Pernyataan yang dibuat dalam slide materi perkuliahan ini diunggah di portal daring Holmesglen Insititute dan belum disampaikan secara luas ke mahasiswanya.
Tayeba yang melihat ada pernyataan yang merujuk Islamophobia, kemudian bereaksi dengan melaporkan kampusnya ke komisi hak asasi manusia.
Pernyatan tersebut dibuat dari seorang aktivis yang (menurut Tayeba) adalah seorang anti-Muslim.
Baca: Usai Beraksi, Teroris Penembakan Selandia Baru Sempat Bertanya, Berapa Banyak yang Saya Bunuh?
Baca: Teroris Penembak Masjid Selandia Baru Kirim Surat dari Balik Penjara, Isinya Bernada Kebencian
Dilaporkan oleh ABC, Tayeba mengaku merasa kecil hati dan bingung dengan apa yang ia sebut sebagai "sickening in its bigotry (sikap kebencian yang memuakkan)"
Tayeba teringat teror yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru, dan gerakan ekstremisme sayap kanan, serta kampanye politik yang menjelekkan sebagian besar Muslim.
Menurutnya, materi kuliah tersebut sangatlah tidak membantu dalam dialog dan justru semakin memperburuk keadaan mengingat iklim politik yang justru mendukung gerakan-gerakan tersebut.
Mahasiswi berusia 26 tahun itu sebelumnya sudah merasa terganggu saat diskusi di salah satu mata kuliah di Holmesglen Insititute di Melbourne.
Ia mengaku para mahasiswa memang diizinkan berbagi pemikiran mereka, namun menurutnya justru klise dan palsu tentang Muslim.
Baca: PB Djarum Stop Audisi, Pelatih Ungkap Fakta di Baliknya: Kita Benar-benar Murni Membina Atlet
Baca: Bocah di Bekasi Tewas usai Di-bully, Sempat Muntah hingga Kejang, Sang Ibu: Kebenaran akan Terungkap
Sebelumnya ia pernah mengadukan hal ini kepada dosennya, yang kemudian menerimanya, namun tetap memuatnya sebagai materi kuliah online.
Merasa tidak puas dengan sikap dosennya, Tayeba mengadukan masalahnya ke 'Victorian Equal Opportunity' dan 'Human Rights Commision', semacam lembaga/komisi hak asasi manusia di Australia.
Dikonfirmasi oleh ABC, setelah pelaporan tersebut, tak lama kemudian, Holmesglen Institute menurunkan materi kuliahnya.
Selain itu, pihak kampus juga turut meminta maaf kepada Tayeba.
Tak hanya itu, pihak kampus juga berjanji untuk memberikan pelatihan kepada para dosen terkait isu ini.
Pihak Holmesglen Institute dalam sebuah pernyataan kepada ABC, menyatakan bahwa materi tersebut adalah tidak pantas.
Materi kuliah yang telah diunggah ke portal daring (online) para mahasiswa tersebut, belum disampaikan dalam mata kuliah.
Setelah pelaporan Tayeba, pihak kampus melakukan penyelidikan dan memutuskan untuk menghapusnya.
"Kami telah memanggil seseorang yang mengunggah untuk mengakuinya dan mengeluarkan permintaan maaf atas apa yang telah dilakukan ," kata pernyataan itu.
"Para dosen yang terlibat untuk sementara dihentikan dari kegiatan mengajar sampai investigasi selesai."
Tayeba Quddus mengakui bahwa dirinya berani mengangkat masalah ini karena kekhawatirannya terhadap mahasiswa Muslim lainnya.
Tayeba juga merasa bahwa banyak mahasiswa lain yang sudah menutup mulut mereka dari pandangan-pandangan yang dianggap negatif yang kerap dilontarkan mahasiswa lain atas nama kebebasan pendapat.
"Ini bukan tentang kebebasan berbicara atau mencoba mengawasi apa yang orang-orang katakan," katanya.
"Saya pikir ini lebih soal masalah dosen yang mempublikasikan materi yang menyebarkan ketakutan secara online, yang tidak memiliki bukti, serta fakta, dan ini tak sepantasnya diucapkan oleh seorang dosen".
Baca: Spesifikasi dan Varian Warna iPhone 11 yang Rilis Besok, Saksikan Live Streaming Peluncurannya!
Baca: Alasan Kenapa Kita Seharusnya Pakai Istilah ‘G30S’, Bukan ‘G30S/PKI’
Slide materi kuliah daring / online tersebut rencananya disampaikan dalam topik "mengelola keanekaragaman dalam lingkungan budaya yang kompeten".
Topik ini adalah bagian dari program sertifikasi dari institusi di bidang kepemudaan.
Dalam slide yang terkesan ofensif tersebut yang berjudul "Most Muslim Is Peace", terdapat sebuah tautan YouTube yang membawa para mahasiswa ke sebuah video yang diterbitkan tahun 2017, dan menampilkan aktivis anti-Islam terkemuka Brigitte Gabriel.
Brigitte merupakan pendiri ACT For America, sebuah organisasi yang oleh banyak kritikus, seperti Southern Poverty Law Centre, sebagai kelompok yang menyebarkan kebencian dan organisasi anti-Muslim terbesar AS.
Perempuan tersebut (Brigitte) pernah menulis jika "di dunia Muslim, mayoritasnya adalah ekstrim".
Ia juga sudah sering dituduh menyebarkan pandangan menyimpang tentang Islam.
Videonya yang telah tersebar di dunia maya tersebut, Brigitte mengklaim bahwa badan intelijen di seluruh dunia memperkirakan Muslim radikal berjumlah antara 15 hingga 25 persen.
"Itu artinya 75 persen dari mereka adalah Muslim yang damain," kata Brigitte Gabriel.
"Tapi ketika Anda melihat angka 15 hingga 25 persen dari populasi Muslim dunia, artinya ada 180 juta hingga 300 juta orang yang hendak menghancurkan peradaban barat."
Pada satu bagian slide yang menjadi bahan kuliah di Holmesglen Institute terdapat teks yang memuji pernyataan Brigitte dengan mengatakan "tanggapannya sangat sempurna".
"Faktanya adalah, 180 juta hingga 300 juta orang adalah radikal yang ingin menghancurkan dan membunuh. Anda tidak dapat mengabaikan angka-angka itu," kata-kata ini tertulis dalam materi kuliah tersebut.
Dilaporkan oleh ABC yang melakukan komunikasi dengan Profesor Universitas Deakin, Greg Barton, pakar politik global Islam, mengatakan bahwa Gabriel adalah "tipe orang seperti Pauline Hanson di bidang penelitian".
Menurut Professor Barton (seperti dikutip dari ABC), orang-orang seperti Brigitte "tidak hanya Islamofobia, tetapi mereka membuat kesalahan dengan menggabungkan 1,8 miliar orang menjadi satu kelompok yang tidak berbeda atau mengklaim kebanyakan dari mereka mendukung rezim otoriter dan politik di negara mereka" .
"Dan itu jelas tidak akurat serta terdapat kesalahpahaman melihat penderitaan umat Islam di seluruh dunia, di mana orang-orang terjebak dengan pemerintah yang tidak mereka sukai. Akibatnya ada kelompok-kelompok radikal tetapi mereka tidak populer secara luas."
Tak hanya itu, Professor Barton juga menolak klaim Brigitte tentang Muslim radikal.
"Ada sejumlah kecil orang yang mencari uang dari menjelek-jelekkan Islam dan Muslim, beberapa dari mereka berasal dari dunia akademis dan beberapa lainnya yang tidak," kata Professor Barton.
Mereka memilah-milih data untuk kepentingan politik dan mengambil kesimpulan dengan pendekatan yang tidak objektif
"Jadi, Anda menemukan misalnya ... pemungutan suara untuk pertanyaan yang seringkali diajukan di negara mayoritas Muslim, 'Apakah Anda mendukung hukum Islam?'
Bagi kebanyakan orang, (menurut Professor Barton) hak itu seperti menanyakan latar belakang Kristen, 'Apakah Anda mendukung Sepuluh Perintah Tuhan?'.
Maka jawabannya adalah 'tentu saja', anda tidak bisa mengatakan tidak.
Professor Barton mengemukakan bahwa hal tersebut tidak bisa kemudian disimpulkan bahwa mereka akan mendukung pemerintahan Islam.
"Seperti berkesimpulan mereka akan mendukung pemerintah Islam atau akan mendukung hukuman hudud [hukuman keras untuk pelanggaran agama termasuk rajam dan potong tangan]."
Dalam korespondensi pertama Tayeba dengan pihak kampusya, seperti yang dilaporkan oleh ABC, pihak kampus mengatakan bahwa akan ada "kontekstualisasi dan diskusi" saat membahas materi di kelas.
Menurut Tayeba, masalah tersebut tidak dapat dibenarkan dengan memasukkannya ke dalam materi kuliah.
"Apa yang saya rasakan dari membaca materi tersebut adalah tidak ada ruang untuk mendisuksikannya secara objektif." ungkap Tayeba
Menurut Tayeba, materi tersebut justru seperti mengajari dan mendukung ide (bahwa ada radikalisme dalam agama) tersebut.
"Saya tidak benar-benar melihat konteks di mana ada 180 hingga 300 juta Muslim menjadi radikal".
"Saya katakan bahwa tidak ada konteks di mana Anda dapat menggunakan aktivis anti-Islam yang tidak akademis. Ini bukan sumber pengajaran di kelas" kata Tayeba.
"Tidak ada slide lain (dalam materi) yang bicara tentang Islamofobia, tidak ada sumber daya aktivis anti-Islamofobia. Anda menggunakan seorang aktivis anti-Islam (dalam pengajaran) dan kemudian memakai pernyataan ini. Saya tidak bisa berpikir, bahwa memang ada sesuatu yang ambigu di sana."
"Dalam kata-kata materi dosen itu sendiri, dikatakan, 'faktanya adalah 180 hingga 300 juta orang Muslim adalah radikal yang ingin menghancurkan dan membunuh'", ujar Tayeba.
Menurut Tayeba, pernyataan tersebut tidak ada ruang untuk interpretasi.
"Itu hanya sebuah pernyataan." kata Tayeba
Tayeba berani melakukan protes karena merasa perlu 'membela' dirinya sebagai Muslim.
Tayeba memutuskan untuk mengambil tindakan karena hal tersebut bukan pertama kalinya yang ia mengalami seperti dipinggirkan sebagai Muslim di mata kuliah tersebut.
Di minggu pertama, Tayeba mengaku teman mahasiswanya mengatakan ada "gerakan besar" di Inggris untuk memberlakukan hukum syariah yang "menakutkan", dan terdapat beberapa "ideologi ekstremisme yang lebih membahayakan daripada yang lain".
Tayeba mengakui bahwa dosennya seolah tidak campur tangan atau mencoba mengarahkan diskusi, saat ia berusaha membuat klaim Islamophobia atas pernyatan dosennya.
Dia merasa perlu "membela dirinya" sendiri sebagai seorang Muslim, yang menurutnya sesuatu yang biasanya tidak perlu dilakukan.
"Saya tidak melihat orang-orang di kelas bisa bekerja dengan orang-orang dari beragam latar belakang, jika mereka berbagi pemikiran yang bernuansa Islamofobia secara terang-terangan, justru mengompori pada pemikiran-pemikiran yang sudah cukup negatif di masyarakat."
Tayeba juga mengaku sempat ragu dan gugup saat membantah klaim dengan menyanggah dosennya.
"Saya khawatir dengan apa yang saya katakan sejak saat itu karena takut disangka sebagai seorang Muslim yang marah atau yang defensif."
"Saya merasa sangat gugup dengan kelas yang terus-terusan menargetkan saya dan orang lain mungkin akan merasakan hal yang sama."
Direktur eksekutif Holmesglen Insititue, Mary Faraone, mengatakan lembaganya telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini dan mencegah agar tidak terjadi lagi.
"Holmesglen menggunakan insiden ini sebagai katalis untuk meninjau lebih lanjut pengembangan profesionalnya dalam keanekaragaman, keamananan budaya, dan kompetensi dengan pendidik Institut," katanya.
"Kami menyambut baik masukan, penilaian, dan menindaklanjutinya dengan peningkatan ke arah lebih baik"
"Ini adalah upaya yang berkelanjutan dan kami ingin memastikan bahwa semua mahasiswa, staf, dan pemangku kepentingan yang lebih luas dari insitusi Holmesglen mempelajarinya secara inklusif dan dapat berkomitmen untuk sikap positif."
Pasca kejadian, Tayeba sedang mediasi dengan lembaga kampusnya.
Kendati demikian, ia tetap khawatir akan terisolasi ke depannya
"Saya pikir ada sesuatu yang salah secara sistematis yang membuat ini terjadi," katanya.
"Menurutku ini hanyalah puncak dari gunung es."
Baca: Tanggapan Komnas HAM saat Paspor Veronica Koman akan Dicabut: Itu Pelanggaran Hukum
Baca: Amnesty Internasional Nilai Penetapan Veronica Koman sebagai Tersangka adalah Bentuk Kriminalisasi