Acara tersebut dimulai sejak pukul 03.00 WIB dan berakhir pukul 08.30 WIB
Acara tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh, satu diantaranya Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Kedatangan Anies yang disambut meriah tersebut rupanya menimbulkan kontroversi, dan disorot oleh Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).
Anies diketahui datang ke acara Reuni Akbar 212 pukul 06.15 WIB melalui pintu VIP Monas.
Baca: Ketua GNPF Sebut Habib Rizieq Shihab akan Segera Pulang ke Indonesia sebelum Reuni 212 2020
Baca: Aksi 212
Selain Anies, beberapa tokoh lain yang datang diantaranya Ketua GNPF, Yusuf Martak; Ketua Umum FPI, Ahmad Sobri Lubis; dan Ketua Panitia, Awit Masyhuri.
Ketua Persaudaraan 212, Slamet Maarif juga terlihat hadir dalam acara tersebut.
Selain itu Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid; Anggota DPR-RI, Fadli Zon; Politisi Partai Keadilan Sejahtera, Mardani Ali Sera nampak hadir dalam acara Reuni 212.
Dilansir dari Trubunnews, kedatangan orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut disambut dengan meriah oleh para partisipan.
Anies bahkan memberikan memberikan sambutan dalam acara tersebut.
Hal yang diungkapkan ketika memberi sambutan diantaranya menegaskan pihaknya saat ini tidak hanya terfokus dalam pembangunan infrastruktur di Jakarta.
"Bapak ibu sekalian para ulama para habaib inilah yang sekarang menjadi fokus perhatian kami di Jakarta. Bahwa kami tidak hanya membangun infrastruktur fisik," ujar Anies di Kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, Senin (02/12/2019).
Menurut Anies, saat ini pihaknya justru berupaya untuk menciptakan keadilan bagi warga Jakarta.
Anies menilai keadilan sosial juga menjadi hal yang berharga untuk masyarakat.
"Justru yang menjadi perhatian kami adalah kami ingin menegakkan dan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh warga Jakarta," ucap Anies.
Tanggapan Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)
Ketua FAKTA, Azas Tigor Nainggolan mempertanyakan kehadiran Anies Baswedan.
Sebab, menurut Tigor, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta sudah memastikan tidak akan ada aparatur sipil negara (ASN) yang hadir di acara itu.
"Kan BKD DKI memastikan tidak ada ASN hadir di acara tersebut. Tapi pak Anies datang ke situ sebagai Gubernur, kemudian menggunakan seragam," kata Tigor.
Anies memang terlihat menghadiri acara Reuni 212 dengan mengenakan pakaian dinas Pegawai Negeri Sipil (PNS) berwarna cokelat dan dilengkapi peci berwarna hitam.
Sedangkan beberapa tokoh lain yang datang mengenakan pakaian bernuansa warna putih.
"Selain itu dia pasti nggak sendirian (hadir di acara tersebut)," lanjut Tigor, ketika dihubungi Tribunnews.com, Senin (2/12/2019).
Berdasarkan informasi yang diperoleh Tigor, bila ada ASN yang hadir maka akan dikenakan sanksi.
Tiga sanksi yang dikenakan, mulai dari pemanggilan, penundaan kenaikan pangkat, hingga pemberhentian secara tidak hormat.
Oleh karena itu, Tigor menilai Anies seharusnya tak menghadiri acara tersebut.
Sebagai Gubernur DKI Jakarta, jelas Tigor, Anies seharusnya memberikan contoh yang benar.
"Jadi ini menurut saya nggak jelas, dia (Anies) bikin aturan ASN nggak boleh ikut acara reuni 212. Tapi dia sendiri ikut disitu, hadir memberikan sambutan," kata Tigor.
Ya kan dia pimpinan daerah yang harus memberikan contoh, kan itu nggak konsisten," tandasnya.
Reuni 212
Baca: Hadiri Reuni Akbar 212, Anies Baswedan Disambut Meriah dan Dapat Sambutan Gubernur Indonesia
Baca: Hadir di Reuni Akbar 212, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Disambut Tepuk Tangan dan Takbir
Dikutip dari Kompas.com, Ketua Reuni Akbar 212, Awit Masyhuri memperkirakan satu juta orang hadir dalam acara tersebut.
Awit menyebutkan, massa yang akan hadir bukan hanya dari Jakarta namun juga berasal dari berbagai daerah.
“Iya kalau satu juta Insya Allah ada karena dari berbagai kota pun jamaah datang," jelas Awit.
"Ada yang dari Lampung, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan lain-lain,” lanjut Awit saat dihubungi, Minggu (01/12/2019).
Awit juga mengatakan acara Reuni Akbar 212 dilaksanakan untuk memperkuat dan mempererat persatuan umat Islam.
Selain untuk mempererat persatuan umat Islam, acara ini hadir untuk mempekukuh persatuan bangsa Indonesia
Reuni Akbar 212 tahun ini, dikatakan Awit, mengangkat tema tema keselamatan negeri dan menyikapi penistaan agama yang masih terjadi di Indonesia.
Harapannya dengan acara ini, dan dengan doa dari seluruh umat, tidak ada lagi penista agama di Indonesia.
Sementara itu, pihak kepolisian memperkirakan kegiatan Reuni 212 hanya dihadiri oleh massa dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.
"Tidak ada peserta dari luar kota, paling luar kotanya dari sekitar Jakarta saja, seperti Tangerang," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus di Jakarta, Minggu (01/12/2019).
Yusri mengatakan, pihak kepolisian sudah berkoordinasi dengan panitia pelaksana untuk menjamin kegiatan Reuni 212 berjalan dengan damai.
"Hasil koordinasi kami dengan panitia, kita sudah sepakat semuanya bahwa pelaksanaan kegiatan ini harus berjalan dengan damai, tanpa ada sesuatu apapun. Insya Allah sampai pada pagi hari nanti kegiatan ini akan berjalan dengan baik," tuturnya.
Untuk menjamin agar kegiatan tersebut berjalan dengan lancar, aman, dan tertib, kata dia, sebanyak 9.239 personel gabungan TNI-Polri telah disiapkan untuk mengamankan jalannya kegiatan Reuni 212.
"Jumlah kekuatan 9.239 personel TNI-Polri kita persiapkan. Dari personel ini nanti akan menempati 7 sektor yang sudah kita petakan," ujar Yusri.
Pada kesempatan yang sama, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat mengingatkan kepada seluruh petugas yang diturunkan untuk mengamankan Reuni 212 dengan tidak membawa senjata.
"Seperti biasa saya ingatkan tidak ada yang menggunakan senjata tajam, sudah dicek masing-masing komandannya. Semuanya laksanakan dengan simpatik dan humanis," ujarnya.
Wahyu juga meminta seluruh petugas keamanan membantu masyarakat yang hadir dalam acara tersebut.
Hal tersebut dikarenakan ada kemungkinan massa yang datang namun tidak mengetahui letak kegiatan.
"Dalam kegiatan ini saya minta rekan-rekan sekalian membantu masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan, di mana nanti yang akan datang tidak semua paham atau tahu di mana letak kegiatan," kata Wahyu.
"Untuk itu yang bertugas di sekeliling area ini mengarahkan, karena pintu masuknya ada tiga mulai dari Istiqlal, Gambir, dan Kedutaan Amerika. Begitu juga saat kembalinya, tolong diarahkan," imbuhnya.