Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Keahlian para joki mengendalikan Lanting Paring melewati, jeram sungai Amandit menjadi sajian utama Festival Loksado 2019.
Festival Loksado merupakan bagian dari, 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang telah memasuki tahun ke-2.
Lanting Paring adalah rakit bamboo khas masyarakat Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan[1].
Sejarah
Lanting Paring awalnya merupakan sarana para leluhur masyarakat Banjar sebagai media transportasi air untuk membawa hasil kebun dari hulu ke hilir untuk dijual dan memenuhi kebutuhan mereka.
Leluhur masyarakat Banjar di Hulu Sungai Selatan dapat menempuh perjalanan selama satu hari penuh, dari hulu ke hilir membawa hasil perkebunan.
Hasil perkebunan yang dijual meliputi getah karet, pisang, dan hasil perkebunan lainnya.
Sesampainya di hilir sungai, bambu-bambu rakit yang digunakan berlayar, dijual ke pengrajin bambu dan kemudian mereka kembali ke hulu dengan berjalan kaki.
Lanting Paring dikenal masyarakat Banjar khususnya Banua Enam, terutama di Kabupaten Balangan disebut juga Balabuh Lanting.
Bahkan aktivitas ini dibuat dalam satu bait pantun khusus, yang menceritakan aktivitas tersebut.
Berikut sepenggal pantun berjudul “Balangan Sayang” yang bercerita mengenai nuansa alam dan keidupan masyarakat Balangan:
Malabuh Pisang ba Lanting Paring yakni tradisi membawa pisang menggunakan rakit bambu dari Kecamatan Halong, Juai Awayan maupun Tebing Tinggi ke Amuntai Hulus Sungai Utara.
Aktivitas Malabuh Pisang ba Lanting Paring biasanya dilakukan saat panen pisang, dan air sungai Batang Balangan berdebit tinggi.
Rentang waktu yang dibutuhkan sekali membawa pisang menggunakan rakit, dapat memakan waktu selama dua hari dan mengharuskan pembawa rakit bermalam diatas rakit dengan bekal yang sudah dipersiapkan[2].
Perakitan
Setiap pemilik rakit berisi pisang sebelumnya, harus membeli bambu di Halong seharga Rp 4.000 per pohon dan kemudian dirakit sendiri menjadi satu kesatuan utuh.
Sedangkan untuk penjualan Lanting setelah tiba di Hilir, dihargai Rp 7.000 per pohon sesampainya di Amuntai.
Jumlah pisang yang dibawa pembawa rakit, sesampainya di hilir sungai tidaklah selalu pas seperti apa yang diharapkan.
Karena selama perjalanan anak-anak yang sedang mandi di sepanjang sungai Batang Balangan, meminta buah pisang sambal berteriak.
“Paman minta pisang!!” begitulah teriakan anak-anak apabila melihat rakit membawa pisang melintas di dekatnya.
Biasanya secara spontan si pembawa rakit dengan pisang yang dibawanya, pun langsung memberikan satu buah pisnag kepada anak-anak dengan cara dilemparkan ke sungai dan merea pun berebut mengambilnya.
Lama perjalanan di sungai cukup bervariasi, antara satu hari satu malam hingga dua hari satu malam tergantung debit air dan kondisi cuaca.
Lanting Paring ternyata menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat, karena merupakan bagian warisan leluhur dan cara untuk menikmati keindahan alam Balangan khususnya dan Bumi Sanggam secara keseluruhan[3].