Aktif Kawini 12 Betina dan Hasilkan 800 Keturunan, Kura-kura Diego Selamatkan Spesies dari Kepunahan

Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Diego, penyelamat kepunahan spesies kura-kura darat raksasa Galapagos yang berusia 100 tahun dan menjadi ayah dari 800 lebih keturunannya.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Chelenoidis hoodensis alias kura-kura darat asal Pulau Espanola di Galapagos sebelumnya terancam punah.

Sejak 1970-an, populasi sang kura-kura darat Galapagos tersebut hanya tersisa 14 ekor di Taman Nasional Galapagos.

12 ekor diantaranya betina, dan 2 lainnya jantan.

Hingga akhirnya, Taman Nasional Galapagos memutuskan untuk memulai program penangkaran.

Program tersebut menjadi sukses besar setelah Diego, kura-kura darat Galapagos yang berusia 100 tahun didatangkan dari Kebun Binatang San Diego, Amerika Serikat.

Dkutip dari The Guardian, program perkembangbiakan tersebut telah menghasilkan 2.000 kura-kura.

Menariknya, 40 persen diantaranya atau lebih dari 800 keturunan merupakan anak-anak dari Diego.

Oleh pihak penangkaran, kesuksesan Diego membuatnya memiliki julukan sebagai mesin seks Taman Nasional Galapagos.

Tak hanya itu, dalam sebuah artikel juga disebutkan Diego memiliki nama lain sebagai dewa seks.

Baca: Unik dan Kreatif, Sepeda Motor Ini Bentuknya seperti Kura-kura, Pakai Fender VW Beetle

Baca: Homo Erectus Diperkirakan Punah Karena Malas, Peneliti Temukan Metode Bertahan Hidup Cara Seadanya

Diego sang pahlawan penyelamat kepunahan kura-kura darat Galapagos

Diego, penyelamat kepunahan spesies kura-kura darat raksasa Galapagos yang berusia 100 tahun dan menjadi ayah dari 800 lebih keturunannya. (phys.com)

Diego adalah kura-kura darat Galapagos yang berusia sekitar 100 tahun.

Diego memiliki panjang sekitar 5 kaki atau 1,5 meter, dengan berat 80 kilogram.

Diego awalnya dibawa dari Pulau Espanola untuk keperluan penelitian ilmiah selama 30 tahun di kebun Binatang San Diego.

Sebelumnya program penangkaaran kura-kura darat Galapagos telah dimulai sejak 1965.

Saat itu telah terdapat 12 kura-kura darat Galapagos betina dan 2 pejantan.

Kemudian pada 1976, barulah Diego dibawa ke pusat penangkaran Galapagos.

Kedatangan Diego tersebut kemudian memberi dampak fantastis pada usaha perkembangbiakan alami spesiesnya.

Dikutip dari nytimes.com, Jorge Carrion, direktur Taman Nasional Galapagos, mengatakan dari 15 ekor, program penangkaran sukses menetaskan 2.000 bayi kura kura.

Dikatakan oleh Professor James P. Gibbs, terdapat 3 pejantan dalam program penangkarran.

Yaitu Diego, dan dua kura-kura darat Galapagos yang diberi nama E5 dan E3.

"E5 adalah pejantan karismatik namun pendiam, dan telah menghasilkan keturunan sebanyak 60 persen," kata Gibbs.

"Sedangkan E3 adalah pejantan yang pasif dan hampir tidak mengahsilkan keturunan. Sehingga posisi Diego menjadi sangat penting dalam program ini," lanjutnya.

Dikatakan oleh Gibbs, Diego memang memiliki keunikan sehingga bisa dengan mudah menarik para kura-kura betina.

Gibbs menjelaskan jika Diego memiliki kepribadian yang cukup agresif, aktif, dan vokal.

Sehingga hal tersebut membuat para betina tertarik dengan sang dewa reproduksi tersebut.

Punahnya kura-kura darat Galapagos

Diego, penyelamat kepunahan spesies kura-kura darat raksasa Galapagos yang berusia 100 tahun dan menjadi ayah dari 800 lebih keturunannya. (Taman Nasional Galapagos)

Diungkapkan oleh Gibbs, kepunahan terjadi karena para bajak laut dan nelayan sekitar tahun 1800-an diperboleh memburu sang kura-kura.

Disisi lain populasi kambing hutan yang cukup banyak juga telah merebut makanan kura-kura Galapagos.

Tak hanya itu, habitat kura-kura Galapagos juga banyak ditemukan telah rusak.

Tak hanya menambah populasi kura-kura Galapagos, penangkaran tersebut juga bertujuan untuk menyeimbangkan ekosistem Pulau Espanola.

Termasuk mengembangkan beberapa spesies kaktus sebagai makanan alami kura-kura Galapagos.

Morfologi cangkang kura-kura Galapagos yang unik memungkinkan mereka meraih batang kaktus yang tinggi.

Program penangkaran tersebut merupakan hasil kerjasama Badan Konservasi Galapagos dan Taman Nasional Galapagos.

Pusat penangkaran yang berlokasi di Santa Cruz dulunya adalah tempat dimana Charles Darwin mendirikan pusat penelitian satwa pada 1965 lalu.

Berebekal data yang tersedia sejak 1960 tentang pulau dan populasi kura-kura, para peneliti mengembangkan model matematika dengan proyeksi untuk 100 tahun ke depan.

"Kesimpulannya adalah bahwa pulau ini memiliki kondisi yang cukup untuk mempertahankan populasi kura-kura, yang akan terus tumbuh secara normal. Bahkan tanpa perlu mencari tempat baru untuk keturunan yang baru," ucap  Washington Tapia, direktur Galapagos Giant Tortoise Restoration Initiative.

Baca: Penangkaran Rusa Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur

Baca: Kisah Usaha Penyelamatan Hewan Peliharaan Kucing dan Anjing yang Jadi Korban Banjir

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)



Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer