Diduga Meninggal Karena Penyakit Jantung, Kenali Gejala dan Faktor Penyakit yang Diidap Cecep Reza

Penulis: Nur Afitria Cika Handayani
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Cecep Reza

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mantan artis cilik Cecep Reza meninggal pada hari Selasa (19/11/2019).

Penyebab meninggalnya Cecep Reza diduga karena penyakit jantung yang dideritanya.

Hal tersebut diungkapkan oleh sahabatnya, Ade Firman Hakim.

Sementara itu, menurut adiknya, Cecep tak bisa dibangunkan oleh istrinya dan ternyata sudah meninggal dunia.

Baca: 5 Hari Sebelum Wafat, Cecep Reza Sempat Tuliskan Pesan Terakhir Untuk Anak & Istri, Firasat?

Baca: Gracia Indri Kenang Sosok Cecep Reza, Kenal dari SD, Tak Akan Tergantikan: Bombom Itu ya Cecep

Diketahui, Cecep Reza baru satu minggu yang lalu melakukan operasi pemasangan ring pada jantungnya.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali pentingnya penyakit jantung koroner yang saat ini banyak menjangkiti anak muda.

Profil Cecep Reza (Instagram/cecepreza_)

Dilansir Kompas.com, dalam dunia medis diketahui bahwa jantung memiliki beberapa jenis pembuluh, diantaranya yang paling penting adalah arteri koroner.

Pada arteri terdapat sirkulasi darah kaya oksigen ke semua organ dalam tubuh, termasuk jantung.

Apabila arteri tersumba atau menyempit, aliran darah ke jantung bisa turun secara signifikan atau bahkan berhenti sama sekali.

Hal tersebut yang dapat menyebabkan serangan jantung.

Bahkan, penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang usia lanjut.

Dihimpun Tribunnewswiki dari Kompas.com berikut gejala yang muncul akibat serangan jantung:

1. Nyeri dada

Biasanya dada terasa nyeri, pada bagian ini biasanya terasa seperti ditekan atau diremas pada dada sebelah kiri.

2. Merasakan ketidaknyamanan di bagian tubuh bagian atas

Merasakan sakit pada salah satu atau kedua lengan, punggung, bahu, leher, rahang atau bagian atas perut.

Rasa tidak nyaman tersebut berlangsung lebih dari beberapa menit atau hilang dan kembali lagi.

Terkadang rasa tidak nyaman tersebut disertai dengan rasa gelisah dan detak jantung cepat.

3. Sesak napas

Ketika merasakan sesak napas, maka tubuh akan mengeluarkan keringat dingin, kepala terasa pusing, dan tubuh terasa lemas.

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah: 29 September, Hari Jantung Sedunia

Baca: Mantan Artis Cilik Cecep Bombom Reza Meninggal Dunia, Sempat Pamit Hendak Pasang Ring Jantung

4. Gejala lain

Terdapat gejala lain yang dapat muncul seperti batuk, mual, muntah.

Penyebab penyakit jantung koroner ini biasanya disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat.

Selain itu, faktor keturunan juga dapat menjadi penyebab penderita mengalami penyakit jantung.

Dilansir Banjarmasin Post dari heart.org, faktor risiko dibagi menjadi tiga kategori, yaitu faktor risiko utama yang tak dapat diubah, yang dapat dikontrol, dan faktor lain yang bekontribusi terhadap risiko penyakit jantung.

Berikut kategori faktor penyakit jantung:

Usia

Semakin bertambah usia, semakin tinggi pula seseorang terkena penyakit jantung koroner.

Disebutkan, mayoritas orang meninggal karena penyakit jantung koroner berusia 65 tahun atau lebih.

Pria

Pria mempunyai risiko lebih besar terkena serangan jantung dibanding wanita.

Bahkan, risiko pria masih tetap lebih tinggi dibanding wanita di usia menopause. Di usia menopause, tingkat kematian wanita karena penyakit jantung meningkat.

Baca: Dampak Konsumsi Kopi Bagi Balita, Sebabkan Insomnia hingga Risiko Penyakit Jantung

Baca: Penelitian Terbaru, Rokok Vape dengan Cepat Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung hanya Dalam 1 Bulan

Keturunan

Anak-anak dari orangtua dengan penyakit jantung lebih mungkin untuk juga mengembangkan penyakit tersebut.

Orang Amerika-Afrika dengan penyakit darah tinggi mempunyai risiko lebih besar terkena penyakit jantung.

Sementara itu, penduduk asli Hawaii dan beberapa orang Asia-Amerika berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung karena tingkat obesitas dan diabetes.

Asap tembakau

Merokok dapat meningkatkan penyakit jantung koroner. Risiko perokok aktif terkena penyakit jantung lebih tinggi dibanding perokok pasif.

Meski demikian, paparan asap orang lain tetap meningkatkan risiko bagi perokok pasif.

Kolesterol darah tinggi

Kolesterol darah berhubungan dengan penyakit jantung koroner.

Semakin tinggi kolesterol dalam darah, maka semakin meningkat juga risiko orang terkena penyakit jantung.

Tingginya kolesterol ini juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, faktor keturunan, dan pola makanan.

Tekanan darah tinggi

Tekanan darah yang tinggi meningkatkan beban kerja jantung dan menyebabkan otot jantung menebal dan menjadi lebih kaku.

Pengerasan otot jantung ini membuat jantung berfungsi tidak normal.

Selain menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan gagal jantung kongestif.

Baca: Mertua Cecep Reza Ungkap Keluhan Pemeran Bombom Ini sebelum Meninggal Dunia, Sebut soal Berat Badan

Baca: Cecep Reza

Saat tekanan darah tinggi dibarengi dengan obesitas, kebiasaan merokok, diabetes, kolesterol darah tinggi, semakin tinggi risiko seseorang terkena serangan jantung atau stroke.

Ketidakaktifan fisik

Gaya hidup tidak aktif menjadi salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner. Aktivitas fisik yang teratur, membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

Mengendalikan kolesterol darah, diabetes, dan obesitas dapat dibantu dengan aktivitas fisik.

Selain itu, pada beberapa orang dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Obesitas

Orang dengan lemak tubuh berlebih-terutama di bagian pinggang- lebih memungkinkan untuk mengembangkan penyakit jantung dan stroke.

Orang dewasa dengan berat badan berlebih dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi atau gula darah tinggi dapat membuat perubahan gaya hidup untuk menurunkan berat badan.

Banyak orang mengalami kesulitan menurunkan berat badan.

Tapi, bagi mereka yang berada di atas berat badan normal, penurunan berat badan yang berkelanjutan dapat menyebabkan penurunan yang signifikan dalam beberapa faktor risiko.

Diabetes

Diabetes meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular. Bahkan, saat kadar glukosa terkendali, diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Risikonya lebih besar jika gula darah tidak terkontrol dengan baik. Dari 68 persen pengidap diabetes berusia di atas 65 tahun, 16 persen di antaranya meninggal karena stroke.

Untuk membantu mengelola gula darah, penderita diabetes yang mengalami obesitas harus melakukan perubahan gaya hidup, seperti lebih baik dalam hal makanan atau melakukan aktivitas fisik teratur.
Faktor lain

Alkohol

Minum terlalu banyak alkohol dapat meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan risiko kardiomiopati, stroke, kanker, dan penyakit lainnya.

Alkohol dapat berkontribusi terhadap trigliserida tinggi dan menghasilkan detak jantung tidak teratur.

Tak hanya itu, konsumsi alkohol yang berlebihan berkontribusi pada obesitas, kecelakaan, hingga bunuh diri.

Sebisa mungkin, batasi konsumsi alkohol.

(TRIBUNNEWSWIKI/Afitria) (Kompas.com/Dian Reinis Kumampung)



Penulis: Nur Afitria Cika Handayani
Editor: Melia Istighfaroh
BERITA TERKAIT

Berita Populer