Sekilas Tentang Cakrabirawa
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Cakrabirawa merupakan pasukan khusus yang bertugas menjaga keselamatan Presiden dan Wakil Presiden beserta seluruh keluarganya.
Cakrabirawa memiliki sejarah yang panjang.
Sebelumnya, telah ada berbagai satuan yang bertugas melaksanakan dungsi pengamanan presiden.
Akan tetapi meski telah memiliki satuan pengamanan, kala itu berbagai upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno masih terjadi hingga 1962.
Merespon kejadian-kejadian itu, Letkol CPM Sabur menghadap ke Istana Merdeka.
Ia menyampaikan laporan bhawa Departemen Pertahanan dan Keamanan berencana untuk membentuk Pasukan Pengawal Istana Presiden (PPIP).
PPIP merupakan penyempurnaan dari Pasukan Pengawal Presiden (PPP).
Selain Letkol CPM Sabur, Jenderal AH Nasution juga memiliki pemikiran yang sama.
Namun kala itu Presiden Soekarno menolak rencana pembentukan tersebut.
Presiden Soekarno menilai Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang dibentuk oleh Mangil sudah cukup.
Meski demikian, seiring berjalannya waktu, upaya tersebut membuahkan hasil.
Bahkan, Presiden Soekarno menunjuk Letkol Sabur sebagai Komandan PPIP.
Anggota PPIP berasal dari semua angkatan dan kepolisian.
PPIP resmi terbentuk dengan nama Cakrabirawa.
Nama Cakrabirawa di cerita pewayangan merupakan senjata milik Prabu Kresna.
Cakrabirawa diresmikan pada 6 Juni 1962 oleh Presiden Soekarno.
Cakrabirawa dikomandani oleh Sabur, yang kala itu sudah naik pangkat menjadi Brigjen.
Kala itu dikatakan kekuatan pasukan Cakrabirawa mencapai 3000 personel, berasal dari semua angkatan. (1)
Bubarnya Cakrabirawa
Pada tanggal 30 September 1965, terjadi peristiwa besar di Indonesia.
Para Jenderal TNI diculik dan dibunuh pada malam itu.
Yang disebut sebagai motor utama gerakan tersebut adalah Letkol Untung dan satu peleton Cakrabirawa dari Batalyon I KK, yang dipimpin Lettu Dul Arif, terlibat dalam gerakan G30S.
Sebagai dampak panjang persitiwa Gerakan 30 September 1965, pasukan Cakrabirawa dibubarkan.
Tepatnya, Cakrabirawa secara resmi dibubarkan pada 28 Maret 1966, berlokasi di Lapangan Markas Besar Direktorat Polisi Militer, Jalan Merdeka Timur, Jakarta.
Selanjutnya, tugas pengamanan presiden diberikan kepada Batalyon Para Pomad, yang dipimpin Letkol CPM Norman Sasono.
Di kemudian hari, dibentuk Pasukan Pengaman Presiden atau Paspampres sebagai pelaksana tugas pengamanan presiden.
Pembubaran Cakrabirawa menyisakan cerita tersendiri.
Biasanya, ketika resimen pasukan dilikuidasi, anggotanya akan dikembalikan ke satuan masing-masing.
Hal itu mengingat personel Cakrabirawa berasal dari semua angkatan, AD, AL, AU, dan Kepolisian.
Namun hal berbeda dialami pasukan Cakrabirawa.
Hal itu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa G30S.
Semua personel Cakrabirawa dianggap terlibat dalam tragedi berdarah tersebut.
Maka setelah Cakrabirawa dibubarkan, para anggotanya langsung ditangkap.
Bahkan personel yang dianggap telah melakukan pelanggaran berat, yaitu terlibat langsung dalam penculikan dan pembunuhan jenderal, umumnya langsung diesksekusi. (2)
Melarikan Diri Ke Thailand
Menghindari penangkapan yang bahkan tanpa melalui proses peradilan, banyak anggota Cakrabirawa yang melarikan diri.
Sebagai anggota kesatuan elit, upaya pelarian disusun dengan rapi.
Hal itu dilakukan agar di tempat pelarian tetap bisa hidup dengan layak.
Beberapa di antara mantan anggota Cakrabirawa melarikan diri hingga ke Thailand.
Konon, berkat bantuan seorang pejabat tertentu, mereka bisa sampai ke Thailand dengan cara yang legal.
Agar tidak menimbulkan masalah baru, para mantan anggota Cakrabirawa pada awalnya memilih menjadi Biksu.
Beberapa lainnya juga banyak yang membuka lahan di hutan Thailand.
Kala itu mengolah lahan di Thailand tidak dipungut biaya.
Lahan yang dibuka pun bisa menjadi milik pengolahnya.
Beberapa di antara mantan personel Cakrabirawa telah menjadi petani yang sukses di Thailand.
Mereka juga memiliki keluarga dan resmi menjadi Warga Negara Thailand. (2)