com, orang yang mengunggah video tersebut adalah seorang warga Iran bernama Javad.
Javad mendapatkan video tersebut dari temannya yang kini dilaporkan telah bersembunyi.
Dikutip BuzzFeed News Rabu (15/1/2020), temannya itu mengirimkan rekaman kamera CCTV setelah menyadari bakal membawa dampak signifikan.
Adapun identitas asli maupun nama keluarga Javad dan identitas temannya itu tidak disebutkan demi alasan keamanan.
Javad mengatakan, baik dia maupun temannya tidak tahu dampak seperti apa yang mereka terima ketika mengunggahnya.
Baca: Iran Vs AS Memanas, Korea Selatan Dihadapkan Pilihan Sulit untuk Kirim Angkatan Laut ke Selat Hormuz
Baca: Teka-teki Jatuhnya Boeing 737 di Iran, Tak Ada Panggilan Darurat tapi Berusaha Kembali Ke Bandara
"Saya tidak memikirkan dampaknya bahwa video itu bakal memberikan perubahan pada segalanya," ujar Javad yang masih punya sumber aslinya.
Begitu dia menampilkannya di YouTube, video itu lantas menjadi viral, dan kemudian diverifikasi serta ditulis oleh New York Times.
Berita penangkapan seorang pria yang memfilmkan video rudal pertama datang sekitar waktu yang sama ketika video yang diunggah Javad menjadi viral.
Javad mengatakan, berita penangkapan tersebut mendorong temannya untuk langsung menghapus video tersebut dan bersembunyi.
"Sekarang dia telah menghapus akunnya dan tidak ingin ditampilkan, karena alasan keamanan," kata Javad kepada Buzzfeed News.
Javad mengaku dia sangat ketakutan.
Namun, dia tidak berniat untuk untuk menghapus video tersebut, atau menghilangkan akunnya.
Dia menuturkan, ada kemungkinan dia bakal ditangkap atau dipaksa untuk membuat pernyataan palsu. Namun, dia menegaskan tak peduli.
"Saya siap untuk menanggung semuanya sepanjang saya mampu. Saya sudah bersiap. Tuhan berkehendak tidak akan sia-sia," tegasnya.
Sebelumnya, pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan 752 jatuh di Teheran pada (8/1/2020), dan menyebabkan 176 orang tewas.
Baca: Konflik AS-Iran Kian Memanas, Apa Dampaknya Bagi Perkekonomian Indonesia?
Baca: Selat Hormuz
Insiden itu terjadi setelah Iran menyerang dua pangkalan AS dan sekutunya di Irak, sebagai balasan atas terbunuhnya jenderal Qasem Soleimani.
Kanada maupun AS sama-sama menyatakan, pesawat Ukraina Boeing 737 itu jatuh dan menewaskan 176 orang setelah ditembak rudal Iran.
Adapun otoritas Ukraina menuturkan, dia meyakini misil yang menghantam Ukraine International Airlines adalah sistem pertahanan buatan Rusia.
Iran semula membantah bahwa pesawat Ukraina itu jatuh karena tertembak rudal.
Namun, tak lama pemerintahan Presiden Hassan Rouhani mengaku pesawat itu ditembak jatuh angkatan bersenjata karena kesalahan teknis.
Komandan Divisi Dirgantara Garda Revolusi, Amirali Hajizdeh, menyatakan bertanggung jawab.
Namun dia menyebut operator bertindak mandiri.
Juru bicara komisi yudisial Gholamhossein Esmaili berujar, mereka sudah melakukan penyelidikan atas insiden tersebut.
"Sejumlah orang sudah ditahan," kata Esmaili dalam konferensi pers, sebagaimana diwartakan oleh AFP Selasa (14/1/2020).
Esmaili menerangkan, sepanjang malam komisi yudisial bergerak meneliti dokumen, dan menggelar investigasi di area kecelakaan.
"Kami sudah mendapat beberapa kesimpulan. Namun, kami harus memperlebar semua opsi hingga mendapat kebenarannya," katanya.
Sebelumnya, Presiden Hassan Rouhani dalam pernyataannya di televisi menegaskan agar komisi yudisial membentuk pengadilan khusus.
Pengadilan itu nantinya diisi hakim bereputasi tinggi dan pakar berkualitas untuk mengadili terduga pelaku yang menjatuhkan pesawat Ukraina.
"Siapa pun yang pantas dihukum harus dihukum. Penting bagi publik agar tahu siapa pelakunya. Dunia memperhatikan," tegasnya.