Sudjiwo Tedjo menyoroti sikap Politisi PDI-P Arteria Dahlan dalam dialog di Mata Najwa dengan Emil Salim, Rabu (9/10/2019).
Sikap yang dimaksud saat Arteria Dahlan berdebat dengan Dosen Pascasarjana Emil Salim.
Sudjiwo Tedjo lantas mendorong Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk meminta maaf kepada Emil Salim.
Pasarnya, Sudjiwo Tedjo menilai perlakuan Arteria Dahlan kepada Emil Salim yang merupakan sepuh bersama itu kurang pantas.
Sesuai adab, permintaan maaf dari Arteria Dahlan saja sudah tidak level lagi.
Dilansir dari Youtube Najwa Shihab Kamis (10/10/2019), Arteria Dahlan dan Emil Salim terlibat debat terkait hasil survei Mahasiswa yang demo.
Bedasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyatakan mayoritas publik tahu soal demo Mahasiswa dan sebagian besar di antaranya mengetahui Mahasiswa menentang KPK.
Sebanyak 76,3 persen dari yang tahu Mahasiswa menentang KPK setuju Presiden Jokowi keluarkan Perppu.
Menurut Arteria Dahlan, hasil survei itu tidak bisa jadi acuan presiden.
Baca: Tuai Sorotan, Ini Daftar Harta Kekayaan Arteria Dahlan, Ternyata Punya Utang Rp 8 Miliar
Sebaliknya, Emil Salim mengatakan laporan justru menunjukkan politisi merupakan elemen pejabat negara yang paling banyak ditangkap KPK.
Ia bahkan mempertanyakan, “Apakah yang memilih DPR itu hasil dari pilihan yang sesuai dengan masyarakat atau hanya ada bayaran?," dikutip dari Tribunnews Bogor.
Keduanya pun kemudian terlibat adu debat, hingga Arteria Dahlan menunjuk-nunjuk Emil Salim dan menyebutnya sesat.
“Berhasil atau tidak berhasilnya KPK Prof, itu yang tahu kami.
Karena saat terpilih mereka membuat grand design janji-janji apa yang akan mereka kerjakan.
Publik ini tidak tahu, publik hanya terhipnotis dengan OTT-OTT seolah-olah itu hebat, padahal janjinya KPK banyak sekali yang 10 persen pun belum tercapai,” beber Arteria Dahlan kepada Emil Salim.
Kemudian Emil Salim pun menyanggah pernyataan tersebut dengan menyebutkan ketua partai yang terjaring OTT KPK.
“Apa semua ketua partai yang masuk penjara, apa itu tidak bukti keberhasilan KPK?,” tanya Emil Salim.
Baca: Kesal, Warganet Ubah Biodata Arteria Dahlan di Wikipedia dengan Hujatan, Ini yang Ditulis
Kemudian terdengar riuh tepuk tangan dari penonton di studio.
Melihat dirinya tak mendapat dukungan, Arteria Dahlan malah meminta Emil Salim untuk membaca.
“Nggak, itu hanya sebagian.
Loh gini lah, dengan segala horman saya dengan Profesor, Profesor bacalah tugas fungsi kewenangan KPK.
Tidak hanya melakukan penindakan, tapi pencegahannya,” kata Arteria Dahlan.
Seolah ingin menegaskan keberhasilan KPK, Emil Salim kembali memotong pembicaraan Arteria Dahlan yang keluar dari substansi.
“Hukum telah dijatuhkan,” kata Emil Salim, merujuk pada ketua partai yang ditangkap.
Baca: Arteria Dahlan vs Emil Salim di Mata Najwa, Emil: Banyak Ketua Partai Ditahan, Apa Itu Bukan Bukti
Kemudian Arteria Dahlan pun melanjutkan alasannya kenapa DPR RI ingin membuat Dewan Pengawas KPK.
“Nih ya Prof, biar Prof jelas, bicara hukum sama ahli hukum, bicara hukum pidana korupsi sama ahli pidana korupsi, bukan saya mendiskreditkan Prof,” katanya sambil menunjukkan tumpukkan kertas yang dibawanya.
Ia pun membeberkan beberapa bukti yang ia bawa, bahkan hendak menghadirkan seseorang ke atas panggung.
“Ini dia buktinya, ayo berdiri! Sini!,” katanya menunjuk ke arah penonton.
Hal itu kemudian dihentikan Najwa Shihab, sebagai tuan rumah Mata Najwa.
“Anda menunjuk siapa? Penonton saya?,” tanya Najwa Shihab.
“Sini sini, kalau nggak berdiri,” kata Arteria Dahlan sambil terus menunjuk ke arah penonton.
“Sebentar, saya yang berhak memanggil orang untuk naik ke panggung saya.
Tunggu dulu di situ Bapak, saya akan cek dulu Anda siapa,” kata Najwa Shihab.
Lalu Arteria Dahlan pun melanjutkan penjelasannya dengan nada tinggi dan semangat berapi-api.
Ia bahkan mulai menunjuk Emil Salim saat memperlihatkan bukti di Sumatera Barat.
Kemudian Emil Salim mencoba menjelaskan soal laporan yang disampaikan oleh KPK.
“Begini Bung, di dalam aturan undang-undang KPK, ada kewajiban menyampaikan laporan,” kata Emil Salim.
Namun belum selesai bicara, Arteria Dahlan langsung memotongnya dengan nada yang tinggi bahkan sampai bangkit dari kursinya.
“Nggak pernah dikerjakan Prof! Prof tahu nggak!,” ujarnya.
“Tiap tahun dia menyampaikan laporan!,” kata Emil Salim.
"Mana Prof? Saya di DPR Prof! Jangan begitu Prof, saya di DPR, saya yang tahu Prof, mana? Prof sesat! Ini namanya sesat!," teriaknya.
Melihat itu, Emil Salim hanya tertawa.
Kemudian melalui akun Twitter-nya, Sudjiwo Tedjo meminta Megawati Soekarno Putri untuk langsung meminta maaf kepada Emil Salim.
"Mbak Mega sebaiknya minta maaf kepada Bapak Emil Salim atas perlakuan kasar anggotanya terhadap sesepuh kita bersama itu.
Bahkan bila salah pun, orangtua tak boleh dikasari.
Begitu adab kita mengajar.
Permintaan maaf langsung dari yg bersangkutan, sudah tidak level lagi, Mbak," tulisnya Rabu malam.
Kemudian pagi ini Sudjiwo Tedjo masih menuliskan hal yang sama.
Ia pun masih menuntut Megawati untuk meminta maaf pada Emil Salim.
"Baiklah, bila Mbak Mega tidak berkenan mohon maaf kepada Bapak Emil Salim atas perlakuan kasar anak buah Mbak kepada beliau, saya usul Mbak:
Gmn kalau yg bersangkutan kita anugerahi gelar “BAPAK BUDI PEKERTI INDONESIA”? Upacara penganugerahannya di depan #anakSTM se-Indonesia?," tulisnya lagi.