Kabupaten Boyolali

Penulis: Indah Puspitawati
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kabupaten Boyolali


Daftar Isi


  • Profil


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Boyolali adalah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Memiliki julukan New Zealand van Java atau Selandia Baru dari Jawa, Boyolali merupakan produsen susu terbesar di Pulau Jawa.

Di Kecamatan Ampel banyak ditemui pemotongan hewan serta pusat produsen berbagai macam abon sapi.

Julukan New Zealand Van Java karena menjadi daerah penghasil susu, menjadikan Boyolali juga disebut sebagai Kota Susu.

Boyolali juga memiliki identitas berupa fauna yaitu sapi lokal dan flora yang disebut Mawar Pager.

Letak geografis Kabupaten Bayolali sangat strategis.

Terletak di 110°22’–110°50’ Bujur Timur dan 7°36’–7°71’ Lintang Selatan dengan luas wilayah sebesar 1.015,10 km persegi.

Secara administratif Boyolali berbatasan dengan:

  • Sebelah utara: Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang.
  • Sebelah timur: Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Sukoharjo.
  • Sebelah selatan: Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta
  • sebelah barat: Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang. 

Secara topograffi wilayah Kabupaten Boyolali merupakan wilayah dataran rendah dengan perbukitan dan pegounungan, berada pada ketinggian rata-rata 700 meter di atas permukaan laut.

Titik tertinggi berada pada 1.500 meter yaitu di Kecamatan Selo dan terendah pada 75 meter di Kecamatan Banyudono.

Kabupaten Boyolali terdiri atas 19 kecamatan dan 267 desa/kelurahan merupakan salah satu dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Kecamatan di Boyolali terdiri Kecamatan Ampel, Andong, Banyudono, Boyolali, Cepogo, Juwangi, Karanggede, Kemusu, Klego, Mojosongo, Musuk, Ngemplak, Nogosari, Sambi, Sawit, Selo, Simo, Teras dan Kecamatan Wonosegoro.

Gunung Merbabu dan Gunung Merapi menjadikan kondisi tanah di Boyolali sangat subur. (1)

  • Sejarah


Asal mula nama Boyolali menurut cerita serat Babad Pengging Serat Mataram, nama Boyolali tak disebutkan.

Demikian juga pada masa Kerajaan Demak Bintoro maupun Kerajaan Pengging, nama Boyolali belum dikenal.

Menurut legenda nama Boyolali berhubungan dengan ceritera Ki Ageng Pandan Arang (Bupati Semarang pada abad XVI).

Alkisah, Ki Ageng Pandan Arang yang lebih dikenal dengan Tumenggung Notoprojo diramalkan oleh Sunan Kalijogo sebagai Wali penutup menggantikan Syeh Siti Jenar.

Oleh Sunan Kalijogo, Ki Ageng Pandan Arang diutus untuk menuju ke Gunung Jabalakat di Tembayat (Klaten) untuk syiar agama Islam.

Dalam perjalananannya dari Semarang menuju Tembayat Ki Ageng banyak menemui rintangan dan batu sandungan sebagai ujian.

Ki Ageng berjalan cukup jauh meninggalkan anak dan istri ketika berada di sebuah hutan belantara beliau dirampok oleh tiga orang yang mengira beliau membawa harta benda ternyata dugaan itu keliru maka tempat inilah sekarang dikenal dengan nama Salatiga.

Perjalanan diteruskan hingga sampailah di suatu tempat yang banyak pohon bambu kuning atau bambu Ampel dan tempat inilah sekarang dikenal dengan nama Ampel yang merupakan salah satu kecamatan di Boyolali.

Dalam menempuh perjalanan yang jauh ini, Ki Ageng Pandan Arang semakin meninggalkan anak dan istri.

Sambil menunggu mereka, Ki Ageng beristirahat di sebuah Batu Besar yang berada di tengah sungai.

Dalam istirahatnya Ki Ageng Berucap “ BAYAWIS LALI WONG IKI” yang dalam bahasa indonesia artinya “Sudah lupakah orang ini”.

Dari kata Baya Wis Lali/ maka jadilah nama Boyolali.

Batu besar yang berada di Kali Pepe yang membelah kota Boyolali mungkinkah ini tempat beristirahat Ki Ageng Pandan Arang.

Mungkin tak ada yang bisa menjawab dan sampai sekarang pun belum pernah ada meneliti tentang keberadaan batu ini.

Demikian juga sebuah batu yang cukup besar yang berada di depan Pasar Sunggingan Boyolali, konon menurut masyarakat setempat batu ini dulu adalahtempat untuk beristirahat Nyi Ageng Pandan Arang.

Dalam istirahatnya Nyi Ageng mengetuk-ngetukan tongkatnya di batu ini dan batu ini menjadi berlekuk-lekuk mirip sebuah dakon (mainan anak-anak tempo dulu).

Karena batu ini mirip dakon, masyarakat disekitar Pasar Sunggingan menyebutnya mBah Dakon dan hingga sekarang batu ini dikeramatkan oleh penduduk dan mereka pun tak ada yang berani mengusiknya.

Penetapan Hari Jadi Kabupaten Boyolali tidaklah mudah.

Untuk menetapkan hari jadi yang selalu diperingati setiap tanggal 5 pada bulan Juni memakan waktu yang cukup lama dan perlu penelusuran sejarah yang panjang.

Penetapan Hari Jadi Kabupaten Boyolali sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh Lembaga Penelitian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian ini didasarkan atas Surat Perjanjian Kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali dengan dengan Lembaga Penelitian UNS pada 11 September 1981.

Setelah melakukan penelusuran sejarah, selanjutnya pada 23 Pebruari 1982 di Gedung DPRD Kabupaten Boyolali diselenggarakan seminar tentang Sejarah Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali.

Dalam seminar ini telah disimpulkan tanggal 5 Juni 1847 merupakan Hari Jadi Kabupaten Boyolali. (2)

Tugu Jam Boyolali (basecampboyolali.blogspot.com)

  • Visi & Misi


Visi :

"Pro Investasi Mewujudkan Boyolali Yang Maju dan Lebih Sejahtera"

Misi :

1. Boyolali, melanjutkan semangat Pro Investasi

2. Boyolali membangun untuk perubahan.

3. Boyolali, bersih, berintegritas, sejahtera.

4. Boyolali, Sehat, Produktif dan Berdaya Saing.

5. Boyolali, lumbung padi dan pangan nasional.

6. Boyolali kota susu, produsen daging dan hasil ternak/perikanan.

7. Boyolali, lebih maju dan berteknologi (3)

Kantor Bupati Boyolali (twitter.com/lensaboyolali)

  • Lambang


Lambang Daerah Kabupaten Boyolali memakai lima warna yakni: hijau, putih, kuning, hitam dan merah.

Paduan warna-warna itu berarti: Bahwa kemakmuran, keadilan, kewibawaan yang diridloi Tuhan Yang Maha Esa adalah selalu diperjuangkan oleh rakyat Boyolali dengan penuh keberanian, kesucian dan cinta kasih, menuju kebahagiaan yang abadi.

Perisai berbentuk bulat telur tegak dalam kebudayaan asli Indonesia melambangkan jiwa kesatria atau pahlawan untuk mempertahankan diri dalam perjuangan dan memberi perlindungan.

Mata rantai yang berkait-kaitan satu sama lain merupakan lingkaran yang tidak terputus, melambangkan silsilah keturunan manusia yang turun-temurun.

Sedang jumlah mata rantai 45 melambangkan persatuan yang berlandaskan jiwa dan semangat UUD Tahun 1945.

Bintang bersudut lima berwarna kuning emas disebut Nur Illahi melambangkan kepercayaan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Pada bidang atas dilukiskan Maha Mer berujud gunung kembar Meru-Api (Merapi) dan Meru-Babu (Merbabu) adalah menunjukkan letak geografis Daerah Kabupaten Boyolali dan melambangkan keagungan serta kebesaran jiwa warga daerahnya.

Daun tembakau dari jenis yang terkenal, setongkol jagung dan kepala lembu perah, merupakan hasil utama pertanian dan peternakan di daerah Kabupaten Boyolali, serta mewujudkan surya sangkala terbentuknya Kabupaten Boyolali tahun 1847 yang berbunyi “Kaswareng weh madya tunggal”.

Bambu runcing berdiri tegak dengan pangkasan ke depan dan beruas lima, melambangkan senjata utama dan sifat keberanian rakyat dalam kebenaran dengan secara terbuka serta tulus ikhlas berdasarkan Pancasila.

Pengapit perisai menggambarkan dua hajat hidup manusia yang disebut dalam himne ialah sandang dan pangan yang dilukiskan dalam bentuk 17 buah kapas, 8 helai daun kapas, 19 butir padi 4 batang jerami dan 5 helai daun padi yang keseluruhannya menyatakan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sasanti Kata ditulis dengan huruf latin berwarna merah diatas pita putih dalam bahasa Jawa yang bernunyi “BOYA-LALI”.

Boya berarti tidak, lali berarti lupa.

Lambang Kabupaten Boyolali (boyolali.go.id)

Sesanti kata Boyolali mengandung maksud bahwa para pelaku pemerintahan dalam menjalankan tugas dan wewenangnya selalu waspada, demikian juga rakyat selalu patuh, taat dan penuh kewaspadaan dalam melaksanakan kewajibannya.

Sedangkan Boyolali adalah nama daerah kabupaten Boyolali.

Lambang dilukiskan di atas daun Lambang yang berbentuk perisai bersudut lima berwarna coklat muda kekuning-kuningan berpelisir merah-putih dengan arti:

  • Daun Lambang bersudut lima berbentuk paku adalah stylering dari lingga yang melambangkan kekuasaan yang teguh dan kehidupan manusia.
  • Warna coklat muda adalah warna batugilang (batu bercahaya), ialah batu tempat duduk penguasa Negara pada waktu memberi keadilan dan mengatur kemakmuran bagi rakyat.
  • Pelisir merah dan putih melambangkan keberanian dan kesucian. (4)

(TribunnewsWiki/Indah)



Nama Kabupaten Boyolali


Provinsi Jawa Tengah


Ibu Kota Boyolali


Hari Jadi 5 Juni


Luas 1.015,10 km2


Populasi 974.580 (per 2019)


Situs Web www.boyolali.go.id


Sumber :


1. www.boyolali.go.id/detail/2842/geografis
2. www.boyolali.go.id/detail/895/sejarah
3. www.boyolali.go.id/detail/902/visi-dan-misi


Penulis: Indah Puspitawati
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer