Banyak masyarakat yang berbondong-bondong merencanakan liburan akhir tahun ini.
Kabar gembiranya maskapai penerbangan akan memberikan diskon tiket pesawat yang cukup membuat kantung hemat.
Dikutip dari Kompas.com, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta maskapai penerbangan untuk menurunkan harga tiket.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Hengki Angkasawan mengatakan, diskon harga tiket ini telah disetujui maskapai penerbangan pelat merah.
Yang tak lain adalah maskapai Garuda Indonesia.
"Kemenhub mengimbau dalam rangka pelaksanaan libur Natal dan Tahun Baru,”
“maskapai diminta memberikan diskon tiket sebesar 30 persen," kata Hengki pada Jumat (6/12/2019).
Sejauh ini, imbuhnya, Garuda Indonesia sudah berkomitmen untuk melaksanakan imbauan tersebut.
Menurutnya, maskapai lain akan segera mengikuti langkah yang diambil Garuda Indonesia ini.
“Biasanya (maskapai lain) akan mengikuti kalau Garuda sudah melaksanakan,” ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, maskapai Garuda Indonesia akan memberi diskon tiket sebesar 30 persen.
Hal itu berlaku untuk semua penerbangan.
Potongan harga tiket ini berlaku di hari Senin hingga Kamis.
Aturan tersebut akan ditetapkan dalam waktu sekat ini.
"Kami dapat konfirmasi dari Garuda ada tiket dengan harga lebih murah,”
“30 persen lebih murah untuk hari Senin sampai Kamis," kata Budi di Jakarta, Kamis (5/12/2019).
Budi menambahkan, kebijakan diambil setelah koordinasi dalam rangka rebalancing harga avtur di Indonesia dengan Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM.
Lanjutnya, penurunan harga tiket akan berlaku hingga Februari 2020.
Namun, harapannya kebijakan bisa terus diterapkan dengan tujuan memberi harga tiket yang terjangkau bagi masyarakat.
"Menurut catatan dari Garuda berlaku sampai Februari.”
“Komitmen kita Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis itu akan memberikan tiket murah," katanya lagi.
Disamping itu Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga berharap tiket pesawat kembali murah.
Sebab harga tiket yang tinggi masih selama ini menjadi keluhan bagi masyarakat.
"Kita berharap ya, paling tidak menjadi kompetitif.”
“Poinnya bisa dirasakan oleh masyarakat, tiketnya itu tidak kompetitif dibandingkan di ASEAN maupun Amerika," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI), Hariyadi Sukamdani, di Jakarta, Jumat (6/12/2019).
Industri penerbangan Indonesia meski telah menerapkan Low Cost Carrier (LCC), tetap saja menurutnya tidak mengurangi permasalahan.
Karena tidak adanya maskapai lain selain Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.
Dia menyebut, 97 persen penerbangan kedua maskapai tersebut paling mendominasi pangsa pasar.
Maka tak heran, bila harga tiket penerbangan masih tinggi.
"Seperti di Eropa, sama-sama penerbangan satu setengah jam sampai dua jam,”
“kalau kita bicara LCC, itu ya mahal. Ketika tidak ada kompetisi, semuanya mahal.”
“Begitu ada kompetitor masuk, harganya bisa murah," katanya.
Wilayah timur, sebut Hariyadi, yang paling terdampak akibat tiket mahal tersebut.
Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya kompetisi dalam industri penerbangan.
"Nggak fair-lah, masa masyarakat dirugikan gitu.”
“Dan ini sangat terganggu banget di wilayah timur, terasa banget kunjungan orang ke Indonesia bagian timur berkurang," ucapnya.
Sebagai Ketua PHRI, dia menyarankan kepada pemerintah untuk membuka kompetisi di industri penerbangan sehingga bisa menekan harga tiket yang mahal.
"Saya sampaikan ke pemerintah, ini saatnya buka kompetisi.”
“Karena kalau sudah kompetitif ini akan beda," ucapnya.