G30S 1965 - DN Aidit dan Sajak-sajaknya yang Payah

Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DN Aidit (suratkabar.id)

TRIBUNNEWSWIKI.COM – Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu distigmakan dengan penuh kengerian karena peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun bisa dibilang berhasil membangun stigma di tengah masyarakat bahwa PKI adalah satu-satunya dalang tragedi berdarah G30S 1965.

Meski sampai sekarang, ada berbagai versi tenang siapa dalang peristiwa kelam itu sebenarnya.

Namun masyarakat sudah keburu memakan propaganda orba, sehingga PKI selalu dipandang dengan penuh kengerian.

Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit), sang pimpinan PKI tentu tidak lepas juga dari kengerian partainya.

Nama DN Aidit tidak bisa dilepaskan dari PKI.

Namun siapa sangka, DN Aidit yang dikenal dengan segala kengeriannya ternyata suka bersajak.

Meskipun, untuk ukuran karya sastra, sajak-sajak dan puisi DN Aidit tidak bisa dibilang bagus, bahkan bisa dikatakan payah.

Seperti dimuat oleh buku Tempo, “Dua Wajah Dipa Nusantara”, puisi-puisi yang ditulis DN Aidit hampir seluruhnya berisi puji-pujian kepada partai atau ajakan revolusi, bahkan dalam puisi-puisi yang sifatnya sangat personal.

Baca: Ciuman Terakhir DN Aidit di Kening sang Istri pada Malam G30S

DN Aidit (Wikicommon)

DN Aidit banyak menulis puisi di rentang 1946 sampai 1965.

Harian Rakjat Minggu (HR Minggu) adalah salah satu media yang kerap memuat puisi-puisi DN Aidit.

Wajar, sebab HR Minggu merupakan harian yang berada di bawah kekuasaan PKI.

Amarzan, yang pernah menjadi redaktur HR Minggu menceritakan betapa payahnya sajak-sajak sang ketuanya itu.

Saat itu, pada Sabtu Malam, Amarzan yang bertugas menyeleksi puisi-puisi yang akan terbit di HR Minggu mendapat telepon dari DN Aidit.

DN Aidit menanyakan tentang sajak-sajak yang dia kirimkan.

"Apakah sajak-sajak saya sudah diterima?" terdengar suara DN Aidit di seberang telepon.

"Sudah."

"Jadi, dimuat dalam edisi besok?"

Setelah berpikir sejenak, Amarzan menjawab, "Tidak."

"Maksudnya?"

"Ya, tidak dimuat"

"Mengapa tidak dimuat?"

"Menurut saya, belum layak dimuat."

Suasana jadi hening, tidak ada suara yang terdengar dari telepon. Lalu brak! Telepon dibanting dari seberang.

Baca: D N Aidit

Amarzan yang saat itu baru berusia 24 tahun dan baru dua tahun menjadi redaktur sangat paham, menolak puisi DN Aidit dapat menjadi perkara besar.

Sekitar selang sejam, telepon kembali bordering.

Saat ini Njoto, Wakil Ketua II CC PKI sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Rakjat yang meneleponnya.

Dengan tenang, dari seberang terdengar suara Njoto menanyakan perihal Amarzan yang menolak sajak-sajak kiriman DN Aidit.

Amarzan pun membenarkan hal tersebut.

Setelah mengatakan bahwa memang tidak ada hal yang bisa dipertimbangkan untuk memuat sajak DN Aidit, Njoto pun akhirnya menghargai keputusannya.

"Baik. Kalau begitu, saya mendukung keputusan Bung," kata Njoto dari seberang telepon.

Baca: G30S 1965 - Pengakuan Algojo di Bali: I Ketut Mantram

Amarzan pun merasa sangat lega dengan kebijaksanaan Njoto yang mempercayakan penuh pekerjaan kepadanya.

Amarzan pun sempat berpikir untuk mengundurkan diri jika ternyata Njoto memaksanya untuk memuat sajak-sajak DN Aidit.

Amarzan bercerita, bahwa keputusannya menolak puisi Aidit sebenarnya bertujuan untuk menyelamatkan martabat sang ketua.

“Puisinya sejenis puisi poster,” kata Amarzan seperti dalam buku Tempo.

Sayangnya, Amarzan lupa mana puisi DN Aidit yang saat itu ia tolak.

Selain di Harian Rakjat, puisi-puisi DN Aidit juga kerap dimuat Suara Ibukota, sebuah koran politik Jakarta yang diasuh seorang aktivis PKI, Hasan Raid.

DN Aidit menggunakan puisi-puisinya sebagai alat mengomentari berbagai peristiwa aktual yang ada saat itu.

Baca: G30S 1965 - Kesaksian Pembantaian Anggota PKI di Boyolali, Salatiga, Klaten, Jawa Tengah

DN Aidit bersama istri dan anak-anaknya (suratkabar.id)

Puisi-puisinya ditulis dengan gaya menyeru dan berpetuah.

Puisinya juga sempat dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah antologi puisi berjudul Lumpur dan Kidung.

Misalnya sajak Raja Naik Mahkota Kecil yang dia tulis pada 23 Juni 1962 untuk menyindir pangangkatan Letnan Jenderal Ahmad Yani sebagai KSAD menggantikan AH NAsution.

Udara hari ini cerah benar pemuda nyanyi nasakom bersatu gelak ketawa gadis remaja mendengar si lalim naik takhta tapi konon mahkotanya kecil

Ayo, maju terus kawankawan

Halau dia ke jaring dan jerat

tangkap dia dan ikat erat

hadapkan dia ke mahkamah rakyat!

Soal sastra, pada 1964 DN Aidit juga pernah menuliskan pemikirannya.

Menurutnya, sastra harus bertanggung jawab, berkepribadian nasional, serta mengabdi kepada buruh dan rakyat.

Kredo ini menjadi semacam tren yang dianut para penulis berhaluan kiri.

Amarzan, sebagai redaktur HR Minggu, secara pribadi menganggap puisi tak selalu harus begitu.

Ia sendiri, sebagai penyair, bisa saja menulis puisi tentang cinta, kebimbangan, bulan, dan laut.

Baca: G30S 1965 - Pembantaian Anggota PKI di Solo dan Sukoharjo

Selain Amarzan, Oey Hay Djoen, bekas anggota parlemen dan Dewan Pakar Ekonomi PKI, juga bersaksi atas payahnya sajak-sajak DN Aidit.

Hay Djoen yang juga kerap menulis prosa-prosa memikat dengan nama samara Ira Iramanto atau Samandjaja sering mendapat puisi dari Aidit untuk dia komentari.

Namun dia tidak pernah menggubrisnya.

“Buat apa? Jelek,” katanya.

Sobron Aidit, adik DN Aidit mengatakan bahwa sang kakak merupakan pengagum sajak-sajak Chairil Anwar.

“Chairil itu, kalau masih hidup, pasti berpihak pada PKI, meski tak mau jadi PKI,” bual DN Aidit kepada sang adik pada suatu hari.

Selain DN Aidit, para pemimpin partai komunis lain di Asia seperti Mao Zedong dan Ho Chi Minh juga kerap menulis sajak.

Baca: G30S 1965 - Pengakuan Algojo: Burhan Zainuddin Rusjiman

Saat kabar DN Aidit meninggal tersebar, pada 23 November 1965, Mao Zedong sempat menulis sajak belasungkawa yang dimuat di sebuah korang Tiongkok.

Terjemahan sajak itu kurang lebih seperti berikut.

Di jendela dingin berdiri reranting jarang beraneka bunga di depan semarak riang apa hendak dikata kegembiraan tiada bertahan lama di musim semi malah jatuh berguguran.  

Sumber: Sebagian besar informasi dalam artikel ini diambil dari Buku Tempo, “Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara”.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)



Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Melia Istighfaroh
BERITA TERKAIT

Berita Populer