Mulai Senin, dipanggil satu per satu menghadap Presiden Jokowi, lalu diumumkan dan dilantik pada Rabu, sosok para menteri baru Kabinet Jokowi Jilid II menyita perhatian publik.
Akhirnya, ada 40 orang yang masuk sebagai menteri dan pejabat setingkat menteri dalam susunan Kabinet Jokowi-Ma'ruf 2019-2014.
Kabinet baru ini dinamakan Kabinet Indonesia Maju.
Nah, di balik pengumuman para menteri ini, ternyata ada beberapa figur yang menolak saat ditawari Presiden Jokowi untuk menjadi menteri.
Siapa saja mereka? Berikut Tribunnews rangkum dari berbagai sumber:
Baca: AHY Buka Suara saat Namanya Tak Masuk dalam Jajaran Menteri Jokowi-Maruf, Ini Pesannya
Baca: Mengintip Koleksi Mobil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
1. Tri Rismaharini
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini ternyata pernah ditawari untuk menjadi menteri Jokowi.
Dikutip dari akun YouTube KompasTV, Tri Rismaharini mengaku pernah ditawarkan untuk menjadi menteri di pemerintahan Jokowi-Maruf Amin.
Tawaran tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Hal tersebut terjadi ketika Risma bertemu dengan Megawati pada bulan September 2019 lalu.
Risma menyebut saat itu Megawati minta Wali Kota Surabaya tersebut untuk tak buru-buru menjawab.
Baca: AHY Tak Masuk Bursa Menteri, Annisa Pohan Unggah Quote tentang Kebesaran Hati, untuk Suaminya?
Baca: Akui Tak Sempat Tidur sebelum Pelantikan, Wishnutama Datang ke Istana dalam Kondisi Lapar
Namun, Risma tetap menolak tawaran Megawati untuk menjadi menteri di kabinet Jokowi-Maruf Amin.
"Pada bulan September aku ketemu dengan Bu Mega. Aku ditawari untuk menjadi menteri. Tapi sudah sampaikan ke Ibu (Mega), aku ndak," ujar Risma saat itu.
Menurut penuturan Risma, ia menolak untuk menjadi menteri karena dirinya ingin menyelesaikan masa jabatan sebagai Wali Kota Surabaya.
Dikutip dari Kompas.com, meski begitu, Risma tak memungkiri bahwa sebenarnya ia rugi melewatkan tawaran untuk menjadi menteri Jokowi selama lima tahun mendatang.
Namun, hal itu akan bertabrakan dengan komitmennya membangun dan memajukan Kota Surabaya.
"Kalau saya ngomong pribadi, pasti saya ingin pergi (ke Jakarta). Maksudnya siapa yang ndak mau (jadi menteri). Kalau hitung untung rugi, saya tinggal satu tahun, sementara kalau jabatan itu baik, saya bisa lima tahun," tutur Risma.
Baca: Menangis saat Serah-terima Jabatan Menteri KKP, Ini Tanggapan Susi Pudjiastuti yang Digantikan Edhy
Baca: Wishnutama, Nadiem, dan Erick Rela Tinggalkan Perusahaan meski Gaji Menteri Lebih Kecil dari DPR
2. Adian Napitupulu
Politisi PDIP, Adian Napitupulu juga menolak tawaran Presiden Jokowi untuk menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju.
Adian mengatakan, penolakan itu karena dia tidak memiliki bakat menjadi menteri.
"Sudah (bertemu Jokowi), diminta jadi menteri. Saya empat kali bilang, 'ampun Pak Presiden saya tidak punya talenta jadi birokrat, saya tidak punya talenta jadi menteri'," kata Adian saat ditemui di Denpasar, Bali, Sabtu (21/9/3019), seperti yang dikutip dari Kompas.com .
Tawaran itu disampaikan Jokowi saat bertemu Adian pada 13 Agustus 2019.
Namun dalam pertemuan tersebut, Adian mengaku belum sampai membahas untuk posisi menteri apa.
Adian menjelaskan bahwa dia mendukung Jokowi dengan tulus tanpa mengharapkan posisi di pemerintahan.
"Belum bicara posisi (menteri). Saya berjuang habis-habisan buat Jokowi tidak untuk jabatan, tapi untuk Indonesia lebih baik, itu saja. Jadi saya tidak mengejar jabatan," katanya.
Baca: PROFIL LENGKAP 40 Menteri & Pejabat Setingkat Menteri Kabinet Jokowi-Maruf: Mahfud hingga Kapolri
Baca: Deretan Menteri Baru Kabinet Indonesia Maju, Beberapa Tercatat Pernah Diperiksa KPK
3. Victor Laiskodat
Selain Tri Rismaharini dan Adian Napitupulu, Gubernut NTT, Victor Laiskodat juga menolak tawaran untuk menjadi menteri di pemerintahan Jokowi-Maruf Amin.
Menurut Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya, Victor Laiskodat ingin fokus sebagai Gubernur NTT.
Victor, kata Willy, masih diinginkan oleh masyarakat NTT untuk menjadi pemimpin mereka.
"Banyak aspirasi rakyat dan tokoh-tokoh masyarakat dan agama NTT meminta ke presiden untuk kakak Victor tetap memimpin NTT," kata Willy saat dikonfirmasi, Senin (20/10/2019), seperti yang dikutip dari Kompas.com.
"Karena masif permintaan untuk beliau (Victor Laiskodat) terus memimpin NTT," lanjutnya.
Kepala Biro Humas Setda Pemerintah Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu, kepada Kompas.com, Jumat (18/10/2019) mengakui Viktor Bungtilu Laiskodat diminta menjadi menteri dalam kabinet kerja presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin.