5 Kisah Unik Pawang Ular Indonesia: Ratu Ular, Dikubur bareng Ular hingga Tewas saat Mandikan Ular

Penulis: Abdurrahman Al Farid
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Inilah 5 kisah unik pawang ular di Indonesia, ratu ular, dikubur bersama ular hingga tewas saat mandikan ularnya.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Inilah 5 kisah unik pawang ular di Indonesia: ratu ular, dikubur bersama ular hingga tewas saat mandikan ularnya.

Saat ini sedang marak teror ular kobra di berbagai wilayah di Indonesia.

Hal tersebut lantaran sekarang sedang masuk musim hujan, masa dimana banyak telur ular kobra yang menetas.

Setelah banyaknya kejadian penemuan ular di beberapa tempat maka banyak orang yang mengaku sebagai penjinak atau pawang ular bermunculan.

Salah satunya Panji Petualang, yang kini sering tampil di televisi bersama ularnya untuk membagikan tips dan cerita tentang ular.

Selain Panji, ternyata ada beberapa pawang ular di Indonesia yang memiliki kisah unik.

Siapa saja mereka?

Berikut adalah lima kisah unik pawang ular di Indonesia dikutip TribunnewsWiki dari Kompas.com:

Baca: Kapan Teror Ular Kobra di Wilayah Indonesia Berakhir? Simak Penjelasan Ahli Reptil LIPI

Baca: Teror Kemunculan Ular Kobra di Berbagai Daerah Justru Menjadi Berkah Pemilik Usaha Kuliner?

Aksi amar saat bermain dengan king kobra sepanjang 4 meter yang dipelihara di rumahnya di jalan umban sari kecamatan rumbai pekanbaru (Kontributor Kompas TV Pekanbaru, Citra Indriani)

1. Penjinak King Kobra asal Riau Bernama Amar

Sekilas, Muamar Syahida (25) tampak seperti pemuda biasa.

Siapa sangka, Amar sapaannya, memiliki kemampuan menaklukkan ular kobra.

Tak tanggung-tanggung, Amar mampu menjinakkan ular berjenis king kobra.

Amar merawat puluhan ekor ular di rumahnya, Jalan Umban Sari, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Riau. Mulai dari kobra hingga derik yang sangat berbisa, dipelihara olehnya.

Amar belajar menjinakkan ular secara otodidak sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Baginya, ketenangan merupakan kunci utama dalam menjinakkan ular-ular tersebut.

“Dulu awalnya saya coba tangkap ular lidi. Saya belajar bagaimana teknik menjinakkannya,” katanya, Selasa (10/4/2018).

Namun bukan berarti ia tidak pernah diserang.

Amar tetap waspada meski sering bersentuhan dengan mereka.

“Kadang dia (king kobra) marah dan menyerang saat saya pegang, terutama pada bagian kepalanya.

Saya tangkap dengan tenang menggunakan tongkat (snake hooks)," ucapnya.

2. Sepuluh Tahun Berdampingan dengan 10 Ular Sanca

Munding Aji (30), pemuda asal RT 002, RW 001, Desa Gunungsari, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, Jawa Tengah, saat bergumul dengan ular sanca batik (Pyton reticulatus) raksasa koleksinya, Kamis (21/6/2018). Sedikitnya ada 10 ular sanca raksasa yang dia koleksi dalam 10 tahun terakhir dengan tak kurang dari 100 ekor ayam dia berikan untuk pakan ular-ular koleksinya setiap bulannya. (KOMPAS.com/M IQBAL FAHMI)

Berawal dari melihat foto seekor ular kecil di media sosial, pria bernama Munding Aji (30) jatuh hati.

Saat itu usia Munding baru 20 tahun. Ular yang kemudian ia beri nama Syahrini tersebut, ia rawat sepenuh hati.

Sepuluh tahun kemudian, Syahrini tumbuh hingga panjangnya mencapai 9 meter.

Selain Syahrini, pemuda asal Desa Gunungsari, Kecamatan Pejagoan, Kebumen itu juga hidup berdampingan dengan sembilan ular lainnya.

Seluruhnya berjenis sanca batik (Pyton reticulatus). Ular-ular tersebut juga diberi nama Shelly, Jenny, Cindy, Vira, Amel, Rambo hingga Faldi.

“Yang paling tua itu Rambo dan Syahrini, sudah 10 tahun, panjangnya sekitar 9 meter dan diameter perut 60 centimeter, tapi kalau makan (ukuran perut) bisa elastis sampai empat kali lipat,” ujarnya.

Hobi Munding mengoleksi ular sempat menuai kekhawatiran. Masyarakat dan keluarga sempat was-was dengan keberadaan ular-ular itu.

"Tapi karena lihat saya biasa saja memegang ular-ular saya, akhirnya mereka penasaran juga, begitu pegang akhirnya jatuh cinta juga,” katanya.

Merawat ular, lanjutnya, bukan perkara sulit. Hanya saja, ia harus mengeluarkan banyak biaya pakan.

Jika dikalkulasi, Munding harus menyediakan minimal 100 ekor ayam atau setara Rp 3 juta untuk pakan ularnya. Bagi Munding, ular-ular itu sudah seperti kawan.

Tak jarang ia tidur dengan ular-ular itu di kandang mereka. “Ular saya sering saya bawa masuk rumah, kadang saya yang sengaja begadang di dalam kandang, pernah juga tidur bareng ular di kandang,” katanya.

Baca: Video Viral Kucing Pukul Ular Kobra yang Nyaris Masuk Rumah, Bukti Omongan Panji Petualang Benar

Baca: Waspada Teror Ular Kobra di Musim Penghujan, Kenali Bahaya dan Cara Penanganan Tepat Berikut Ini!

3. Ratu Ular dari Banyumas

Iin Ayu (55) mengoleksi berbagai macam ular di garasi rumahnya Kelurahan Karangpucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. (KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN)

Julukan 'ratu ular' seolah tepat mewakili sosok Iin Ayu (55), warga Kelurahan Karangpucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tidak hanya piton, berbagai jenis ular kobra berbisa menjadi koleksi Iin.

Jumlahnya mencapai ratusan ekor. Ular-ular itu ia rawat di garasi rumahnya.

Keakraban Iin dengan berbagai jenis ular dimulai ketika Iin masih berusia remaja. Saat itu, Iin mengaku sering menangkap ular di sawah.

“Tidak bisa menjelaskan, tapi saya bisa merasakan, apalagi dengan ular yang berbisa. Saya sudah digigit berkali-kali, biasanya diobati dengan ramuan dari dedaunan," tuturnya.

Iin meyakini, ular memiliki naluri yang bisa dipelajari oleh manusia.

Mereka tidak akan menyerang jika diperlakukan dengan baik.

“Saya dulu sering digigit, tapi setelah sering bergaul dengan ular tidak pernah digigit lagi.

Artinya ular memiliki naluri, kalau disayang, dirawat, tidak akan menyerang," ujarnya.

Ular, kata Iin, akan berubah agresif jika mereka merasa terancam.

Oleh karena itu, Iin mengimbau masyarakat bersikap tenang jika kebetulan bertemu dengan binatang ini.

“Jangan panik, halau dengan alat yang ada di rumah seperti sapu, jangan pakai tangan kosong,” kata dia.

Tak heran, Iin sering diminta warga mengevakuasi temuan ular.

Ia melakukan hal tersebut tanpa memungut biaya. Biasanya, warga yang meminta bantuan berasal dari wilayah Purwokerto dan sekitarnya.

Namun Iin pun pernah diminta mengevakuasi ular di Depok, Jawa Barat.

4. Rizky Tewas Dipatuk Ular Kobra Peliharaannya

Rizky, pemuda asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah menyelamatkan dan merawat seekor king kobra saat banjir melanda daerah tersebut.

King kobra sepanjang tiga meter itu ia temukan terjerat jaring penangkap ikan milik warga.

Lebih dari satu bulan, Rizky yakin ular kobranya sudah cukup jinak.

Ia pun membawa ular tersebut ke Car Free Day (CFD) di Bundaran Besar Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Minggu (8/7/2019) adalah hari nahas bagi Rizky.

Foto Rizky sedang bermain dengan ular king cobra saat Car Free Day (CFD) di Bundaran Besar Palangkaraya, Minggu (8/7/2018). Editor : Pythag Kurniati (Handout/Rizky Ahmad)

Ia tewas setelah king kobra itu mematuk lengan kanan Rizky saat beratraksi di CFD.

Usai dipatuk, Rizky masih melanjutkan atraksinya. Tak berselang lama, ia lemas, ambruk dan dilarikan ke rumah sakit.

Meski pihak rumah sakit menyatakan Rizky telah meninggal, namun keluarga tidak begitu saja menerima.

Keluarga masih mengupayakan ritual agar Rizky bisa pulih seperti semula.

“Walau sudah memasuki hari kedua, namun kami tetap yakin bahwa anak kami belum meninggal karena badannya masih hangat dan berkeringat,” katanya.

Rizky akhirnya dimakamkan oleh keluarganya pada Kamis (12/7/2019) di Pemakaman Muslim, Palangkaraya.

5. Dikubur Berdampingan dengan Ular Kesayangannya

Jana, warga Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tewas dililit ular sanca peliharaannya. (handout/dok Tribun Jabar)

Warga desa Padasuka, Kutawaringin, Kabupaten Bandung Jana (42) memelihara ular sanca seberat 17 kilogram dan panjang tiga meter.

Namun ular yang dirawatnya tersebut melilitnya hingga tewas pada Jumat (21/6/2019).

Jana dililit saat ia tengah memandikan sanca tersebut. Ular sanca itu kemudian kabur melalui selokan dan dibunuh oleh warga.

Jana pun dikubur bersebelahan dengan ular sanca kesayangannya.

Istri Jana Elah mengatakan, tewasnya Jana diketahui pertama kali oleh anaknya. Anak Jana terkejut mendapati ayahnya tengkurap di lantai dan ular sanca tak jauh dari jasad Jana.

"Saya pasrah saja melihat suami tewas gara-gara ular, sudah takdir," kata istri Jana.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Abdurrahman Al Farid)(KOMPAS.com/Fadlan Mukhtar Zain, Citra Indriani, Putra Prima Perdana, Kurnia Tarigan, M.Iqbal Fahmi, Ardito Ramadhan, Michael Hangga Wismabrata)



Penulis: Abdurrahman Al Farid
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer