Trauma pascakecelakaan ini kerap disebut dengan post-taumatic stress disorder (PTSD).
Sebuah studi menyebutkan bahwa sekitar sembilan persen populasi umum yang mengalami kecelakaan mobil menderita PTSD.
Angka tersebut lebih tinggi secara signifikan pada orang-orang yang sebelumnya pernah mengalami kecelakaan mobil dan menjalani perawatan kesehatan mental.
Sebanyak 60 persennya didiagnosa menderita PTSD.
Baca: Pelanggar Batas Kecepatan di Jalan Tol akan Ditilang Setengah Juta, Berapa Kecepatan Maksimalnya?
Dikutip dari Kompas.com, Kamis (5/9/2019), ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan perkembangan PTSD.
Faktor-faktor tersebut di antaranya:
- Memiliki traumatis lainnya.
- Memiliki masalah psikologis sebelum peristiwa traumatis.
- Memiliki rekam jejak masalah psikologis dalam keluarga.
- Apakah peristiwa traumatis tersebut mengancam nyawa.
- Kehilangan seseorang dari peristiwa traumatis tersebut.
- Jumlah dukungan yang diberikan setelah peristiwa terjadi.
- Respons emosional (ketakutan, tak berdaya, takut, merasa bersalah, atau malu).
- Pemisahan diri selama trauma.
Lebih lanjut, studi tentang korban kecelakaan lalu lintas tersebut juga melukiskan gambaran serupa dalam beberapa hal.
Namun, studi tersebut belum menemukan pengaruh karakteristik spesifik dari kecelakaan mobil.
Misalnya, seberapa parah atau apakah pengemudi atau penumpang terluka, terhadap perkembangan PTSD.
Sebaliknya, ada lebih banyak dukungan terhadap bagaimana seseorang menanggapi atau merasakan kecelakaan itu.
Sebagai contoh, sebuah studi menemukan, persepsi bahwa hidup kita dalam bahaya adalah faktor prediksi terkuat untuk PTSD enam bulan setelah trauma.
Baca: Jadwal Chinese Taipei Open 2019 - 6 Wakil Indonesia Saling Berhadapan, 2 Wakil Lawan Malaysia
Studi lain menemukan perilaku menghindar dan menyembunyikan pikiran tentang kecelakaan mobil, merenungkan peristiwa traumatis dan pemisahan diri paling kuat terkait dengan gejala PTSD dua hingga enam bulan setelah kecelakaan.
Persepsi yang kuat bahwa hidup kita dalam bahaya selama kecelakaan lalu lintas dapat menyebabkan perilaku menghindar.
Misalnya, menghindari naik mobil atau pergi ke jalan raya.
Perilaku tersebut dapat meningkatkan kemungkinan PTSD.
Penghindaran juga memperkuat keyakinan bahwa mengemudi itu berbahaya.
Pola pikir inilah yang membuat rasa takut tersebut bertahan dalam diri.
Menghindari pikiran dan emosi dapat mengganggu proses emosi kita secara sehat, yang juga dapat meningkatkan risiko PTSD.
Kecelakaan lalu lintas sendiri merupakan peristiwa yang mengerikan sehingga sangat mungkin korbannya akan mengalami PTSD.
Kecelakaan lalu lintas dapat memunculkan perasaan gelisah dan pengingkatan denyut jantung ketika menghadapi hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa tersebut.
Misalnya ketika sang korban mendengar klaskson atau decit rem kendaraan, secara otomatis hal tersebut akan mengaktivasi rasa takut.
Selain itu, korban kecelakaan juga dapat merasa berada di ujung maut ketika berkendara.
Mungkin dia jadi akan mudah kaget ketika berada dalam kendaraan.
Orang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas juga akan lebih berhati-hati dan cenderung mengawasi sekitar, terutama pada sumber-sumber potensi ancaman.
Misalnya saja ketika ada orang yang mengemudi sangat kencang.
Kecelakaan lalu lintas juga dapat membuat korbannya lebih suka menghindar.
Hal tersebut dilakukan karena kecemasan yang seringkali timbul setelah peristiwa kecelakaan lalu lintas.
Hal tersebut terjadi secara alami jika orang yang pernah menjadi korban kecelakaan menghadapi situasi atau pengalaman serupa.
Semua respons tersebut bisa terjadi sebagai respons alami terhadap peristiwa traumatis.
Sebab, tubuh didesain untuk tetap awas terhadap potensi ancaman di lingkungan sekitar dan mencegah kita mengalami peristiwa serupa.
Gejala-gejala ini idealnya berkurang seiring berjalannya waktu, namun tetaplah waspada.
Baca: Ahli Sebut Human Error Penyebab Kecelakaan Tol Cipularang, Sopir Sering Netralkan Tuas Transmisi
Jika hal tersebut semakin sering dialami oleh seseorang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, maka ia akan berpotensi mengalami PTSD.
Ada beberapa pengobatan efektif untuk penderita PTSD.
Satu pendekatan yang mungkin cukup membantu adalah terapi pembukaan.
Opsi lainnya adalah terapi kognitif, terapi perilaku, dan pengobatan.
Dengan mengambil langkah dini terhadap gejala kecemasan, maka seseorang bisa mencegah munculnya efek-efek buruk pasca-peristiwa kecelakaan lalu lintas.