Kabupaten Biak Numfor

Penulis: Indah Puspitawati
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kabupaten Biak Numfor


Daftar Isi


  • Profil


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kabupaten Biak Numfor adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia.

Biak pernah menjadi saksi bisu medan pertempuran Perang Dunia II antara kubu Jepang dengan Sekutu.

Letak geografis Kabupaten Biak Numfor berada di sebelah utara daratan Papua, tepatnya pada titik 0’55” – 1’27” Lintang Selatan dan 134’47”–136′ Bujur Timur dengan luas wilayah daratan sebesar 2.602 km persegi.

Kabupaten ini memiliki dua pulau besar, yaitu Pulau Biak dan Pulau Numfor serta sekitar 42 pulau-pulau kecil.

Kabupaten Biak Numfor memiliki batasan-batasan sebagai berikut :

  • Sebelah Utara:  Kabupaten Supiori dan Samudera Pasifik.
  • Sebelah Selatan: Selat Yapen
  • Sebelah Timur: Samudera Pasifik
  • Sebelah Barat: Kabupaten Manokwari.

 Kabupaten Biak Numfor terdiri dari 19 distrik.

Lima distrik diantaranya ada di Pulau Numfor yaitu Numfor Barat, Numfor Timur, Orkeri, Poiru dan Bruyadori, 12 distrik lainnya di Pulau Biak yaitu Distrik Oridek, Biak Timur, Biak Kota, Samofa, Yendidori, Biak Utara, Yawosi, Andey, Bondifuar, Warsa, Biak Barat, dan Swandiwe.

Adapun 2 distrik lainnya berada di kepulauan yaitu Distrik Padaido dan Aimando. (1)

Jumlah penduduk Kabupaten Biak Numfor tahun 2017 adalah 144.697 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 55,61 jiwa per km persegi. 

Kepadatan tertinggi terjadi di Distrik Biak Kota, yakni hampir mencapai 1.083 jiwa per Km2 dan Distrik Samofa (133-134 jiwa per km persegi).

Sedangkan kepadatan terendah terjadi di Distrik Bondifuar, yakni mendekati 2 jiwa per km persegi. (2)

Peta Kecamatan/Distrik di Kabupaten Biak Numfor (wikiwand.com)

  • Sejarah


Biak pernah menjadi saksi bisu medan pertempuran Perang Dunia II antara kubu Jepang dengan Sekutu.

Kala itu Biak merupakan tempat terjadinya konflik terbesar dan paling destruktif sepanjang sejarah.

Banyak peninggalan-peninggalan masa lalu di antaranya adalah Situs Gua Binsari atau Gua Jepang, dan monumen perang dunia kedua.

Gua Jepang kala itu menjadi tempat persembunyian, pusat logistik serta pertahanan yang kemudian menjadi wilayah perang serdadu Jepang dan Sekutu pada 1943-1945.

3.000 tentara Jepang tewas saat Sekutu menjatuhkan bom dari pesawat udara pada 7 Juni 1944. (3)

Sejarah Pulau Biak tercatat sejak tahun 1526 ketika Gubernur Portugis untuk Ternate Jorge de Menezes berangkat dari Malaka menuju Ternate.

Disebabkan badai, kapalnya terdampar di Warsa Biak Utara.

Selama 6 bulan ia tinggal di Warsa (Desember 1526 – Mei 1527) menunggu cuaca yang baik.

Lalu di bulan Mei 1527 ia berangkat meninggalkan Biak serta tiba di Ternate pada tanggal 31 Mei 1527.

Pada tahun 1616 Jacob Le Maire dan Willem Cornelizs Schoten yang berlayar melewati Kepulauan Biak Numfor sehingga untuk pertama kali disebut Schouten Eilanden.

Pada periode ini juga tepatnya tanggal 26 April 1908 Pendeta F.J.F Fan Hasselt membuka Pos Zending pertama di Maudori dengan menempatkan Guru Petrus Kafiar putra asli Maudori (Biak) yang menjadi Guru Injil pertama di Irian Jaya.

Petrus Kafiar adalah lulusan dari Depok Jawa Barat.

Pusat Pemerintah pertama terletak di Anggraidi (Paray), tempat ini dijadikan pedagang Belanda (VOC) sebagai tempat kerja sama dengan pedagang Cina sebagai tempat pelabuhan Kapal Dagang VOC.

Pada 24 Agustus 1828 pendirian Benteng Fort Du Bus di Teluk Triton yang menandakan kepemilikan Belanda atas Tanah di Nieuw Guinea.

Namun  Benteng Fort Du Bus ditinggalkan pada tanggal 20 Februari 1836 karena permusuhan dengan penduduk setempat tetapi juga karena penyakit malaria yang membunuh sekitar 110 orang serdadu.

Pada 5 Februari 1855 Ottow dan Geissler memulai pekerjaan Zending di Mansinam.

Pendirian Posthauder di Jende Roon Teluk Wondama kemudian diadakan pada tahun 1891.

Tanggal 7 Desember 1892 Pendirian pos pemerintahan Belanda di Merauke untuk menertibkan suku Marind Anim.

Namun pos tersebut ditinggalkan karena diserang oleh suku Marind Anim pada 20 Desember 1892.

Perjanjian Den Haag kemudian diadakan pada tanggal 16 Mei 1895 yang menetapkan pulau Nieuw Guinea dibagi dua, wilayah Barat dikuasai oleh Belanda dan wilayah Timur oleh Jerman dan Inggris.

Pemerintah Belanda menetapkan pembentukan dan pembagian Daerah Administratif Afdeling Nieuw Guinea Utara Selatan dan Barat.

Residen Ternate Dr Horst melantik L.A Van Oosterzee sebagai kontrolir pertama Afdeeling Nieuw Guinea Utara Selatan dan Barat.

Pada 18 Juni 1901 Afdeeling Nieuw Guinea Barat dan Selatan dipisahkan.

Misionaris Hati Kudus tiba di Merauke dan menyebarkan agama Katholik pada tanggal 14 Agustus 1905.

Pos Pemerintahan Humboldbaai dibuka pada tahun 1909 dan diangkat J.A.W. Coenen sebagai Gezaghebber di pos itu.

Pada tanggal 17 Juli 1918 dilakukan perluasan Wilayah Pemerintahan dengan membuka Pos Pemerintahan di wilayah Schouten Eilanden yang berkedudukan di Bosnik.

Periode tahun 1919 – 1945 merupakan kedudukan Anggraidi (Paray) sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan dipindahkan ke Bosnik sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan yang baru.

Selanjutnya Bosnik merupakan ibukota pertama daerah Biak Numfor hingga tahun 1945.

Pada Bulan April 1942 pecah Perang Dunia II.

Sebagai puncaknya tanggal 22 April 1944 tentara Sekutu merebut kembali Hollandia (Jayapura) di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mc Arthur dan mendarat di Biak pada tanggal 27 Mei 1944.

Dengan kemenangan Sekutu (1944–1945) kekuatan pada waktu itu berada di tangan NICA (Netherlandsch Indies Civil Administration).

Setelah kekuasaan Sekutu berakhir daerah ini diserahkan kembali pada Pemerintahan Hindia Belanda.

Letak Ibukota Pemerintahan di Bosnik dianggap kurang strategis baik dari segi pengembangan maupun perluasan kota itu sendiri, di samping fasilitas yang tersedia pada waktu itu tidak memadai bila dibandingkan dengan fasilitas yang ditinggalkan oleh tentara Sekutu di Nicakamp (Yendidori).

Maka pada tahun 1946 ibukota dipindahkan ke Nicakamp. Tahun 1953 ibukota dipindahkan ke Biak sebagai ibukota Order Afdeling Schouten Eilanden.

Berdasarkan resolusi yang diterima oleh PBB pihak Belanda menyerahkan Irian Barat (Nederland New Guinea) pada UNTEA (United Nation Temporary Executive Authority) pada tanggal 1 Oktober 1962.

Selanjutnya UNTEA menyerahkannya kepada Indonesia.

Pada tanggal 1 Mei 1963 jam 12.30 WIT, diadakan upacara penyerahan Irian Barat dari UNTEA kepada Pemerintah RI di depan Kantor Order Afdeling Schouten Eilanden yang ditandai dengan penurunan bendara UNTEA digantikan dengan pengibaran Bendera Merah Putih.

Pada saat yang sama penggantian peredaran uang Golden dengan Rupiah Irian Barat (IBRP) dengan dibukanya peti uang IBRP oleh Lukas Rumkorem. 

Dalam perkembangan selanjutnya berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 1969 sampai dengan tahun 1984 Kabupaten Biak Numfor bernama Kabupaten Teluk Cenderawasih sebagai salah satu kabupaten yang saat itu masih membawahi daerah
Yapen Waropen dan sebagian daerah Paniai.

Pada Tahun 1984 sebutan Kabupaten Teluk Cenderawasih diubah dengan sebutan Kabupaten Biak Numfor berdasarkan SK Bupati Biak Numfor Nomor 61 SK/VII/1984 tanggal 26 Juli 1984. (4)

  • Visi & Misi


Visi :

"Biak Numfor yang religius, berkarakter dan berbudaya sehingga sumbu pertumbuhan yang berdaya saing menuju kesejahteraan dan kemandirian."

Misi :

  1. Meningkatkan perekonomian daerah melalui pemberdayaan ekonomi kreatif dan pemanfaatan potensi keunggulan daerah.
  2. Meningkatkan kualitas hidup dan daya saing sumberdaya manusia menjadi yang terdepan di Papua.
  3. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berwibawa, bersih dan profesional, berorientasi kepada pelayanan publik yang prima.
  4. Mewujudkan percepatan pembangunan infrastuktur dasar dan strategis yang berwawasan lingkungan dan tata ruang. (5)

  • Lambang


Lambang daerah terdiri dari enam bagian yang menggambarkan unsur-unsur sejarah, sifat ksatria, ekonomi, sosial dan budaya, yang keseluruhannya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Satu lingkaran yang terdiri dari setangkai padi yang terurai, yang terdiri dari 14 butir padi berwarna kuning emas dengan 3 lembar daun padi yang terletak di sebelah kiri serta setangkai kapas yang terdiri dari 4 kelompok daun berwarna putih dengan kelopak buah berwarna hijau yang terletak di sebelah kanan.

Lambang Kabupaten Biak Numfor (biakkab.go.id)

Dua ekor Burung Dara Mahkota (Mambruk) dengan bulu badannya berwarna abu-abu dan bulu dadanya berwarna cokelat.

Sebuah tugu berwarna hitam, berbentuk perisai dengan ukiran-ukirannya berwarna putih, sebanyak 8 buah.

Ombak laut berwarna putih sebanyak 3 susun dan 3 buah pulau berwarna biru muda dengan batas putih.

Sebuah pita berwarna putih melengkung ke atas dengan tulisan Kabupaten Biak Numfor.

Sebuah perisai bersudut lima berwarna dasar biru, dengan pinggir/tepi berwarna putih yang merupakan batas serta bentuk keseluruhan dari Lambang Daerah. (6)

(TribunnewsWiki/Indah Puspitawati)



Nama Kabupaten Biak Numfor


Provinsi Papua


Ibu Kota Biak


Luas 21.572 km2


Populasi 144.697 jiwa (per 2017)


Google Map https://goo.gl/maps/X2UeTnnShEq1mFyFA


Situs Web https://biakkab.go.id


Sumber :


1. biakkab.go.id
2. biakkab.go.id
3. tirto.id
4. biakkab.go.id
5. biakkab.go.id
6. biakkab.go.id


Penulis: Indah Puspitawati
Editor: Putradi Pamungkas

Berita Populer