Dalam pesannya yang dilaporkan oleh Kontan, (9/1/2020), pihak Kemenhub meminta kepada maskapai penerbangan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kemenhub menyebut wilayah udara yang perlu diwaspadai yaitu wilayah udara di beberapa negara Timur Tengah seperti Irak, Iran, Teluk Persia, dan Teluk Oman.
Pesan dari Kemenhub ini diadakan menyusul memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran.
“Karena adanya konflik di sekitar Iran kami mengimbau kepada maskapai untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti, Kamis (9/1).
Baca: Pesawat Ukraina yang Membawa 180 Penumpang Jatuh di Dekat Teheran, Presiden Iran Singgung Lockerbie
Selain mengimbau maskapai penerbangan, Kemenhub juga akan menginstruksikan AirNav Indonesia agar me-reroute jalur terbang supaya pesawat tidak melintasi daerah tersebut.
Polana Pramesti menyebut maskapai penerbangan yang melewati jalur tersebut adalah Garuda Indonesia.
Sebelumnya, Garuda Indonesia pun sudah memastikan bahwa jalur udara untuk rute penerbangan dari dan menuju Eropa tidak melewati kawasan udara Iran dan sekitarnya.
Terlebih setelah adanya larangan terbang yang dikeluarkan Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) setelah ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut.
“Garuda Indonesia menyesuaikan jalur penerbangan dari dan menuju Eropa dari yang sebelumnya melewati wilayah udara Bucharest dialihkan ke wilayah udara Mesir dan Yunani. Dengan demikian seluruh layanan operasional Garuda Indonesia pada rute tersebut tetap berlangsung normal seperti biasa,” ujar Direktur Operasi Garuda Indonesia Tumpal M. Hutapea dalam keterangan tertulis.
Baca: PROMO Tiket Pesawat AirAsia Jelang Libur Tahun Baru Imlek 2020, Potongan hingga 88 Persen
Sebelumnya sebuah pesawat Ukraine International Airlines yang membawa 180 penumpang dan awak jatuh di dekat Teheran, Iran.
Pesawat dengan jenis Boeing 737 ini jatuh di dekat Bandara Internasional Teheran Imam Khomeini, seperti dilansir oleh TV lokal Iran.
Koresponden urusan Iran untuk BBC, melaporkan insiden itu pada Selasa malam dan mengatakan bahwa pesawat mengalami masalah teknis yang kemudian turun beberapa menit setelah lepas landas di Teheran.
Pesawat yang dilaporkan mengalami kecelakaan, Boeing 737-800, adalah generasi sebelumnya dari 737 keluarga jet Boeing.
Generasi saat ini, 737 Max, telah diterbangkan ke seluruh dunia sejak Maret 2019.
Namun demikian, terdapat kecelakaan fatal karena salahnya sistem kontrol penerbangan.
Kedua 737 Max itu mogok dalam beberapa menit setelah lepas landas.
Sebanyak 176 penumpang dan awak pesawat meninggal dalam kejadian tersebut.
Penyelidikan terkait insiden jatuhnya pesawat itu terus dilakukan.
Penyelidikan jatuhnya Boeing 737 mengungkapkan bahwa pihak Iran tidak akan memberikan kotak hitam kepada Boeing, pabrikan pembuat pesawat tersebut.
"Kami tidak akan memberikan kotak hitam kepada pabrikan dan Amerika," kata Kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran Ali Abedzadeh.
Ali melanjutkan, penyelidikan insiden jatuhnya pesawat Boeing 737-800 akan dipimpin organisasi penerbangan Iran.
Namun, ia mengatakan, Ukraina bisa dilibatkan dalam penyelidikan itu.
Sikap Iran tersebut sempat memicu dugaan adanya kaitan antara serangan yang sebelumnya dilakukan Iran terhadap Pangkalan Militer AS di Irak.
Namun demikian, Justin Bronk, peneliti Royal United Service Institute, menyebut perlu rudal ukuran besar agar menimbulkan kerusakan terhadap pesawat sipil.
Dalam video yang telah beredar, tidak ada bukti rudal yang menyebabkan jatuhnya pesawat tersebut.
"Akan sangat sulit menyembunyikan baterai roket sebesar itu dari tanah," ungkap Justin.
--