Hanya Sejengkal dari Indonesia, Inilah Kota Paling Berbahaya di Dunia: Kawat Berduri di Mana-mana

Penulis: Niken Nining Aninsi
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kota Port Moresby, di Papua Nugini diklaim sebagai salah satu kota paling berbahaya di dunia.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kota dengan tingkat kejahatan tertinggi di dunia ternyata tidak jauh dari Indonesia.

Bahkan sangat dekat.

Jarak Indonesia dengan tempat ini bahkan dapat diibaratkan hanya sejengkal saja.

Adalah Port Moresby, kota yang diklaim sebagai kota terbesar di negara itu.

Pengalaman ditulis oleh Taufik Hidayat Kontributor Majalah Intisari yang menceritakan aktivitasnya saat berada di Port Moresby.

"Saya kebetulan menginap di salah satu hotel terbaik di Port Moresby yang berada di kawasan 10 km, berjarak sekitar 5 menit dari bandara," tulis Taufik.

Namun yang membedakan hotel ini dengan hotel-hotel lainnya, ada pada pintu gerbang yang selalu tertutup rapat dengan penjagaan ketat.

Tembok tinggi dan kawat berduri juga mengelilinginya. Pengamanan di hotel juga cukup ketat.

Untuk masuk ke lift orang harus mempunyai kunci akses, demikian juga untuk pindah dari koridor ke koridor lain, tak terkecuali untuk menuju ke restoran di lantai 7.

Tepat di pintu lobi, selain satpam berseragam putih hitam, ada juga sekuriti berseragam hitam-hitam dengan senjata terhunus selalu siap siaga di tangan.

Baca: Serakah, Kotor, dan Jahat - Tuduhan Media China Sikapi Kemenangan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen

Papua New Guinea (Kompas.com)

Lucunya, pengamanan superketat seperti ini ternyata bukannya membuat kita merasa aman, tetapi membuat saya bertanya-tanya, ada apa dengan kota ini?

Sebagian pertanyaan ini terjawab ketika pihak concierge melarang kami untuk berjalan kaki keluar hotel.

Mereka hanya boleh bepergian dengan mobil atau taksi resmi yang dipanggil oleh hotel.

Ketika sempat berkelana ke pusat kota alias CBD Port Moresby, suasana terlihat biasa-biasa saja.

Namun hampir setiap bangunan, baik hotel dan perkantoran, selalu dijaga ketat dan dikelilingi tembok tinggi dengan kawat berduri dan kamera CCTV.

Di jalan-jalan, memang tampak People Mover Vehicle (PMV) atau angkutan umum, namun yang berkeliaran di jalan dengan bebas umumnya hanya mereka yang ras Melanesia.

Port Moresby (Kompas.com)

Meski PNG merupakan negara multietnis dan multiras serta banyak pekerja asing, orang-orang ini kebanyakan bepergian dengan kendaraan pribadi.

Kawasan-kawasan tertentu juga dihindari pada malam hari.

“Port Moresby adalah salah satu kota paling berbahaya di dunia,” demikian komentar resepsionis hotel berwajah Asia Tenggara.

Gadis itu ternyata berasal dari Filipina.

“Saya tidak begitu mengenal tempat ini, karena saya bukan berasal dari sini,” terang dia, ketika saya minta saran tentang tempat-tempat yang wajib dikunjungi.

Baca: Awalnya Kira Hanya Flu Biasa, Gadis 19 Tahun Ini Nyaris Kehilangan Nyawa Akibat Rokok Elektrik

Jadi, meski gadis tersebut sudah enam bulan bekerja, selama itu pula dia cuma hidup di antara hotel dan di asrama karyawan saja.

Alasannya, karena di luar tidak aman!

Memang, tingkat pengangguran yang sangat tinggi (konon mencapai sekitar 60 persen) dan maraknya penggunaan narkoba ikut memperburuk suasana keamanan Port Moresby.

Kota-kota lain dan kawasan pesisir di PNG seperti Lae, Wewak, New Britain, dan Pulau Manus, situasinya juga mirip, namun tidak separah kota ini.

Kota Port Moresby, di Papua Nugini diklaim sebagai salah satu kota paling berbahaya di dunia. (News Corp Australia)

Gangster

“Nama saya Rajalinggam,” begitu seorang pria setengah baya memperkenalkan diri.

Dengan kendaraan putihnya, dia siap mengantar Taufik dan kawan-kawannya ke tempat “meeting” di kawasaan Jackson International Airport.

Pria tersebut bisa berbahasa Indonesia.

Ternyata ia pernah tinggal dan bekerja di Indonesia cukup lama dan kebetulan dari etnis India yang berasal dari Malaysia.

“Hampir 90 persen pekerja di kawasan bandara merupakan pendatang,” demikian terang dia ketika mobil sudah meluncur melewati pintu gerbang yang dijaga ketat.

Raja pun bercerita, dia hanya bepergian dari tempat tinggal ke kantor setiap hari dan selalu berusaha pulang kerja sebelum matahari tenggelam.

Para gangster di kota Port Moresby (Intisari)

Ada beberapa tempat rawan di mana para raskol (dalam bahasa Tok Pisin berasal dari rascal alias begal) sering mengadang, merampok, kadang uga melukai korbannya.

Menurut informasi ada beberapa kelompok raskol kenamaan di sana seperti Bomai, Kip Koboni, Mafia, dan 585.

Kelompok Bomai termasuk yang paling ditakuti dan konon bermarkas di kawasan 4 Miles.

Mereka melakukan segala bentuk kriminalitas dari mencuri, menggarong, membegal, membajak kendaraan, dan bahkan sampai memperkosa.

Oleh karena itulah di kota ini bukan saja para ekspatriat, tetapi juga penduduk lokal yang sudah mapan ikut menggunakan jasa pengamanan.

Baca: Sejumlah Resto dan Bar di Vietnam Tawarkan Jasa Antar Pulang bagi Pelanggan yang Mabuk

Ada pula kelompok Kip Koboni yang bermarkas di Kaugere, sebelah selatan kota.

Bahkan kelompok ini memiliki klub rugby tersendiri yaitu Kaugere Buldog.

Anggotanya umumnya berasal dari Suku Motu yang berasal dari pesisir di sekitar Port Moresby.

Pertarungan antarkelompok suku juga kadang-kadang meramaikan dunia hitam di Port Moresby.

Selain Suku Motu, ada juga suku dari pegunungan yaitu Suku Tari.

Mahalnya rasa aman membuat pendatang maupun sebagian elite penduduk lokal hanya bisa menikmati keindahan kota ini dari balik kendaraan atau bangunan yang dikurung alat pengamanan.

Baca: Tak Hanya Senjata Militer Modern, Iran Miliki Pasukan Lumba-lumba Pembunuh Mematikan dari Rusia

Untuk bepergian terkadang harus beriringan dan dikawal ketat bak rombongan pejabat di Tanah Air.

Karena kondisi itu, tak heran jika bisnis yang paling menguntungkan di kota ini adalah sekuriti.

Dampak lain, harga-harga serta biaya hidup menjadi jauh lebih mahal dibandingkan dengan di kota-kota lainnya.

Dalam pengamatan Taufik Hidayat, harga hotel di kota ini juga merupakan salah satu yang paling mahal di dunia, tak terkecuali Tokyo maupun New York.

(TribunnewsWiki.com/Niken Aninsi, Intisari Online)



Penulis: Niken Nining Aninsi
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer