Peringkat Indonesia berada di urutan 72 dari 77 negara, demikian dilaporkan PISA dalam rilis survei kemampuan pelajar.
Data yang dimiliki PISA ini menjadikan Indonesia jauh berada di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Survei PISA adalah rujukan dalam penilaian kualitas pendidikan di dunia.
Dalam survei ini yang dinilai adalah kemampuan membaca, matematika, dan sains.
Budi Trikorayanto selaku pengamat pendidikan berkomentar mengenai masalah pendidikan di Indonesia.
Menurutnya terdapat 3 (tiga) masalah yang membelenggu pendidikan Indonesia, seperti dilaporkan Deutsche Welle Indonesia, (5/12/2019).
Menurut Budi, kompetensi guru di Indonesia berada di tingkat yang rendah, bahkan sangat rendah.
Budi menambahkan bahwa menghasilkan murid yang cerdas diperlukan sumber pengajar yang kompeten.
“Nomor satu sebenarnya faktor yang bisa membuat anak pintar atau tidak adalah guru. Jadi memang kompetensi guru kita sangat rendah, bisa dilihat dari hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) itu nilainya di bawah 5 rata-rata,” ujar Budi.
Budi menambahkan, di era pendidikan 4.0, guru seharusnya bukan lagi menjadi narasumber utama dalam sistem pembelajaran.
Guru diharuskan sebagai pendamping, penyemangat, dan fasilitator.
Budi menilai agar pendidikan 4.0 dapat berhasil, para murid harus diedukasi untuk menjadi lebih aktif.
“Jadi kita masih menganut pendidikan massal, sekolah masih ‘pabrik’ , itu kan edukasi 2.0. Kita sudah di edukasi 4.0 yang sudah zamannya artificial intelligence (AI) bukan lagi pabrik,” kata Budi.
Budi mengharapkan agar murid diajarkan untuk aktif belajar.
Selanjutnya, menurut Budi, murid perlu diasah untuk mencari tahu sesuatu dari sumber-sumber lain di luar sekolah, misalnya lewat situs-situs yang terverifikasi dan memiliki kredibilitas di internet.
Terlebih setiap murid memiliki karakter yang berbeda-beda.
Mereka dimungkinkan dapat menjadi lebih cerdas bila mempelajari suatu hal yang berkenaan dengan minat dan bakatnya.
Baca: Harapan Salim Said pada Menteri Pendidikan Jokowi, Nadiem Makarim agar Tularkan 50% Budaya Baca
Baca: Tolak Jadi Menteri demi Fokus Pendidikan, Begini Sikap SK Trimurti pada Tawaran Presiden Soekarno
Selain itu, Budi menjelaskan perlu adanya peningkatan kualitas lembaga pendidikan untuk membuat guru menjadi lebih berkualitas di masa mendatang.
Budi mengambil contoh Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).
“Kampus-kampus IKIP, yang model pengajarannya seperti itu membuat guru menjadi kurang punya ide kreativitas dan kurang eksplor dengan akademisnya. Sehingga setiap tahun ketika ada Uji Kompetensi Guru (UKG) mereka hasilnya selalu rendah,” sebutnya.
Penelitian yang dilaporkan PISA mengungkapkan bahwa Indonesia memeroleh angka 371 dalam kategori membaca, 379 untuk matematika, dan 396 untuk ilmu pengetahuan (sains).
Baca: Demi Bayar Biaya Pendidikan, Mahasiswi Ini Rela Jadi Penari Striptis; Rp 45 Juta per Malam
Baca: Pelajar Ikut Demo, Pengamat Pendidikan Sebut Mereka Hanya Korban
Sementara negara tetangga Malaysia lebih unggul dari Indonesia dengan berada di peringkat ke-56.
Malaysia mendapat nilai 415 untuk membaca, 440 untuk matematika, dan 438 untuk sains.
Sedangkan negara tetangga lainnya yaitu Singapura berhasil menempati peringkat ke-2 teratas lantaran mempunyai sistem pendidikan yang matang.
“Di Singapura penghargaan untuk guru sangat tinggi dan persyaratan untuk menjadi guru juga tidak sembarangan. Jadi kalau tidak pintar banget, tidak bisa menjadi guru. Kalau ogah-ogahan belajar, susah jadi guru. Tapi mereka juga dapat imbal jasa yang sangat memuaskan,” kata Budi.
Ditegaskan oleh Budi bahwa terdapat beberapa masalah yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.
Satu yang diambil contoh adalah perihal kesejahteraan guru.
Menurut Budi ihwal kesejahteraan guru bermuara dari kompetensi seorang pengajar/guru itu sendiri.
“Singapura memang menekankan kerja keras. Jadi bukan mengurangi jam belajar, kalau saya lihat. Kalau kita kan menekankan pada iman dan taqwa, serta anak berbahagia, itu repot juga. Belajar itu sesuatu yang serius dan perlu disiplin bukan supaya sekedar anak terlihat bahagia, anak beriman dan bertaqwa,” jelasnya.
Selain beberapa hal di atas, Budi menyebut bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih kuno, bahkan terlalu kuno.
Budi menyebut sistem pendidikan di Indonesia sebagai sistem yang 'feodalistik'.
Menurut Budi, sistem pendidikan di Indonesia kurang bisa menghargai kebebasan berpikir.
Baca: Tolak Jadi Menteri demi Fokus Pendidikan, Begini Sikap SK Trimurti pada Tawaran Presiden Soekarno
Baca: Pamit dari GoJek, Nadiem Makarim Tulis Surat Perpisahan Untuk Karyawan Gojek Bermodal Tekad Kuat
Di akhir penyampaiannya, Budi memberikan saran kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim agar berani menyederhanakan kurikulum.
Lebih jauh lagi, perlu juga untuk mengurangi aturan-aturan dan belenggu pendidikan dalam rangka menciptakan kebebasan pendidikan.
“Jadi yang feodalistik itu mesti dihilangkan mesti ada kesetaraan musti ada open source. Saya kira Nadiem, dia lima tahun ini memulai dan tidak akan bisa di stop lagi, dia sudah buka pintu gerbangnya dan harus dilaksanakan,” terang Budi.
--