Ibu Jadi Wali Kota, Ayah Pimpin Sebelumnya, Anak Jabat Ketua DPRD, Kisah Kader Golkar di Bontang

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Neni Moernaeni, Wali Kota Bontang (Kiri), Andi Sofyan Hasdam, Mantan Wali Kota Bontang (Tengah), dan Andi Faisal Sofyan Hasdam (Kanan)

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dua kader Partai Golongan Karya (Golkar) berhasil menduduki posisi penting eksekutif dan legislatif secara bersamaan.

Menariknya, kedua kader Golkar tersebut adalah seorang ibu dan anak.

Sang ibu bernama Neni Moerniaeni menjabat sebagai Wali Kota Bontang sejak Maret 2016.

Sedangkan anaknya, Andi Faisal Sofyan Hasdam menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang, seperti dilaporkan Kontributor Samarinda, Kompas.com, Jumat, (4/10/2019).

Pimpinan DPRD Bontang diambil sumpahnya oleh hakim untuk mengabdi bagi bangsa dan negara. (TribunKaltim.co)

History Repeats Itself

Kutipan yang berarti "Sejarah Mengulang Dirinya" merupakan pemaknaan yang sekiranya cocok dalam kontestasi politik di Bontang, Kalimantan Timur di mana Partai Golkar berkuasa penuh di daerah ini.

Untuk mencari tahu lebih dalam dari silsilah keluarga yang menduduki jabatan penting ini, Tribunnewswiki.com melakukan pencarian informasi di berbagai media massa.

Menarik untuk diketahui, ayah Andi, Sofyan Hasdam juga merupakan Wali Kota Bontang dua periode sebelumnya (1999 - 2011).

Sebelumnya, Sofyan Hasdam memimpin Kota Bontang selama 10 tahun atau dua periode.

Sofyan Hasdam yang juga dokter saraf pernah tersangkut kasus korupsi dana premi asuransi senilai Rp 2,25 miliar.

Sementara ibu Andi, sebelum menjabat sebagai wali kota, Neni Moeniaeni menjabat sebagai Ketua DPRD Bontang setahun sebelum suaminya lengser.

Sejarah mencatat, bahwa pada masa itu, antara suami dan istri memegang jabatan di eksekutif dan legislatif.

Kini fenomena tersebut terulang kembali dalam pola sejarah.

Dua kader Golkar yang resmi duduk sebagai wali kota sekaligus ketua DPRD Bontang, adalah ibu dan anak.

Baca: Partai Golongan Karya (Golkar)

4.640 Suara Dukungan Masyarakat

Andi Faisal Sofyan Hasdam berusia 34 tahun secara resmi dilantik pada Jumat (4/10/2019) di Bontang.

Saat dilakukan konfirmasi oleh Kompas.com, Andi Faisal mengaku bahwa keinginan menjadi ketua DPRD Kota Bontang bukan datang dari dirinya, namun dorongan masyarakat.

Sidang pleno untuk mengusulkan pimpinan DPRD dari DPD II Golkar Bontang mengusulkan Andi untuk duduk sebagai ketua.

"Saya tidak ada niat mau maju jadi ketua DPRD. Cuma masyarakat selalu datang minta saya," katanya, Jumat (4/10/2019).

Sebelumnya, ia bersama dua nama lainnya diusulkan ke DPP Golkar yang mekanismenya dilakukan melalui DPD I Golkar Kaltim.

Turunlah SK DPP Golkar yang berisi keterangan penunjukan dirinya sebagai Ketua DPRD Bontang.

Diakui olehnya, secara pribadi Andi tidak tahu persis pertimbangan DPP Golkar menunjuk dirinya sebagai Ketua DPRD.

Kendati demikian, suara Andi terbanyak di antara kader Golkar lainnya yaitu sebesar 4.640 suara yang setara dengan perolehan dua kursi anggota DPRD.

"Saya tidak tahu pertimbangan DPP apa. Tapi saya yang ditunjuk oleh DPP jadi ketua DPRD Bontang," ujarnya.

Baca: Golkar Sembelih 24 Ekor Sapi, Wujud Harapan Dapat Usung Capres dan Cawapres Sendiri di Pemilu 2024

Konflik Kepentingan ?

Disinggung adanya kepentingan (karena ibunya Wali Kota), Andi membantah ada konflik kepentingan dirinya dengan sang ibu yang menjabat sebagai wali kota Bontang.

"DPRD itu sifatnya kolektif kolegial. Semua keputusan diambil bersama, bukan orang perorang," kata Andi.

Andi menambahkan bahwa baginya lembaga DPRD dan eksekutif harus bersinergi dalam pembangunan.

"Jadi siapa pun selain saya jadi ketua DPRD, harus punya hubungan baik dengan pemerintah," jelas Andi.

Relasi yang baik dengan pemerintah, menurutnya diperlukan dalam memudahkan pembahasan anggaran, regulasi, dan lainnya.

Bantahan Ada Peran Ibu

Disinggung soal ada peran sang ibu dalam jalan menuju jabatan Ketua DPRD,  Andi membantah peran ibunya sebagai wali kota

"Saya ingin dilepas dari bayang-bayang ibu atau ayah saya. Saya sering turun ke masyarakat. Saya turun sosialisasi, tidak ada bayang-bayang ortu," ujar Andi.

Andi menegaskan bahwa ia tidak ingin hak politiknya dikebiri saat jadi Ketua DPRD Kota Bontang.

Menurtnya hal tersebut menjadi tidak adil.

"Namanya politik. Kalau ada yang tidak suka, selalu goreng-goreng," katanya.

 

Sang Ibu Datang di Pelantikan Anaknya

Pelantikan unsur pimpinan DPRD Bontang berjalan lancar.

Kendati tak dihadiri oleh Ketua DPRD Bontang, sementara, Nursalam.

Dilansir oleh TribunKaltim.co, ketiga unsur pimpinan masing-masing, Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, Wakil Ketua DPRD I Junaidi dan Wakil Ketua II, diambil sumpahnya oleh Kepala Pengadilan Negeri atau PN Bontang, Praditia Danindra.

Para unsur pimpinan secara bergantian diambil sumpahnya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara selama menjabat.

"Saya bersumpah akan mengabdi untuk bangsa dan negara," ujar Andi Faizal Sofyan Hasdam mengulang perkataan hakim.

Saat proses penyerahan palu sidang, posisi Ketua DPRD Bontang sementara digantikan oleh Sekretaris DPRR, Lukman.

Lukman menyerahkan palu sidang kepada Ketua DPRD definitif periode 2019-2024, Andi Faiz Sofyan Hasdam.

Saat pengambilan sumpah, wajah Walikota Bontang, Neni Moerniaeni tampak haru.

Beberapa kali terlihat menyeka air mata di balik kaca matanya.

Orang nomor satu itu di Kota Bontang ini terus menatap putra keduanya mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan kopiah lengkap.

Diketahui, Neni mencalonkan diri sebagai wali kota Bontang pada 2010.

Namun, dirinya kalah melawan rivalnya, Adi Darma.

Lima tahun berselang pada 2015, Neni kembali bertarung dengan rival yang sama.

Kali Ini Neni menang.

Sampai sekarang, Neni masih memegang jabatan sebagai orang nomor satu di Bontang didampingi Basri Rase.

Di sisa masa jabatan Neni, putra keduanya, Andi Faizal, naik menjadi ketua DPRD.

Baca: Golkar akan Lakukan Studi Banding dengan Partai Komunis China, Ini Tujuannya

 

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data baru dan atau usulan perubahan untuk menambah informasi

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: haerahr

Berita Populer