Kisah Dokter Soeko, Meninggal dalam Kerusuhan Wamena Saat Mengabdi di Pedalaman Papua

Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suasana kerusuhan di Wamena

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dokter Soeko Marsetiyo, salah seorang dokter yang bertugas di pedalaman Papua menjadi salah seorang korban dalam kerusuhan Wamena.

Hal tersebut membuat dunia kesehatan Papua berduka.

Pasalnya, dokter Soeko sudah lima tahun ini bertugas di Kabupaten Tolikara, Papua.

Dikutip dari Kompas.com, Kamis (26/9/2019), dokter Soeko yang berusia 53 tahun itu berprofesi sebagai dokter umum yang bersedia meninggalkan keluarganya di Yogyakarta untuk melayani masyarakat di pedalaman Papua.

Sekretaris Dinas Kesehatan Papua dr Silwanus Sumule, SpOG (K) mengakui saat ini tidak mudah mencari seorang dokter yang bersedia ditugaskan di wilayah terpencil walau pada saat disumpah menjadi seorang dokter, mereka harus mau bertugas di manapun dan dalam kondisi apapun.

Namun, hal ini berbeda ketika dr Soeko datang ke Papua sekitar tahun 2014.

"Saya tidak terlalu tahu dia sebelumnya bertugas di mana, tetapi ketika dia datang di Papua dia langsung bertugas di Tolikara dan memang dia meminta pelayanannya di daerah yang terisolir," tuturnya saat seperti dilansir Kompas, Kamis (26/9/2019).

Baca: Korban Tewas Kerusuhan Wamena Bertambah Jadi 32 Orang, Rata-rata Ditemukan Hangus Terbakar

Silwanus menilai, dengan usia yang tidak muda lagi, seorang dokter biasanya sudah ingin merasakan kehidupan yang nyaman.

Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi dokter Soeko yang terus bersikeras untuk tetap mengabdi di pedalaman Papua.

"Itu luar biasa, beliau mau mengabdi di daerah yang sulit di usianya sekarang 53 tahun. Biasanya orang sudah meminta di kota, dia masih meminta untuk bertahan di daerah yang terisolir," kata Silwanus. 

dr Soeko Marsetiyo

Dunia kedokteran berduka

Meninggalnya dr Soeko pada 23 September 2019 setelah sebelumnya sempat mendapat penanganan medis di RSUD Wamena merupakan duka bagi seluruh insan kesehatan di Papua.

Silwanus memastikan seluruh insan kesehatan di Papua akan memberikan penghormatan terakhir kepada dr Soeko sebelum jenazahnya akan dikembalikan ke pihak keluarga.

"Ini betul-betul menjadi duka untuk dunia kedokteran, lepas dari semua persoalan yang ada, dalam pelayanan kesehatan kita tidak bicara politik, itu norma di dunia kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat kita tanpa memandang Anda dari golongan mana, yang utama itu keselamatan pasien," ujarnya.

Menurut Silwanus, jenazah dr Soeko ketika tiba di Jayapura akan dibawa dulu ke RS Bhayangkara untuk identifikasi.

"Setelah itu akan ada penghormatan dari semua insan kesehatan yang ada di Papua. Kita akan letakkan jenazah di Dinas Kesehatan dan ketika semua urusan teknis selesai, rencananya kita akan kirim jenazah ke keluarganya di Yogya," katanya.

Baca: Papua Terkini: Korban Meninggal Kerusuhan Wamena Bertambah, 23 Meninggal 77 Orang Luka-luka

Kejahatan terhadap pekerja kemanusiaan

Informasi mengenai tewasnya dr Soeko juga mendapat perhatian khusus dari kantor perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua.

Profesi dr Soeko sebagai seorang pekerja kemanusiaan seharusnya bisa mendapat perlindungan lebih dari semua pihak.

Karena itu, Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua Fritz Ramandey menganggap tewasnya dr Soeko saat kerusuhan Wamena sebagai sebuah kejahatan yang tidak biasa.

Halaman
12


Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer