Peristiwa itu terjadi pada Selasa (5/11/2019) pagi.
Akibat kejadian tersebut dua orang tewas.
Korban tewas itu ialah satu guru dan satu siswa.
Sementara itu belasan siswa mengalami luka-luka.
Menanggapi hal tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengucapkan belasungkawa.
Baca: Sebuah Desa Suruh Warganya Bayar Rp 270.000 untuk Ikut Kursus Cara Memakai Sepatu dan Membawa Tas
Baca: Bermodal Selembar Kertas, Nadiem Presentasi di Depan Komisi X: Saya Tidak Punya Visi Misi Sendiri
"Pertama yang saya ingin ucapkan adalah untuk SD yang di Pasuruan itu, saya ucapkan belasungkawa kepada keluarga korban," kata Nadiem usai rapat kerja bersama Komisi X DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (6/11/2019) seperti dikutip dari Kompas.com.
Nadiem Makarim mengaku telah mengirim tim dari Inspektorat jenderal untuk menginvestigasi penyebab ambruknya atap SDN Gentong di Pasuruan, Jawa Timur tersebut.
"Saya sudah mengirim tim dari inspektorat jenderal untuk pergi ke sana dan menginvestigasi.
“Ini merupakan suatu tragedi yang sangat menyedihkan," ujarnya.
Baca: Ini Pesan dari Mendikbud Nadiem Makarim untuk Pemuda Indonesia saat Upacara Peringatan Sumpah Pemuda
Baca: Kecewa Jokowi Pilih Nadiem Jadi Mendikbud, Muhammadiyah: Pendidikan Bukan Hanya Persoalan Teknologi
Lebih lanjut, Nadiem mengatakan, sudah berkomunikasi dengan pemerintah daerah Pasuruan, dan berkomitmen untuk mendukung langkah Pemda dalam menyelesaikan kasus tersebut.
"Kami komit untuk mendukung pemda, untuk menyelesaikan investigasinya dan memastikan bagaimana kita rencana ke depan untuk menghindari hal ini terjadi lagi," pungkasnya.
Dikutip dari Surya.co.id, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pasuruan, Siti Zunniati mendapat laporan bahwa gedung SDN Gentong tersebut baru dibangun 2 tahun.
"Saya hanya menerima laporan kalau bangunan ini dibangun dua tahun yang lalu.”
“Tapi, berapa detailnya. Saya kurang tahu. Saya baru tiga bulan jadi PLT di sini," jelasnya.
Siti berjanji akan bertanggungjawab atas insiden ini.
"Untuk langkah lebih lanjut kami tunggu arahan Pak Sekda.”
“Yang jelas, semua korban sudah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis," tambahnya.
Sekretariat Daerah (Sekda) Pemkot Pasuruan Bahrul Ulum menduga, ada kesalahan konstruksi bangunan dibalik ambruknya atap empat ruang kelas di SDN Gentong, Kota Pasuruan yang makan dua nyawa dan puluhan luka-luka.
"Secepatnya kita akan panggil Kadispendik, terkait kejadian yang menimpa anak didik SDN Gentong," tegas Bharul Sekda Kota Pasuruan melalui sambungan selulernya, Selasa (5/11/2019).
Menurut Bahrul, pemicu ambruknya atap sekolah harus dicari.
Karena informasi yang dia terima masih simpang siur.
"Rehab sekolah dilakukan tahun 2012. Ada yang bilang 2016. Ini yang tidak jelas," kata dia.
Bahrul menduga, penyebab robohnya atap empat ruang kelas bangunan akibat kesalahan konstruksi. Namun pihaknya tidak mau beramsumsi.
"Untuk pastikan semua itu. Kita akan kordinasi dengan dinas terikait," katanya.
Akhmad Ikhsan, seorang saksi mengungkapkan peristiwa ambruknya atap SD itu terjadi sekitar pukul 08.15.
Saat itu, kata dia, di ruang kelas 5A, 5B siswa sebagian sedang olahraga.
Sedangkam untuk ruang kelas 2A dan 2B siswa sedang belajar mengajar.
“Tanpa ada angina dan hujan, brak, mendadak atap ambruk dan langsung menimpa guru serta siswanya,” kata Ikhsan.
Puluhan siswa lalu berjamburn keluar, dan ada pula yang menangis.
"Guru - guru yang tidak ada di dalam kelas itu langsung datang dan berusaha menenangkan anak - anak. Saya langsung masuk ke dalam kelas untuk mencari korban lainnya," katanya.
Dia menyebut, feeling-nya benar.
Masih ada siswa yang terjepit reruntuhan atap kelas, ada yang menangis dan tidak berani kemana-mana.
Ia lantas menolongnya.
Tak lama, ia melihat ada baju yang warnanya mirip dengan baju guru di sini.
Namun, ia penglihatannya samar karena hampir keseluruhannya tertutup sama material.
"Saya langsung bersihkan materialnya. Dan ternyata benar, itu guru.”
“Itu Bu Rini, saya langsung minta bantuan untuk menarik Bu Rini atau Fina Choironi dari tumpukan material," jelasnya.
Setelah berhasil menarik, ia menyebut, guru tampak lemas dan tak berdaya.
Ia menerangkan, tidak ada darah sama sekali.
Tapi, respon dari guru ini sudah berkurang.