Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Film Semesta (Islands of Faith) mulai tayang di bioskop Tanah Air pada 30 Januari 2020.
Semesta diproduseri oleh aktor Nicholas Saputra dan disutradari oleh Chairun Nissa.
Semesta merupakan film dokumenter panjang pertama di bawah naungan produksi Tanakhir film.
Aktor Nicholas Saputra menjajal kemampuannya sebagai produser di film ini.
Baca: FILM - Poseidon (2006)
Bersama dengan Mandy Marahimin mereka mendirikan Tanakhir Film pada 2013 lalu.
Mandy Marahimin sendiri bukan nama baru di dunia perfilman.
Tahun ini Mandy menjadi eksekutif produser di dua film yakni Keluarga Cemara, Bebas serta Kulari ke Pantai pada 2018 lalu.
Selain Mandy Marahim dan Nicholas Saputra, ada nama Aditya Ahmad sebagai sinematografer pada film ini.
Sementara penataan musik film Semesta digarap oleh Indra Perkasa. (1)
Film Semesta berkisah tentang tujuh sosok dari tujuh provinsi Indonesia.
Mereka bergerak memelankan dampak perubahan iklim dengan merawat alam atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing.
Melalui rangkaian kisah tujuh sosok inspiratif ini, film Semesta mengajak kita berkeliling sembari menikmati kekayaan alam di Tanah Air. (2)
Semesta adalah film dokumenter yang berhasil mendapatkan nominasi Film Dokumenter Terbaik di Festival Film Indonesia 2018.
Semesta juga terseleksi untuk diputar di Suncine Environmental Film Festival, Barcelona, November 2019. (3)
Baca: FILM - Nyanyian Akar Rumput (2018)
Sinopsis
Perubahan lingkungan kita sedang terjadi sekarang, di depan mata kita.
Film Semesta (Islands of Faith) menunjukkan perubahan ini melalui perspektif berbagai agama dan kepercayaan.
Film ini menceritakan tentang tujuh komunitas yang mengambil sikap dan membuat perubahan di tujuh provinsi di seluruh Indonesia.
Perjalanan Semesta dimulai di Bali, mennggambarkan rutinitas harian tokoh protagonis, Tjokorda, seorang tokoh budaya yang dihormati yang tinggal di Ubud.
Umat Hindu di Bali menjalani beberapa ritual, dimulai dengan Melasti dan diikuti oleh Ogoh-ogoh, sebelum Nyepi, hari "istirahat" alam semesta pada tahun itu.
Selama Nyepi, semua kegiatan harus dihentikan, termasuk penggunaan listrik.
Film ini menjelaskan bagaimana istirahat satu hari ini tidak hanya menyelaraskan kembali manusia dengan alam, tetapi juga mengurangi emisi harian di pulau pariwisata yang populer tersebut.
Pulau Bali juga disebut berkontribusi pada sepertiga mitigasi perubahan iklim.
Perjalanan berlanjut ke Sungai Utik, Kalimantan Barat, Desa tempat tinggal orang Dayak Iban.
Wilayah ini memiliki lebih dari 9.000 hektar hutan yang dibagi menjadi zona yang bisa digunakan dan dilindungi.
Hutan yang dilindungi berfungsi sebagai "supermarket" bagi masyarakat adat di sana, menyediakan segala yang mereka butuhkan untuk mempertahankan kehidupan.
Tokoh protagonis di situ, Inam, kepala dusun, menguraikan sistem zonasi hutan dan bagaimana agama leluhur mereka telah mengajari mereka cara melindungi dan melestarikan hutan.
Cara masyarakat adat setempat menggunakan dan mengelola hutan telah terbukti menjadi yang terbaik dalam mempertahankan hutan.
Kami kemudian pergi ke Manggarai di Nusa Tenggara Timur, di mana enam tahun yang lalu, seorang imam Katolik membawa perubahan dramatis ke sebuah desa yang belum pernah memiliki listrik sebelumnya.
Pastor Marsel dan penduduk desa di sana secara mandiri membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro, sehingga menghasilkan sumber listrik yang berkelanjutan dan bersih.
Sayangnya, pada tahun 2018 desa tersebut dilanda banjir bandang yang merusak tanggul dan generator.
Penduduk, yang dipimpin oleh Pastor Marsel, membangun kembali fasilitas itu, dengan keyakinan kuat bahwa upaya mereka merupakan pertobatan ekologis yang diminta oleh Paus dalam karya terkenalnya, Laudato Si.
Keberhasilan mereka menunjukkan bagaimana daerah tanpa akses listrik di Indonesia dapat menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan untuk membantu mengurangi emisi dan mengurangi perubahan iklim.
Baca: FILM - Rasuk 2 (2020)
Di Papua, penduduk setempat membantu penyeimbangan kembali alam melalui sasi, sebuah tradisi Indonesia Timur di mana penangkapan ikan atau perburuan dilarang selama periode waktu tertentu.
Lalu hanya hewan dan tumbuhan tertentu yang dapat dipanen selama periode yang disepakati.
Almina, kepala kelompok wanita gereja lokal di desa Kapatcol di Misool, mengorganisir pembukaan sasi laut selama tujuh hari, dengan restu dari gereja.
Para wanita akan menggunakan penghasilan tambahan dari periode singkat ini untuk berbagai keperluan, seperti pendidikan.
Sasi menunjukkan bagaimana tradisi memberikan kesempatan bagi biota laut untuk berkembang biak, mempertahankan jumlah mereka dan memastikan bahwa eksistensinya masih ada di masa depan.
Praktek lain untuk hidup selaras dengan alam juga ditunjukkan di Aceh, di mana kita pergi ke Pameu, sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan.
Setiap kali gajah liar memasuki kebun desa dan merusak panen, penduduk setempat percaya bahwa cara terbaik dan satu-satunya untuk mengatasi ini adalah dengan berdamai dengan alam.
Ini dilakukan dengan mengadakan kenduri (doa dan pesta), sebagai refleksi dari ajaran Islam tentang bagaimana hidup bersama alam, dan dipimpin oleh Imam Yusuf, pemimpin agama mereka.
Imam Yusuf menekankan praktik damai ini dalam khotbah-khotbahnya untuk memastikan bahwa desa-desa mempercayai ini alih-alih melukai binatang liar dengan racun atau jerat ketika ada konflik.
Teks dalam film menjelaskan bagaimana melindungi gajah berarti melindungi hutan dan peran ekosistem dalam mengelola perubahan iklim.
Perjalanan dilanjutkan di Jawa, pulau terpadat di Indonesia.
Film menyorot Yogyakarta, di mana keluarga berkomitmen untuk berlatih thayyib, di mana segala sesuatu yang dikonsumsi harus berasal dari kebajikan dan nilai-nilai yang baik.
Pak Is, kepala keluarga, bertahun-tahun yang lalu memutuskan untuk pindah ke Imogiri dan mencari nafkah dari tanah keringnya, lalu membangun tempat yang disebut Bumi Langit (Bumi dan Langit).
Di sana, keluarganya hidup dengan belajar dari alam, melalui proses adaptasi yang berkelanjutan dan berinovasi secara kreatif.
Mereka mempraktekkan permakultur untuk berhubungan kembali dengan alam dan membuka kelas lokakarya untuk menyebarkan praktik dan pemahaman ini.
Sebagian dari praktik ini untuk membatalkan beberapa dampak negatif yang dihasilkan industri makanan terhadap lingkungan.
Film berakhir di Jakarta, khususnya di Kebun Kumara, taman yang terletak di pinggiran ibukota yang menghasilkan sayuran organik dari sebidang tanah non-produktif yang sebelumnya digunakan untuk membakar sampah.
Kebun Kumara mengkampanyekan prinsip-prinsip mereka untuk belajar dari alam, secara kreatif mengubah tanah menjadi hijau kembali, semua melalui gaya hidup perkotaan modern.
Mereka menyoroti perlunya mengubah gaya hidup masyarakat untuk melestarikan dan memperbaiki lingkungan. (4)
Baca: FILM - Love Actually (2003)
Pemain
Almina Kacili
Tjokorda Raka Kerthyasa
Romo Marselus Hasan
Muhammad Yusuf
Agustinus Pius Inam
Iskandar Waworuntu
Soraya Cassandra (1)
Baca: FILM - Janin (2020)
Poster
Trailer
Penghargaan
- Nominasi Film Dokumenter Terbaik di Festival Film Indonesia 2018
- Terseleksi untuk diputar di Suncine Environmental Film Festival, Barcelona, November 2019