Bagi Lydia Kieven, belajar budaya jawa adalah bentuk ungkapan terima kasih.
Dr. Lydia Kieven lahir di daerah Köln, Jerman.
Di negara Jerman, Lydia Kieven dikenal sebagai ahli budaya Jawa.
Dilansir oleh Deutsche Welle, (5/11/2019), dalam acara kebudayaan 'Cultoography' yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Duisburg-Essen di bulan Oktober lalu, Lydia tampil di atas panggung bersama dua temannya.
Mereka menceritakan kisah cinta antara Panji dan Sekartaji.
Penampilan Lydia Kieven dan teman-temannya diselingi pembacaan puisi, lantunan gamelan dengan diiringi tembang macapat.
Penonton yang datang nampak terpukau lantaran cerita Panji berhasil dibuat lebih hidup.
Lydia Kieven merupakan seorang perempuan yang dulunya mengikuti kuliah Malaiologie atau bahasa, sastra dan budaya Indonesia.
Lydia telah melakukan penelitian tentang Jawa selama bertahun-tahun.
Penelitian Lydia meliputi kesenian dan sastra Jawa kuno (altjavanische Kunst und Literatur).
Lydia juga tercatat sering mengunjungi candi-candi dan relief di Yogyakarta dan Jawa Timur.
Lydia juga telah fasih berbahasa Indonesia.
Bagaimana mulanya Lydia tertarik dengan Indonesia bermula saat temannya mengajak pergi berlibur ke Bali.
Sebelumnya, ia selalu punya keinginan untuk pergi ke India, namun tidak jadi.
"Ayo, di Bali ada agama Hindu, di sana mungkin kayak miniatur India," ujarnya menirukan sang teman, dalam Deutsche Welle, (5/11/2019).
Saat berada di Bali, dirinya mengakui mendengar tentang Jawa dan candi-candi yang berdiri di sana.
Lantaran ingin tahu lebih banyak lagi, ia pun pergi ke Jawa.
"…ke Borobudur, ke Prambanan. Terus tertarik dengan relief. Ya dan Jawa akhirnya menjadi lebih penting bagi saya daripada Bali," tutur Lydia.
Saat berada di Jawa Timur dan naik Gunung Penanggunan, Lydia pertama kali melihat relief Panji.
Ketika melihat relief tersebut, ia teringat kata-kata gurunya di Universitas Gadjah Mada, ‘‘kapan-kapan nanti kamu teliti Panji,” tuturnya sambil menunjuk foto relief Panji.
"Jadi seperti ada utusan? Atau pesan? Pesan dalam dari guru itu,” kata Lydia yang pernah meneliti tentang Arjunawiwaha ini.
Pada mulanya, Lydia hanya suka akan reliefnya.
Panji berasal dari Jawa dan menurutnya merupakan sosok yang sederhana.
Dari kesederhanaan yang merupakan inti kisah Panji tersebutlah membuat Lydia mempelajari ceritanya.
"Panji sendiri juga… dia berkelana di desa-desa. Bisa bertahun-tahun hidup di desa membantu para petani. Ya dan kesederhanaan itu, memang sangat menyentuh," katanya.
Tak hanya itu, menurutnya Panji memiliki pesan untuk tidak putus asa, terus berusaha meraih suatu tujuan dan kemampuan untuk mengatasi banyak halangan juga termasuk sebagai hal-hal yang bisa dipelajari dari cerita Panji.
Lydia memulai meneliti tentang Panji pada tahun 1996.
Namun demikian, perjalanannya diakuinya tidak begitu lancar.
Pada saat itu ia masih harus bekerja, mencari uang, lalu pernah juga jatuh sakit.
Rasa putus asa sering Lydia rasakan.
Ia sempat berpikir bahwa disertasinya tidak akan selesai.
Kendati demikian, berkat dukungan teman-teman ia kembali bangkit.
Ia kemudian meneruskan usahanya meski menghadapi rintangan.
Pada suatu waktu, Lydia mendapatkan tawaran dari Universitas Sydney.
Ia mendapat kesempatan dapat berkenalan dengan Profesor Adrian Vickers, seorang peneliti Australia yang saat itu sedang di Bali.
‘‘Kami berkenalan dan dia mendukung…terus dia mengurusi saya dapat beasiswa di sana. Akhirnya saya 2,5 tahun di sana bisa konsentrasi hanya pada itu saja. Maka itu saya berhasil," ungkapnya.
Tak hanya melakukan penelitian, Lydia juga mengajarkan pengetahuannya tentang Jawa terhadap orang Jerman maupun Indonesia.
Di Goethe Universität Frankfurt, dirinya sempat mengajar Bahasa Indonesia dan seminar tentang Indonesia, khususnya Jawa, selama lima tahun.
Selain itu ia juga bekerja sebagai dosen lepas di Universitas Bonn.
‘‘Selalu tentang budaya Indonesia atau Jawa termasuk Panji, termasuk museologi, termasuk kesenian…ada kesenian macam-macam. Pokoknya selalu ada kaitan dengan cultural heritage, warisan budaya," ungkapnya.
Ketika ditanya perihal antusiasme mahasiswa Jerman, ia bercerita bahwa mereka sangat tertarik dan aktif mengambil inisiatif untuk membuat makalah atau presentasi.
Hal itu membuatnya kagum terhadap para mahasiswa.
"Ternyata ya mereka juga, gimana ya, merasakan antusiasme saya, jadi seperti mereka ketularan,” katanya sambil tertawa.
Menjelaskan dan menceritakan budaya Indonesia kepada orang Indonesia adalah hal yang sedikit aneh baginya
"Kalau di Indonesia…Saya dulu sering merasa malu, bagaimana saya sebagai orang asing kasih tahu tentang budaya Jawa sendiri… Maka itu saya sering ah malah menolak waktu saya ditawarkan,” katanya.
Namun perlahan ia mengerti bahwa apa yang ia lakukan ini berguna dan merupakan suatu bentuk timbal-baliknya.
"Saya dapat banyak dari budaya Jawa, jadi saya juga bersedia mengembalikan, menyampaikan pengetahuan saya,” jelasnya.
Lydia sempat menceritakan reaksi orang-orang yang mengatakan padanya bahwa mereka (warga Indonesia di Jerman) merasa malu lantaran tidak terlalu tahu tentang budaya sendiri.
Pertunjukkan yang ia lakukan bersama teman-teman juga merupakan cara lain untuk menyampaikan pengetahuannya tentang budaya Jawa.
"Jadi tidak cuma saya vortrag (presentasi), kering ya. Lebih puitis," tutur perempuan yang belajar macapat di UGM ini.
Pertunjukkan ini ditampilkan pertama kali di sebuah acara kebudayaan yang diselenggarakan oleh PPI di Jerman di kota Duisburg.
Rencananya mereka ingin menawarkan penampilan serupa di acara lainnya.
Menurut Lydia, mereka (orang-orang Jerman) yang kurang tahu tentang Indonesia biasanya cenderung mengasosiasikan negara ini dengan Bali.
Hal tersebut diakuinya adalah imbas promosi dari tanah air.
"Ya.. itu memang juga dari promosi Indonesia sendiri. Indonesia itu bikin promosi tentang Bali. Pariwisata, selalu mau ke Bali, Bali, Bali," tutur Lydia.
Menurutnya memperkenalkan Indonesia perlu dilakukan secara luas.
"Jangan hanya Jawa, saya sendiri juga Jawa-sentris ya. Itu orang sering bilang oh jangan cuma Jawa saja. Indonesia lebih banyak...,” paparnya.
Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika” lah yang menurutnya harus disampaikan.
Terbatasnya pengetahuan orang-orang tentang Indonesia juga ia kaitkan dengan ruang lingkup akademis.
Menurutnya, memang banyak jurusan dan kajian tentang Asia Tenggara, namun sayangnya, pengetahuan tersebut hanya berada dalam lingkungan universitas saja.
Orang-orang yang datang ke acara kebudayaan Indonesia di Jerman pun biasanya adalah mereka yang sudah tahu tentang Indonesia.
Kendati menyebut diri sendiri sebagai Jawa-sentris, Lydia mengaku belum punya rencana untuk meneliti daerah lain.
Sempat terbesit di pikirannya apakah ini sudah saatnya untuk selesai dengan Jawa.
"Akhirnya saya ke Jawa bulan Juli. Ah tiba-tiba ada banyak ide lagi, masih banyak hubungan dan ini masih terus. Ya ini pribadi. Orang lain juga bisa ya meneliti tentang hal lain," tutur perempuan yang masih sering bolak-balik ke Jawa ini.
--