Eks penyerang kelahiran 1 September 1971 ini mengaku tinggal di AS dengan menjual buku dan menjadi sopir taksi online demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dilansir oleh Bolasport.com, setelah pensiun dari sepak bola pada 2008 silam, Sukur lantas terjun ke dunia politik pada 2011.
Dirinya bahkan sempat terpilih sebagai anggota parlemen Turki.
Saat itu, Sukur bergabung bersama Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin Erdogan.
Sukur menuturkan bahwa masalah muncul pada 2013 ketika dirinya memutuskan keluar dari AKP dan berselisih dengan Erdogan.
Baca: Perang Suriah: Erdogan Peringatkan Negara Eropa, Turki Tidak Akan Tampung Gelombang Pengungsi Baru
Baca: Gianluigi Buffon
Kepada media Jerman Welt am Sonntag, dia menuturkan mendapatkan berbagai ancaman sejak memutuskan berpisah dari sang presiden.
"Butik istri saya dilempari batu. Kemudian anak saya mendapatkan pelecehan di jalan," kata pria 48 tahun tersebut.
Pelecehan yang diterima Hakan Sukur dan keluarganya terus berlanjut setelah Hakan keluar dari AKP, di mana dia mengklaim ayahnya sempat dikunci.
Posisi ayah Hakan adalah tahanan rumah setelah dilepaskan dari penjara karena positif menderita kanker.
Demikian juga dengan ibunya.
Puncaknya adalah ketika Sukur dituduh ikut berpartisipasi dalam rencana menggulingkan Erdogan dari kursi presiden pada 2015 silam.
"Tak ada yang tersisa di dunia ini. Erdogan sudah merenggutnya dari saya," kata Hakan sebagaimana dilaporkan Goal.
"Kebebasan saya, hak untuk menyampaikan apa yang saya alami, mengekspresikan diri, maupun hak untuk bekerja," jelasnya.
Baca: Timnya Dikalahkan Barcelona, Pelatih Inter Milan Antonio Conte Luapkan Amarah pada Wasit
Baca: Terbuang dari Inter Milan, Mauro Icardi Janji Beri Segalanya untuk PSG, Buktikan Harga Rp 1 triliun
Meski kini dirinya harus mengasingkan diri dan menjadi sopir taksi online, Sukur merasa dirinya tidak dibenci rakyat negaranya.
Hakan Sukur juga berkata jika dirinya merasa tidak melakukan suatu kesalahan apapun.
"Bisakah mereka menunjukkan kejahatan yang saya lakukan? Tidak. Mereka hanya menyebut saya sebagai 'pengkhianat' dan 'teroris'," keluhnya.
Ketika mengasingkan diri ke AS, dia sempat tinggal di California dan mencoba membuka restoran, namun akhirnya mengurungkan niat tersebut.
Sukur mengklaim sejumlah orang aneh datang ke kafe yang dia kelola, dan memainkan musik Dombra, yang oleh AKP disebut musik sejati Turki.
"Kemudian saya pindah ke Amerika Serikat. Saya sempat buka kafe di California, namun beberapa kali orang mencurigakan menyatroni saya. Sekarang saya jadi pengemudi Uber dan menjual buku-buku," kata Hakan Sukur.
Lebih lanjut, pemain yang pernah membawa Turki di peringkat ketiga Piala Dunia 2002 ini mengatakan jika dirinya mencintai warga Turki.
"Saya mungkin adalah musuh pemerintahan itu. Tapi bukan bangsanya. Saya cinta kepada warga Turki," tutur Hakan Sukur.
Hasan Sukur sendiri merupakan mantan pesepak bola Turki yang pernah memperkuat Galatasaray, Torino, Inter Milan, Parma, dan Blackburn Rovers.
Baca: Romelu Lukaku, Penyerang Inter Milan Menjadi Korban Rasisme Teranyar di Liga Italia
Baca: Luka Modric
Hakan Sukur melejit ketika dirinya bergabung dengan Galatasaray pada 1992-1995.
Ia juga sempat direkrut Torino dalam waktu singkat, hingga kemudian kembali bersama Galatasaray.
Berkat ketajamannya saat membela Galatasaray, Sukur kemudian diboyong Inter Milan pada musim 2000/2001.
Sayangnya, ia gagal menunjukkan performa terbaiknya hingga akhirnya dilepas ke Parma.
Selama kariernya di klub pada selang 1987-2008, Sukur mencetak total 332 gol dalam 709 penampilan.
Sampai saat ini, Sukur memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa buat tim nasional Turki dengan koleksi 51 gol.
Di partai perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2002 melawan Korea Selatan, Hakan Sukur mencetak gol tercepat dalam sejarah turnamen (10,8 detik).
Di sisa kariernya, Sukur memperkuat Blackburn Rovers dan kembali ke Galatasaray yang pernah melejitkan namanya.
Setelah pensiun dari sepak bola pada 2008, pemain berjuluk Benteng Bosphorus ini lantas terjun ke dunia politik pada 2011.