Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gunung Kelud adalah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia.
Gunung Kelud memiliki ketinggian 1731 mdpl.
Gunung Kelud merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia.
Gunung Kelud terletak di antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Gunung Kelud berjenis stratovolcano atau gunung api aktif berbentuk kerucut.
Sejarah dan Legenda
Gunung Kelud atau Kelut, dalam bahasa jawa berarti 'sapu', sedangkan dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet atau Kloete.
- Arti Nama Gunung Kelud
Nama Gunung Kelud berasal dari kata 'Jarwodhosok' yaitu dari kata 'ke' (kebak) dan 'lud' (ludira) yang artinya bisa merenggut banyak korban tidak berdosa.
"Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung" ~Lembu Sura~
Kalimat di atas adalah "sepatan" alias kutukan yang diucapkan Lembu Sura, tokoh legenda yang mewarnai sejarah Kabupaten Kediri di Jawa Timur.
Juga, sejarah kerajaan Majapahit. Ada beragam versi soal Lembu Sura yang berakhir dengan kutukan dan menjadi sejarah lisan kehadiran Gunung Kelud ini.
Meski demikian, semua bertutur tentang cara seorang perempuan cantik menolak lamaran Lembu Sura.
Satu versi, adalah cerita dengan perempuan cantik Dewi Kilisuci yang adalah anak Jenggolo Manik.
Versi lain, ini adalah kisah tentang Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya, penguasa tahta Majapahit.
Ada versi-versi lain tetapi inti cerita sama.
Kisah ini bermula dari kecantikan yang tersohor, mendatangkan para pelamar, sayangnya yang datang tak sesuai harapan.
Tak enak menolak, maka cara sulit diterapkan.
Tak beda dengan kisah Rorojonggrang dan legenda candi Prambanan.
Namun, dalam legenda Gunung Kelud, pelamar sang putri ini masih pula bukan manusia.
Dia makhluk berkepala lembu. Itulah Lembu Sura.
Untuk menolak lamaran Lembu Sura, dibuatlah syarat pembuatan sumur sangat dalam hanya dalam waktu semalam.
Tak dinyana, Lembu Sura ini punya kekuatan dan kemampuan untuk mewujudkan syarat itu.
Melihat perkembangan tak menggembirakan, sang putri pun menangis.
Ayahnya, dalam versi kisah yang mana pun, kemudian memerintahkan para prajurit untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali di sumur persyaratan itu.
Batu demi batu dimasukkan ke lubang sumur, menjadi sebentuk bukit menyembul karena ada Lembu Sura di dalamnya.
Saat batu dilemparkan, Lembu Sura masih memohon untuk tak ditimbun.
Begitu menyadari bahwa permohonannya akan sia-sia, keluarlah "sepatan" sebagaimana menjadi kutipan di atas.
Sejak saat itulah legenda Gunung Kelud dan kedahsyatan letusan maupun dampaknya mengemuka.
Terlepas dari mitos Lembu Sura, tiga wilayah yang disebut dalam kutukannya itu memang kemudian luluh lantak.
Para ahli sejarah memperkirakan letusan pada 1586 yang menewaskan lebih dari 10.000 orang adalah akhir dari sejarah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Betul, catatan sejarah menyebutkan Kerajaan Majapahit diperkirakan runtuh pada kisaran angka tahun 1478.
Namun, para sejarawan hari ini pun mengakui masih banyak yang belum terkuak soal sejarah kerajaan itu, seperti misalnya dugaan ada dua Majapahit pada satu masa.
Apa kaitannya dengan Gunung Kelud? Tentu saja letusannya.
Sebelum letusan pada 2007, setidaknya sejak awal abad 1900-an diketahui bahwa kawah Gunung Kelud memiliki danau. Kecuali letusan pada 2007, letusannya pun diketahui bertipe eksplosif, termasuk letusan pada 2014.
Keberadaan danau di kawah ini sama bahayanya dengan lontaran material padat dari letusan gunung dan lontaran air dari danau kawah, bila masih ada, bisa mencapai sekitar 37,5 kilometer.
Sudah air panas, bercampur magma, masih dipadukan dengan seratusan juta ton material padat yang terlontar.
Kira-kira, karena tak ada catatan sejarahnya, itulah yang terjadi pada letusan 1586.
Namun, bukan pula letusan itu saja yang menyebabkan korban jiwa mencapai lebih dari 10.000 jiwa.
Dampak sesudah letusan, tak kurang buruknya.
Diduga, kematian puluhan ribu orang itu juga disebabkan kelaparan.
Dengan muntahnya air danau kawah, lontaran material padat, dan abu vulkanik yang mematikan tanaman, dapat diduga tak ada pasokan makanan yang bisa disediakan dalam jumlah besar untuk jumlah warga pada saat itu.
Membaca simbol tradisi lisan untuk mitigasi bencana Inilah yang kemudian diduga sebagai penyebab benar-benar paripurnanya sejarah kerajaan Majapahit, menutup beragam konflik politik internal zaman itu, maupun legenda kutukan Lembu Sura.
Sebagai gambaran, letusan pada 1919 yang notabene relatif lebih modern dibandingkan kondisi pada 1586, juga menewaskan ribuan orang.
Angka yang tercatat adalah 5.160 orang.
Letusan pada 1919 inilah yang mengawali dilanjutkannya upaya pembangunan terowongan di kaki gunung berketinggian 1.731 meter tersebut.
Terowongan-terowongan tersebut berfungsi mengurangi volume air di kawah danau.
Catatan tertua tentang upaya mengurangi dampak dari lahar cair, gabungan magma dan air danau yang mendidih, adalah "kelahiran" Sungai Harinjing yang sekarang dikenal sebagai Sungai Sarinjing di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri.
Sungai ini merupakan sudetan dari Sungai Konto.
Kehadiran Sungai Serinjing tercatat dalam prasasti Harinjing di Desa Siman. Dalam prasasti yang dikenal pula sebagai Prasasti Sukabumi itu, tertera angka tahun 921 M.
Di situ diceritakan soal pembangunan bendungan dan sungai yang dimulai pertama kali pada 804 M. Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926, setelah letusan pada 1919, masih berfungsi sampai sekarang.
Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama.
Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera.
Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik.
Volume air di kawah Gunung Kelud susut dan hanya menyisakan genangan pada letusan efusif 2007.
Pada letusan 2014, air danau bisa jadi bukan lagi ancaman.
Namun, terbukti pada malam itu bawa Gunung Kelud masih memiliki ciri letusan eksplosif. Lontaran material padat vulkanik pada letusan terbesar pada pukul 23.30 WIB mencapai ketinggian 17 kilometer, ketika letusan pertama melontarkan material hingga setinggi 3 kilometer.
Jangkauan abu vulkanik letusan Gunung Kelud pada malam itu pun menyebar luas mengikuti arah angin, menyebar luas di Jawa Tengah dan menjangkau Jawa Barat.
Bisa jadi gabungan antara pembangunan saluran-saluran air yang telah menghadirkan 11 sungai berhulu di gunung itu, letusan efusif yang menyurutkan air danau kawah, dan persiapan yang lebih baik menjadi faktor yang meminimalkan jumlah korban.
Namun, barangkali pekerjaan rumah tetap belum habis.
Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelud memiliki pola letusan berjeda pendek, antara 9 sampai 25 tahun.
Walaupun korban jiwa yang jatuh dalam dua hari ini bukan karena dampak langsung letusan, tetapi fakta sangat pendeknya tenggat waktu antara peningkatan status Awas sampai terjadi letusan pada Kamis malam, tetap merupakan sebuah catatan baru.
Jarak waktu peningkatan status hingga terjadinya letusan, tak sampai dua jam.
Kalaupun kutukan Lembu Sura tak lagi relevan sebagai mitos, barangkali perlu dibaca ada simbol-simbol budaya dalam tradisi lisan sebagai "kode" mitigasi bencana.
Percaya atau tidak, hari ini selain 11 sungai ada di Kediri, di Tulungagung pun ada Bendungan Wonorejo, dan Blitar menjadi sebidang tanah datar di kawasan yang dikelilingi danau dan sungai itu.
Agak terdengar familiar? Betul, kalimat dalam legenda Lembu Sura. (1)
Baca: Gunung Raung
Baca: Gunung Pangrango
Letusan
Sejak abad ke-15, letusan Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa.
Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. (2)
Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.
Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951 (31 Agustus), 1966 (26 April), dan 1990 (10 Februari-13 Maret).
Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.
Baca: Gunung Gede
Baca: Gunung Ijen
Memasuki abad ke-21, gunung ini erupsi pada tahun 2007 dan 13-14 Februari 2014.
Perubahan frekuensi ini terjadi akibat terbentuknya sumbat lava di mulut kawah gunung. Hampir semua erupsi yang tercatat ini berlangsung singkat (2 hari atau kurang) dan bertipe eksplosif (VEI maks. 4), kecuali letusan 1990 dan 2007.
Malam hari antara 22 dan 23 Mei 1901 terjadi letusan besar berulang-ulang, dan meningkat pada pukul 03.00 dini hari. Suara letusan dilaporkan terdengar dari Pekalongan dan hujan abu mencapai Bogor. Embusan awan panas dilaporkan mencapai Kediri. Banyaknya korban jiwa diperkirakan cukup banyak, namun tidak ada catatan spesifik.
Letusan Gunung Kelud tahun 1919 tercatat dalam laporan Carl Wilhelm Wormser (1876-1946), pejabat Pengadilan Landraad di Tulung Agung (masa kolonial Belanda), yang menjadi saksi mata bencana alam tersebut.
Letusan 1919 ini termasuk di antara yang paling mematikan karena menelan korban 5.160 jiwa, merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km, meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905.
Selain itu, Hugo Cool, seorang ahli pertambangan, pada tahun 1907 juga ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat.
Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik.
Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan.
Pada tanggal 31 Agustus 1951, pukul 06.15/06.30, Gunung Kelud kembali meletus (erupsi) secara eksplosif.
Akibat letusan besar ini, sejumlah kota di Pulau Jawa terkena hujan abu, termasuk Yogyakarta dan Surakarta dan mencapai Bandung.
Suasana gelap melanda kota-kota terdampak, menyebabkan sekolah harus meliburkan siswa-siswanya dan jawatan-jawatan berhenti beraktivitas.
Letusan 1951 adalah yang pertama kali terjadi setelah pembuatan terowongan-terowongan pembuangan air kawah selesai dibangun.
Van Ijzendoorn, Kartograf Kepala Badan Geologi, menyimpulkan bahwa sistem saluran ini sangat membantu mengurangi dampak kerugian akibat letusan.
Tujuh orang tewas akibat letusan ini, tiga di antaranya petugas pengamat gunung api.
Selain itu, 157 orang terluka. Akibat letusan ini pula, dasar danau kawau menurun sehingga volume air meningkat menjadi 50 juta meter kubik.
Letusan besar terjadi pada tanggal 26 April 1966 pukul 20.15.
Sekitar 210 lebih orang tewas akibat letusan ini. (3)
Sistem terowongan rusak berat, sehingga dibuatlah terowongan baru 45 meter di bawah terowongan lama.
Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar stabil pada angka 2,5 juta meter kubik.
Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10 Februari 1990 hingga 13 Maret 1990.
Pada letusan ini, Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu.
Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai pada tahun 1994.
Letusan pada tahun 2007 dianggap "menyimpang" dari perilaku dasar Kelud karena letusan bertipe freatik (leleran dengan letusan-letusan kecil) bukan eksplosif sebagaimana letusan-letusan sebelumnya. Selain itu, letusan ini menghasilkan suatu sumbat lava berbentuk kubah yang menyebabkan "hilang"nya danau kawah.
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh.
Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.
Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal.
Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak.
Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.
Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m.
Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi.
Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.
Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).
Danau kawah Gunung Kelud praktis "hilang" karena kemunculan kubah lava yang berdiameter 469 m dan volume sebesar 16,2 juta meter kubik.
Yang tersisa hanyalah kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava.
Abu vulkanik dari Letusan Kelud tahun 2014 yang menjangkau Yogyakarta.
Letusan Kelud 2014 dianggap lebih dahsyat daripada tahun 1990, meskipun hanya berlangsung tidak lebih daripada dua hari dan memakan 4 korban jiwa akibat peristiwa ikutan, bukan akibat langsung letusan.
Peningkatan aktivitas sudah dideteksi di akhir tahun 2013. Namun, situasi kembali tenang. Baru kemudian diumumkan peningkatan status dari Normal menjadi Waspada sejak tanggal 2 Februari 2014.
Pada 10 Februari 2014, Gunung Kelud dinaikkan statusnya menjadi Siaga dan kemudian pada tanggal 13 Februari pukul 21.15 diumumkan status bahaya tertinggi, Awas (Level IV)[18], sehingga radius 10 km dari puncak harus dikosongkan dari manusia.
Hanya dalam waktu kurang dari dua jam, pada pukul 22.50 telah terjadi letusan pertama tipe ledakan (eksplosif).
Erupsi tipe eksplosif seperti pada tahun 1990 ini (pada tahun 2007 tipenya efusif, yaitu berupa aliran magma) menyebabkan hujan kerikil yang cukup lebat dirasakan warga di wilayah Kecamatan Ngancar, Kediri, Jawa Timur, lokasi tempat gunung berapi yang terkenal aktif ini berada, bahkan hingga kota Pare, Kediri.
Wilayah Kecamatan Wates dijadikan tempat tujuan pengungsian warga yang tinggal dalam radius sampai 10 kilometer dari kubah lava, sesuai rekomendasi dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG).
Suara ledakan dilaporkan terdengar hingga kota Surabaya, Solo dan Yogyakarta (berjarak 200 km dari pusat letusan), bahkan Purbalingga (lebih kurang 300 km), Jawa Tengah.
Dampak berupa abu vulkanik pada tanggal 14 Februari 2014 dini hari dilaporkan warga telah mencapai Kabupaten Ponorogo. Di Yogyakarta, teramati hampir seluruh wilayah tertutup abu vulkanik yang cukup pekat, melebihi abu vulkanik dari Merapi pada tahun 2010. Ketebalan abu vulkanik di kawasan Yogyakarta dan Sleman bahkan diperkirakan lebih dari 2 centimeter.
Dampak abu vulkanik juga mengarah ke arah Barat Jawa, dan dilaporkan sudah mencapai Kabupaten Ciamis, Bandung dan beberapa daerah lain di Jawa Barat.
Di daerah Madiun dan Magetan jarak pandang untuk pengendara kendaraan bermotor atau mobil hanya sekitar 3-5 meter karena turunnya abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud tersebut sehingga banyak kendaraan bermotor yang berjalan sangat pelan.
Hujan abu dari letusan melumpuhkan Jawa.
Tujuh bandara di Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Cilacap dan Bandung, ditutup.
Kerugian keuangan dari penutupan bandara yang dinilai mencapai miliaran rupiah, termasuk sekitar 2 miliar rupiah di Bandara Internasional Juanda di Surabaya.
Kerusakan yang signifikan disebabkan untuk berbagai manufaktur dan industri pertanian.
Akibat hujan abu, perusahaan seperti Unilever Indonesia mengalami kesulitan mendistribusikan produk mereka di seluruh daerah yang terdampak.
Kebun apel di Batu, Jawa Timur, membukukan kerugian hingga Rp 17,8 miliar, sedangkan industri susu di provinsi ini membukukan kerugian tinggi.
Kondisi gunung setelah letusan satu malam tersebut berangsur tenang dan pada tanggal 20 Februari 2014 status aktivitas diturunkan dari Awas menjadi Siaga (level III) oleh PVMBG[30]. Selanjutnya pada tanggal 28 Februari 2014 status kembali turun menjadi Waspada (Level II).
Akibat letusan ini, kubah yang menyumbat jalur keluarnya lava hancur dan Kelud memiliki kawah kering.
Dimungkinkan terbentuk danau kawah kembali setelah beberapa tahun.
Pada awal Maret sebagian besar dari 12.304 bangunan hancur atau rusak selama letusan telah diperbaiki, dengan perkiraan biaya sebesar Rp 55 miliar.
Jalur Pendakian dan Daya Tarik
Untuk mendaki Gunung Kelud, terdapat dua jalur yakni via Tulungrejo (Blitar) dan Sugihwaras (Kediri).
Gunung Kelud pernah membuat dua kabupaten yakni Kediri dan Blitar bersengkata di jalur pengadilan terkait hak administratif puncak Gunung Kelud dan terkait dengan pengelolaan wisata.
Berikut ini beberapa wisata yang ada di area Gunung Kelud: (4)
- Jalan Misteri Gunung Kelud
Wisata Gunung Kelud yang pertama adalah jalan misteri. Sepanjang perjalanan tentunya kamu akan disajikan dengan pemandangan yang begitu indah dari dataran tinggi dan udara yang segar.
Tidak hanya itu, satu hal menarik lagi yang bisa dinikmati di jalan gunung kelud adalah jalan misteri ini.
Sebagai salah satu wisata gunung kelud, jalan ini sebenarnya adalah jalan biasa seperti jalan utama lainnya yang akan dilewati oleh wisatawan.
Semua wisatawan yang ingin berkunjung ke gunung kelud akan melewati jalan ini.
Keunikannya adalah, kendaraan akan tetap bisa berjalan walaupun dimatikan, padahal jalan misteri ini terlihat menanjak.
Fenomena ini menjadi salah satu penarik wisatawan untuk berkunjung ke wisata gunung kelud.
Kamu bisa mencoba jalan misteri ini terlebih dahulu sebelum mengunjungi wisata gunung kelud lainnya, dan buktikan kebenaran jalan misteri ini.
- Air Panas Gunung Kelud
Selanjutnya kamu bisa menikmati wisata gunung kelud berupa air panas.
Di sini kamu bisa berendam atau hanya mencelupkan kaki ke dalam air panas.
Tentunya wisata gunung kelud satu ini sangat cocok kamu kunjungi untuk menghangat badan.
Apalagi udara di gunung yang dingin tentu akan membuat berendam di air panas semakin menyenangkan.
Air panas ini bersumber dari mata air panas yang terbentuk secara alami di gunung kelud.
Air panas alami tersebut menyatu dengan aliran sungai, sehingga pertemuan dari keduanya menciptakan air hangat yang nyaman untuk berendam.
- Agrowisata Margomulyo Gunung Kelud
Agrowisata Margomulyo merupakan salah satu hasil dari pengembangan wisata gunung kelud pasca erupsi. Konsep agrowisata diusung pemerintah untuk menarik wisatawan berkungjung kesini.
Taman ini dikenal dengan nama Taman Agro Kediri.
Kamu akan disuguhkan pada sebuah kawasan taman yang indah dan ditata dengan cukup baik.
Tidak hanya tentang keindahan taman bunga dan alam sekitar, di tempat ini pengunjung juga dapat mengetahui sejarah maupun kisah masa lalu tentang Gunung Kelud.
Jenis tanaman yang ada di agrowisata ini sendiri cukup beragam.
Yang paling menarik adalah adanya tanaman bunga-bungaan seperti krisan, mawar, matahari, kana, hujan mas, refugia, dan sebagainya. Salah satu wisata gunung kelud ini sangat cocok dijadikan spot foto.
- Kampung Durian
Wisata gunung kelud selanjutnya adalah kampung durian.
Area wisata Kampung Durian luasnya hanya sekitar 1 hektar saja. Namun di dalamnya ada banyak fasilitas yang cukup lengkap.
Dengan adanya 30 pohon durian, di sini kamu bisa menikmati durian dengan puas.
Di tempat ini, wisatawan akan mendapatkan kesempatan untuk mencicipi berbagai macam jenis durian.
Selain itu pengunjung juga bisa mempelajari tentang tata cara menanam durian, hingga mengolahnya.
Tidak hanya buahnya, pengunjung juga bisa mencicipi makanan hasil olahan durian. Makanan tersebut bisa berupa ketan durian, kolak durian, hingga pancake durian.
- Flying Fox Gunung Kelud
Ada juga berbagai wahana yang ditawarkan di wisata gunung kelud ini, seperti flying fox.
Wahana ini dibuka setelah letusan gunung kelud beberapa tahun belakangan.
Dengan penambahan wahana flying fox ini, diharapkan wisatawan kembali tertarik untuk mengunjungi wisata gunung kelud.
Apalagi pasca letusan memang banyak lokasi yang mengalami kerusakan.
Dengan flying fox gunung kelud yang memiliki lintasan sepanjang 100 meter, kamu bisa menikmati pemandangan alam pegunungan sembari menikmati angin sepoi di udara.
Tentunya bisa membuat perasaan menjadi lepas dan lega dari segala rutinitas.
- Puncak Gunung Kelud
Tentunya tujuan utama wisata gunung kelud adalah mencapai puncaknya.
Puncak Gunung Kelud dan kawahnya tentunya menjadi salah satu titik wisata yang paling menarik bagi sebagian wisatawan.
Setelah letusan pada tahun 2014, kondisi puncak Gunung Kelud telah berubah. Sekarang ada danau kawah yang suasananya mirip dengan Danau Kelimutu.
Kawah gunung kelud dikelilingi oleh tiga puncak utama yaitu puncak kelud, puncak sumbing, dan puncak gajah mungkur.
Waktu terbaik untuk menikmati pemandangan alam dari puncak gunuNg kelud tentunya adalah saat matahari terbit.
Menikmati sunrise dari puncak gunung tentu menjadi suatu keutamaan yang tidak bisa ditinggalkan, termasuk di wisata gunung kelud ini.