Informasi awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tjetjep Herijana adalah legenda balap motor Indonesia pada 1960-an dan 1970-an.
Tjetjep Herijana pernah mengikuti Macau Grand Prix pada 1970-an, bersama legenda balap lainnya seperti Benny Hidayat.
Pada Macau Grand Prix 1970, Tjetjep berhasil meraih podium tiga, sedangkan podium satu diraih Benny Hidayat.
Namun, karier balap Tjetjep Herijana harus berakhir pada karena kecelakaan parah yang dialaminya di Malaysia pada 1974.[1]
Baca: Benny Hidayat
Baca: Dimas Ekky Pratama
Kehidupan dan Karier
Tjetjep Herijana atau Tjetjep Euw Yong lahir di Bandung pada 1939.
Karier balap roda dua-nya dimulai saat dia masih remaja.
Dia menjalani debut pertamanya di ajang road race Surabaya pada 1954.
Setelah itu, dia mulai ketagihan membalap.[2]
Baca: Gerry Salim
Baca: Rifat Sungkar
Tjetjep tergabung dalam satu tim balap bersama dua pembalap yang juga disegani, yakni Saksono dan Darto.
Mesin dan fairing motornya dirancang khusus oleh Kolonel Hardjojo, satu di antaranya adalah Lamretta J125 3 speed yang dimodifikasi menjadi 4 speed.
Selain itu, Tjetjep juga pernah tergabung dalam tim balap Banteng Keraton.
Dia menggunakan BMW R60 Boxer yang gearbox dan klepnya sudah dimodifikasi di bengkel Angkatan Darat dan Pindad oleh Kolonel Hardjojo dan tim.[3]
Tjetjep rajin mengikuti berbagai perlombaan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Dia menggunakan motor Jawa 350 cc dan sering mengalahkan lawan-lawan senegaranya.
Pada 1970, Tjetjep mengikuti Macau Grandprix bersama Benny Hidayat dan Beng Siswanto.
Motor yang mereka pakai dites dan di-setting di Ancol, karena pada waktu itu Sirkuit Sentul belum ada.
Mereka berangkat ke Macau dengan biaya sendiri karena tidak ada dana sponsor, misal dari agen tunggal.
Namun, mereka sempat dibantu oleh sebuah travel biro yang membantu tiket dan pengangkutannya.
Mereka membawa enam motor.
Pada waktu itu, dia memakai Yamaha TR
Tjetjep dan dua orang temannya harus bersaing dengan pembalap yang menggunakan motor berkubikasi besar, misal 500 cc dan 700 cc.[4]
Namun, Tjetjep berhasil meraih podium ketiga.
Sementara podium pertama didapatkan Benny Hidayat.
Menurut Benny, Tjetjep adalah pembalap yang tidak hanya mengenal taktik, tetapi juga mesin motor.
Tjetjep sempat pergi ke Jerman untuk meningkatkan kemampuan balapnya.[4]
Kecelakaan di Malaysia
Karier balap Tjetjep terpaksa harus berakhir cepat.
Pada GP Malaysia 1974, Tjetjep mengalami kecelakaan parah yang membuat kakinya cedera hingga sekarang.
Tjetjep terpaksa tidak bisa melanjutkan karier balapnya.
Pada 2015, kondisi kedua kaki Tjetjep semakin rapuh.
Dokter pun melarangnya berjalan.
Tjetjep membutuhkan sebuah kursi roda untuk membantu dirinya bergerak.
Selain itu tangan Tjetjep juga mulai melemah.
Tjetjep terpaksa harus berbaring lemah di tempat tidur karena kakinya sudah rapuh akibat tragedi Kuala Lumpur 1974.[5]
Pada Desember 2015, Tjetjep mendapat hadiah Natal berupa kursi roda dari Ulah Adigung Project.
Kursi tersebut adalah hasil modifikasi Kickass Choppers dan Rio Bronx.
Selain itu ada pula sejumlah donasi hasil lelang dan penjualan stiker.
Presenter Ananda Omesh pun memberikan dukungan dan mengajak masyarakat untuk membantu Tjetjep.[6]
Tjetjep memiliki empat anak, namun dia tinggal di Panti Wreda Karitas.
Dia merasa itu lebih baik daripada harus berpindah dari rumah anaknya yang satu ke rumah anak lainnya.[7]