Misalnya seperti yang dilaporkan Kompas (19/9/2019), terdapat dua ekor beruang mati terbakar di Desa Banyas, Kecamatan kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
Ditemukan juga ular piton raksasa yang mati terpanggang di hutan Kalimantan.
Akibatnya, para pegiat konservasi harus berjuang ekstra keras untuk menyelamatkan satwa-satwa liar di dalam hutan.
Dilansir Intisari Online yang mengutip Mirror, Jumat (20/9/2019), dua ekor orangutan berhasil diselamatkan dari kebakaran hutan di Kalimantan.
Baca: Fakta di Balik Foto Orangutan yang Terluka di Kebun Warga, Dibius dan Dirawat di Pusat Karantina
Namun ada hal yang menyedihkan di balik keberhasilan penyelamatan tersebut.
Salah satu orangutan yang diselamatkan dari kebakaran hutan ditemukan dengan sebuah peluru bersarang di wajahnya.
Kedua orangutan yang diselamatkan itu sudah dalam kondisi dehidrasi.
Masing-masing orangutan yang berjenis jantan dan betina, menempel pada pohon-pohon yang tersisa di area hutan hujan yang terbakar.
Beruntung mamalia asli Indonesia tersebut diselamatkan oleh tim dari International Animal Rescue (IAR).
Kedua orangutan itu dinamakan Bara dan Arang.
Mereka diperkirakan berusia sekitar 20 tahun.
Baca: Api Kebakaran Hutan Mulai Masuk Wilayah Rehabilitasi, Nasib Orangutan Terancam
Ketua IAR Indonesia, Tantyo Bangun, memeringatkan bahwa penyelamatan hanyalah awal dari waktu yang berbahaya bagi spesies yang terancam punah.
"Berdasarkan pengalaman kami tentang konsekuensi yang merusak dari kebakaran hutan pada tahun 2015, kemungkinan efek dari kebakaran ini akan terasa lama setelah api dipadamkan,” ujar Tantyo.
"Banyak orangutan akan terdampar setelah rumah mereka (hutan) terbakar, memicu gelombang penyelamatan orangutan yang mendesak.” Lanjutnya.
Bara dan Arang dibawa ke pusat perawatan amal, dan diharapkan dapat dilepaskan kembali ke alam liar.
Baca: Fakta-fakta Ular Raksasa yang Hangus Akibat Kebakaran Hutan di Kalimantan: Bisa Tiru Suara Mangsa
Karmele Llano Sanchez, direktur IAR Indonesia, menambahkan, kebakaran hutan menjadi masalah serius.
Bukan hanya bagi manusia tapi juga bagi satwa.
"Inilah saatnya bagi kita untuk mengatasi masalah kebakaran, yang tidak hanya mengancam manusia dengan menyebabkan penyakit dan mengganggu kegiatan anak-anak yang tidak dapat pergi ke sekolah karena bahaya asap, tetapi juga untuk orangutan dan rumah hutan mereka. Jika kita tidak melakukan upaya untuk mengatasi masalah ini, populasi orangutan akan semakin terancam," ujarnya.