Kena Sanksi KPI, Spongebob Juga Tuai Kontroversi di AS, Dituduh Bawa Isu Gay hingga Pemanasan Global

Penulis: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Spongebob Squarepants, animasi asal Amerika yang diciptakan oleh Stephen Hillenburg.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Bukan hanya di Indonesia, kartun Spongebob juga menuai beragam kontroversi di negera asalnya, Amerika Serikat, menyangkut soal isu gay hingga pemanasan global.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan sanksi kepada 14 program siaran yang dianggap melakukan pelanggaran.

Pelanggaran tersebut yakni aturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) KPI Tahun 2012.

Dikutip dari Kompas.com, Big Movie Familiy: The SpongeBob Squarepants Movie menjadi satu dari 14 program tersebut adalah tayangan animasi anak-anak.

Melansir laman New York Times, serial animasi ini memulai debutnya pada tahun 1999 bersama dengan Nickelodeon.

Seri ini dibuat dan dikembangkan oleh Stephen Hillenburg, seorang animator yang sebelumnya bekerja sebagai pendidik ilmu kelautan.

Selang dua dekade kemudian, acara ini masih tayang dan menjadi favorit baik di kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Keberhasilan ini membuat SpongeBob menjadi seri terpanjang Nickelodeon.

SpongeBob juga telah melahirkan video game, buku komik, dan dua film adaptasi.

Baca: Spongebob Squarepants

Film pertama berjudul The SpongeBob SquarePants Movie yang diluncurkan pada tahun 2004, kemudian film kedua yang tayang pada tahun 2015 berjudul The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water.

Kemudian film terakhir rencananya akan tayang pada tahun 2020 mendatang.

Meski mendulang kesuksesan, namun tayangan ini juga menuai kontroversi, baik di luar dan dalam negeri.

Dianggap Mendukung Kelompok Gay

Kontroversi pertama yang dicatat adalah tudingan bahwa acara ini mempopulerkan agenda dari kelompok gay.

Tudingan ini diluncurkan oleh kelomkpok religius dan konservatif pada tahun 2005 lalu.

Salah satu yang menjadi pokok permasalahan adalah adanya video musik yang menggunakan karakter televisi anak-anak untuk mempromosikan toleransi dan keagamaan.

Dalam video tersebut, karakter SpongeBob muncul di dalamnya bersama dengan karakter lainnya.

Kemudian laman The Times menyebutkan, di dalam video tersebut tidak ada satu adegan yang mereferensikan identitas seksual.

Sebelumnya, The Wall Street Journal telah menjelaskan pada tahun 2002 bahwa SpongeBob telah menjadi tokoh populer di kalangan pria gay dewasa.

Namun pihak Nickelodeon melakukan klarifikasi bahwa SpongeBob ditujukan untuk anak-anak berusia dua hingga 11 tahun, dan tidak dimaksudkan untuk menarik kaum homoseksual.

Kala itu, sang kreator, Stephen Hillenburg juga menyebutkan, bahwa karakter yang ada di dalam tayangan tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadi gay.

Pemanasan Global

Pada tahun 2011, program Fox & Friends menyerang Nickelodeon dan SpongeBob karena dianggap mendorong agenda pemanasan global.

Menurut Media Matters, Fox News berulang kali mengkritik buku dan video SpongeBob SquarePants tentang pemanasan global buatan manusia karena tidak memberitahu anak-anak bahwa hal tersebut adalah fakta.

Namun pada kenyataannya, hal tersebut tidak memancing kontroversi di kalangan ilmuwan.

Kemudian, tayangan ini mendapatkan kritik saat SpongeBob dipecat dari pekerjaannya di Krusty Krab pada 2013.

Saat itu, kaum liberal dan konservatif menganggap serial itu bertujuan untuk membuat pernyataan tentang undang-undang perburuhan dan program sosial.

Mengganggu Kemampuan Anak

Kontroversi lain datang saat peneliti dari University of Virginia menerbitkan laporan yang diunggah di jurnal Pediatrics pada tahun 2011.

Baca: Ternyata Inilah Penyebab KPI Beri Sanksi Film SpongeBob SquarePants

Penelitian itu menunjukkan, setelah 9 menit menonton tayangan SpongeBob, kemampuan anak-anak berusia 4 tahun secara signifikan dapat terganggu dibandingkan dengan anak-anak yang menikmati pertunjukan lain.

Pejabat dari Nickelodeon menolak temuan tersebut, dengan mengatakan bahwa anak-anak pra-sekolah bukanlah target audiens dari tayangan ini.

Teguran KPI

Di Indonesia, tayangan ini juga menuai banyak kontroversi. Sepanjang masa tayangnya, bukan kali ini saja pihak KPI menegur animasi tersebut.

Pemberitaan Kompas.com, 15 September 2019 menyatakan, setidaknya, KPI pernah memberikan sanksi pada tayangan anak, termasuk SpongeBob Squarepants pada tahun 2014.

Sanksi tersebut tercantum di laman KPI dengan nomor 2200/K/KPI/09/14 yang diterbitkan pada 19 September 2014.

Saat itu, KPI berpendapat, acara ini memiliki dampak buruk bagi perkembhangan fisik dan mental khususnya bagi anak-anak karena mengandung kekerasan dan adegan berbahaya.

Lalu pada 2016, pemotongan adegan dan sensor pada sejumlah tayangan serial tersebut menuai kontroversi.

Salah satu yang menjadi perbincangan saat itu adalah karakter Sandy tupai yang disensor karena mengenakan bikini.

Karenanya, banyak masyarakat yang menduga bahwa KPI yang melakukan penyensoran ini.

Namun Komisioner KPI Pusat Agathya Lily saat itu berpendapat bahwa pihaknya tidak memiliki kebijakan untuk melakukan sensor.

Dia melanjutkan, hal ini merupakan wewenangan dari lembaga sensor, sementara pihaknya hanya memiliki kewenangan untuk melakukan quality control (QC) berupa editing atau pengaburan jika ada yang dianggap tak layak tayang.

Perhatian 3 Hal Saat Pilih Kartun untuk Anak

Film animasi Spongebob "Big Movie Family: The SpongeBob Squarepants Movie" mendapatkan teguran dari Komisi penyiaran Indonesia (KPI).

Seperti diberitakan Kompas.com, Minggu (15/9/2019), tayangan The SpongeBob Squarepants mendapat teguran karena mengandung unsur kekerasan.

Selain animasi SpongeBob Squarepants, sebanyak 13 program televisi dan radio juga diberi sanksi oleh KPI.

Jenis pelanggaran yang ditemukan KPI dari program-program tersebut bermacam-macam, yakni adanya muatan kekerasan, adegan kesurupan, adegan horor, pemanggilan arwah, dan konflik pribadi.

Meski dibuat khusus anak-anak, memilih film animasi terbaik untuk anak-anak bukan hal yang mudah.

Orangtua tetap harus waspada terhadap tontonan anak-anak karena tidak semua kartun bermanfaat dan memberi contoh yang baik untuk buah hati.

Apa yang harus diperhatikan saat memilih tontonan kartun yang tepat untuk anak-anak?

Melansir dari Hello Sehat, ini tiga hal yang harus Anda perhatikan:

1. Pilih sesuai usia anak

Kartun bisa diperkenalkan paling tidak saat anak berusia 16 bulan.

Pada usia ini, anak sudah mampu menunjukkan ketertarikan pada gerak, warna, suara, dan macam-macam gambar yang dilihatnya.

Akan tetapi, pastikan film kartun yang ditonton anak kita sesuai dengan usianya.

Dikutip dari Kompas.com, tayangan kartun pada televisi biasanya memiliki simbol tertentu yang menunjukkan kategori usia tontonan tersebut.

Simbol tersebut biasanya bisa kita temukan pada sudut kaban atau kiri atas layar kaca.

Berikut simbol kategori pada tontonan anak-anak:

  • SU (semua kalangan di atas usia 2 tahun)
  • P (anak usia prasekolah usia 2-6 tahun)
  • A (anak usia 7-12 tahun)

2. Perhatikan konten tontonan

Memilih kartun yang menghibur memang boleh-boleh saja.

Tetapi, jangan tinggalkan aspek edukasinya. Agar aspek pendidikan terjaga, perhatikan konten tontonan untuk anak.

Untuk usia 1-2 tahun, pilih kartun dengan gambar yang sederhana seperti bola yang bergerak, atau huruf bergerak sembari diiringi musik.

Musik dan tarian akan mengundang anak untuk antusias ikut menggerakkan tubuhnya.

Ini juga bisa jadi cara mengasah keterampilan motorik kasar anak.

Untuk anak di atas 2-4 tahun, pilih kartun yang bisa mengajak mereka menghafal alfabet, menyebutkan angka, mengajarkan kosa kata baru, atau menebak-nebak gambar hewan atau warna.

Saat buah hati berusia 4-5 tahun, orangtua bisa memberikan tayangan kartun yang lebih interaktif.

Kartun interaktif membuka kesempatan buat anak bermain tanya jawab meski lewat layar layar kaca.

Saat anak sudah mencapai 6 hingga 12 tahun, orangtua bisa memberi tayangan kartun dengan cerita pahlawan super, persahabatan, keluarga, atau kehidupan sehari-hari yang banyak ditayangkan di stasiun TV pada jam-jam tertentu.

Sareca umum, orangtua boleh mengenalkan tayangan kartun yang mengajarkan anak cara bersosialisasi.

3. Pilih waktu nonton yang tepat

Untuk menyesuaikan dengan aktivitas hariannya, kartun anak biasa ditayangkan pada waktu-waktu tertentu.

Saat anak berusia 1-5 tahun, sebaiknya orangtua memberinya waktu sebentar untuk menonton televisi sehabis tidur siang atau sepulangnya dari taman bermain (playgroup).

Untuk anak-anak yang sudah berusia sekolah, sebaiknya berikan jadwal waktu menonton kartun pada sore hari setelah pulang sekolah/les, atau pada pagi hari selama akhir pekan.

(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas, Kompas.com/Rosiana Haryanti/Ariska Puspita Anggraini)



Penulis: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer