Kisah di Balik G30S: Peran Ahmad Yani dan Kronologi Tewas di Tangan PKI

Penulis: Sekar Dwi Setyaningrum
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ahmad Yani

TRIBUNNEWSWIKI - Ketika kemerdekaan telah diproklamasikan, Ahmad Yani tetap aktif dalam dunia militer.

Setelah kemerdekaan ia membentuk sebuah batalion.

Di Batalion tersebut ia menjadi komandan.

Batalion dibentuk untuk melawan tentara Inggris yang pada saat itu sedang membara di Magelang.

Ahmad Yani ditugaskan untuk menumpaskan anggota DI/TII pada 1952.

Kemudian Ia mendirikan sebuah pasukan khusus yang bernama The Benteng Raiders.

Pada 1955 Ahmad Yani ke Amerika Serikat dan belajar di Komando dan Staff Umum Kampus Kemiliteran wilayah Fort Leavenworth, Texas.

Setelah satu tahun Ahmad Yani kembali ke Indonesia, ia dipindahkan ke Mabes Angkatan Darat Jakarta.

Ia ditugaskan untuk menjadi anggota staff umum Abdul Haris Nasution.

Ahmad Yani dan Abdul Haris Nasution. (HISTORIA.ID/Gun Gunadi/Historia.)

Ahmad Yani pernah menjabat menjadi Asisten Logistik Kepala Staff dan menjadi Wakil Kepala Staff AD untuk Organisasi dan Kepegawaian.

Pada Agustus 1958 ia mengeluarkan instruksi berupa operasi 17 Agustus.

Operasi tersebut ditujukan untuk pemberontak "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" yang sedang beroperasi di Sumatera Barat.

Ahmad Yani dan pasukannya berhasil memenangkan Padang dan Bukittinggi dari pemberontak.

Keberhasilannya membuat Ahmad Yani mendapatkan kenaikan pangkat sebagai staff Wakil Kepala Angkatan Darat ke 2 pada 1 September 1962.

Ia dipromosikan untuk menjadi staff Kepala Angkatan Drat pada 13 November 1963.

Kemudian ia menjadi anggota kabinet dan menggantikan posisi Jenderal Nasution.

Terbunuh di Tangan PKI

Ahmad Yani selalu berbeda paham dengan PKI atau Partai Komunis Indonesia.

Ia tidak menyetujui keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima.

PKI ingin Angkatan Kelima ini berisi buruh dan tani yang diberikan senjata.

Karena ketidaksetujuannya, Ahmad Yani menjadi target dari PKI yang diculik dan dibunuh.

Pasukan yang akan menangkap Letjen Ahmad Yani telah berada di rumahnya di Jalan Lembang.

Pemimpin regu Aisten Letnan Satu Mukidjan yang membawahi sekira satu setengah kompi pasukan yang dibawa dengan dua truk dan dua bus.

Mukidjan kemudian membagi regunya menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama menjaga bagian belakang, kelompok kedua menjaga bagian depan rumah, dan kelompok ketiga yang dipimpin langsung oleh Mukidjan dan Sersan II Raswad masuk ke halaman utama dan masuk rumah.

Mereka langsung berbincang-bincang dengan para pengawal Yani dan mengatakan bahwa ada pesan penting dari presiden.

Saat para pengawal lengah, mereka kemudian disekap dan senjatanya dilucuti.

Saat Letjen Ahmad Yani muncul, Ruswad segera memberitahu bahwa Presiden Sukarno sangat membutuhkan Letjen Ahmad Yani sekarang juga.

Yani kemudian minta izin untuk mandi dan berganti pakaian, namun permintaannya ditolak. Ketika Yani meminca izin untuk berganti pakaian, hal ini juga ditolak.

Letjan Yani geram dan memukul salah seorang di antara mereka. Yani kembali ke kamar dan langsung menutup pintu kaca.

Saat itulah, Raswad memerintahkan Sersan Dua Gijadi untuk menembak.

Tujuh peluru menembus kaca dan akhirnya membunuh Yani.

Jenasah Letjen Ahmad Yani kemudian diseret dengan pososo badan dan kepalanya berada di lantai.

--

Sampai tulisan ini diterbitkan, Tribunnewswiki.com masih terus melakukan validasi data.

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data baru dan usulan perubahan untuk menambah informasi.

--

(TribunnewsWiki/Sekar/Dinar)



Penulis: Sekar Dwi Setyaningrum
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer