"Saya minta Prof Emil tarik ucapannya. Baca dulu dengan baik materi muatan revisi UU KPK, pahami fakta hukum dan sosial yang ada, bicara sesuai keahlian saja," ujar Arteria.
"Beliau kan ekonom tapi bicara seolah-olah ahli hukum. Jangan bicara revisi UU KPK karena DPR banyak yang ditangkap," tuturnya.
Arteria Dahlan juga mempertanyakan sikap Emil yang berani mengkritik UU KPK sampai sejauh itu.
Ia juga meminta Emil untuk mengingat kembali perilaku korupsi di zaman Orde Baru.
"Saya juga menanyakan sadar enggak beliau bahwa beliau dibesarkan oleh Orba yang penuh dengan perilaku koruptif. Apa yang beliau perbuat? Jangan tiba-tiba tersadarkan saat ini dan merasa diri lebih hebat lebih bersih dari kami-kami yang di DPR," pungkasnya.
Pada awalnya Arteria berbicara tentang publik yang terhipnotis dengan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK.
"Publik ini nggak tahu, publik ini terhipnotis dengan OTT, OTT. Seolah-olah itu hebat, padahal janji-janjinya KPK banyak sekali di hadapan DPR yang sama sekali kita katakan sepuluh persen pun belum tercapai hingga saat ini," kata Arteria.
Kemudian, pernyataan itu pun dibalas Emil Salim dan menyinggung soal ketua partai yang terjerat kasus di KPK.
"Apa semua ketua partai masuk penjara, apa itu tidak bukti keberhasilan KPK?" ujar Emil disambut sorak penonton.
Arteria Dahlan menanggapi bahwa penangkapan ketua partai hanya sebagian kecil dari kerja KPK dan ia menyoroti sejumlah hal mulai dari monitoring hingga pencegahan.
"Nggak itu sebagian kecil Prof. Prof, gini loh, Prof dengan segala hormat saya sama profesor profesor bacalah tugas fungsi kewenangan KPK, tidak hanya melakukan penindakan tapi bagaimana pencegahan. Bagaimana penindakannya, bagaimana juga supervisi, monitoring ini dan koordinasi ini tidak dikerjakan Prof, tolong jangan dibantah dulu Prof," terang Arteria.
Selanjutnya Arteria menjelaskan alasan pembentukan dewan pengawas dan menyinggung soal KPK gadungan.
Setelahnya, Arteria berbicara mengenai sejumlah kasus di Sumatera Barat yang menurutnya tidak pernah diangkat.
"Di Sumatera Barat, saya buktikan lagi, ini ada kasus Rp 6 triliun, dana bencana kemudian juga masalah KONI, kemudian juga masalah pasar, enggak pernah diangkat, kenapa dicek lagi apakah ada serah terima penyerahan kebun sawit, motor-motor besar, siapa yang menerimanya tanyakan sama beliau?" ujarnya.
"Ingin saya katakan inilah yang ingin kita coba, kita hargai capaian-capaian KPK Prof, tapi tidak boleh menutup mata kalau memang harus ada pembenahan terhadap KPK," sambung Arteria.
Emil Salim kemudian mengatakan ada kewajiban dalam UU KPK untuk menyampaikan laporan namun ditepis Arteria.
Baca: Tuai Sorotan, Ini Daftar Harta Kekayaan Arteria Dahlan, Ternyata Punya Utang Rp 8 Miliar
Baca: Arteria Dahlan vs Emil Salim di Mata Najwa, Emil: Banyak Ketua Partai Ditahan, Apa Itu Bukan Bukti
"Nggak pernah dikerjakan Prof. Prof tahu nggak?" kata Arteria yang nada bicaranya mulai keras.
"Tiap tahun menyampaikan laporan," ujar Emil.
"Mana Prof, saya di DPR, Prof. Nggak boleh begitu Prof, saya yang di DPR saya yang tahu, mana, Prof sesat, ini namanya sesat," kata Arteria memotong pernyataan Emil dengan menunjuk-nunjuk ke arah Emil.
Perdebatan Arteria dengan Emil pun berlanjut.
Di segmen lain, Arteria pun juga berdebat soal demokrasi, pemilihan dan korupsi.