G30S – Brigadir Jenderal Soepardjo Jenderal Angkatan Darat yang Terlibat dalam Peristiwa G30S

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

G30S - Brigjen Soepardjo


Daftar Isi


  • Kehidupan Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Brigadir Jenderal Soeparjo merupakan satu-satunya Jenderal yang memiliki peran penting dalam G30S.

Bersama Letnan Kolonel Oentoeng Sjamsoeri dari Resimen Tjakrabirawa, Brigjen Soepardjo dituding ikut merancang penculikan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat.

Tercatat sejak Oktober 1965, Soepardjo telah masuk daftar buruan Kodim 0501 Jakarta Pusat.

Brigjen Soepardjo bernama lengkap Mustafa Sjarif Soepardjo merupakan Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat.

Brigadir Jenderal Soepardjo lahir di Gombong pada 23 maret 1923 dan pernah mengikuti sekolah pelayaran calon bintara AL Jepang di Cilacap.

Brigjen Soepardjo masuk TNI setelah Indonesia merdeka.

Soepardjo bertugas di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia, sebagai Panglima Komando Tempur II dalam Komando Mandala Siaga (Kolaga).

Sebelumnya, Soepardjo pernah belajar setahun di Sekolah Staf Tentara Pakistan di Quetta.

Sopeardjo juga merupakan mantan Komandan Resimen Divisi Siliwangi yang ditempatkan di Jawa Barat. (1) 

  • Diduga terlibat dengan Peristiwa G30S


Beberapa sumber mengatakan jika Soepardjo menjadi satu-satunya Jenderal dari Angkatan Darat yang duduk dalam pimpinan Gerakan 30 September 1965.

Namun, dalam catatannya yang berjudul ‘Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer’, Soepardjo mengungkapkan jika dirinya bukanlah pimpinan gerakan dan juga tidak memimpin pasukan apapun dalam G30S.

Apa yang diungkapakan oleh Soepardjo ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh John Roosa, seorang sejarawan University of British Columbia.

Menurut Roosa, Soepardjo bukanlah salah seorang pimpinan inti G30S.

Baca: G30S 1965 - DN Aidit dan Sajak-sajaknya yang Payah

Baca: G30S 1965 - Pembantaian Terhadap Anggota PKI di Maumere, Nusa Tenggara Timur

Peran Soepardjo hanya sebatas sebagai perwira yang mempunyai koneksi untuk berhubungan langsung dengan Presiden Sukarno.

Soepardjo sama sekali tidak menghadiri rapat-rapat perencanaan pada pekan-pekan sebelumnya.

Soepardjo juga baru tiba di Jakarta pada 28 September 1965, tiga hari sebelum aksi dimulai. (2) 

Ketika di Jakarta tersebut, Soepardjo melapor kepada atasannya di Kolaga, Marsekal Omar Dhani, mengatakan jika dirinya akan kembali ke Kalimantan sebelum 1 Oktober 1965.

Namun, Omar Dhani meminta Soepardjo bertahan di Jakarta hingga 3 Oktober 1965.

Soepardjo juga menemui Sjam Kamaruzaman yang dianggap sebagai orang PKI dan intel tentara. (1) 

  • Eksekusi


Setelah peristiwa G30S, Soepardjo sempat bersembunyi selama lebih dari setahun.

Soepardjo menjadi buronan Kodim 0501 Jakarta Pusat sejak Oktober 1965.

Soepardjo dibekuk oleh pasukan yang berada di bawah pimpinan komando Panglima Kodam v Jaya Brigjen Amirmachmud pada 12 Januari 1967, bertepatan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Baca: G30S 1965 - Pembantaian Anggota PKI di Solo dan Sukoharjo

Baca: G30S – Pulau Buru, Tempat Pembuangan Tahanan Politik di Masa Orde Baru

Soepardjo ditangkap sedang berada di loteng rumah bersama Anwar Sanusi, yakni seorang anggota PKI dan dikenal pula sebagai penulis buku pelajaran sejarah di masa itu. (3)

Soepardjo ditahan di Rumah Tahanan Militer Cimahi.

Dua bulan setelah tertangkap, Soepardjo dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan didakwa bersalah atas tindakan makar dan dijatuhi vonis hukuman mati. (2) 

15 Mei 1970, sehari sebelum pelaksanaan eksekusi, seluruh keluarga Soepardjo berkumpul untuk terakhir kali dalam suasana hangat.

Semula Soepardjo meminta agar eksekusi dilakukan dengan mata terbuka. Tapi setelah dibicarakan dengan keluarga, niat itu urung dilaksanakan. (4) 

  • Catatan Soepardjo tentang kegagalan G30S


Di dalam gerakan itu, Soepardjo menjadi perwira yang banyak mengamati bagaimana pergerakan pasukan penculik.

Karena itulah Soepardjo dapat melihat sejumlah kekurangan dalam gerakan itu.

Selama pelariannya 1,5 tahun, Soepardjo sempat melakukan analisis terkait kegagalan Gerakan 30 September 1965 yang kemudian dituangkannya dalam sebuah catatan.

Catatan itu berjudul 'Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja “G-30-S” Dipandang dari Sudut Militer (1966).'

Dalam catatannya tersebut, Soepardjo memandang operasi ini itu gagal di antaranya karena kurangnya persiapan matang, koordinasi yang kacau, kurangnya logistik, dan tidak adanya komando selanjutnya setelah aksi penculikan 7 jenderal TNI AD. 

Soepardjo memang dikenal sebagai ahli strategi dalam beberapa pertempuran.

Sopardjo meyakini jika Gerakan 30 September 1965 bisa berhasil apabila dipersiapkan dengan lebih matang.

Soepardjo kemudian menyimpulkan bahwa G30S gagal karena gerakan ini dipimpin seorang sipil yaitu Sjam Kamaruzaman yang hanya memiliki sedikit sekali pengetahuan tentang prosedur-prosedur kemiliteran.

Catatan milik Soepardjo tersebut disimpan di Museum TNI Satria Mandala, Jakarta.

Selama puluhan tahun, catatan dari Soepardjo tersebut diabaikan oleh para analis dan baru John Roosa yang melirik catatan Soepardjo tersebut.

John Roosa memandang catatan Soepardjo tersebut memiliki bobot keterandalan dan kejujuran yang khas karena ditulis sebelum Soepardjo tertangkap. (5) 

(TRIBUNNEWSWIKI/Ami Heppy)



Nama Lengkap Brigadir Jenderal Mustafa Sjarif Soepardjo


Lahir Gombong pada 23 Maret 1923


Riwayat Karir Komandan Resimen Divisi Siliwangi


Panglima Komando Tempur II dalam Komando Mandala Siaga (Kolaga)


Sumber :


1. tirto.id
2. historia.id
3. www.netralnews.com/news/singkapsejarah/read/177066/kisah-tragis-jenderal-yang-malang-dibekuk-sebagai-hadiah-lebaran
4. wartakota.tribunnews.com
5. www.liputan6.com/news/read/706292/dokumen-supardjo-kesimpulan-pelaku-mengapa-g-30-s-gagal


Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer