Penyebab Perkelahian hingga Berujung Pembantaian ABK KM Mina Sejati Akhirnya Terungkap

Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Fathul Amanah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

sejumlah ABK KM Mina Sejati dengan saat dievakuasi dengan menggunakan Speedboat dari KRI Teluk Lada untuk dibawa ke Pelabuhan Dobo, Kepulauan Aru, Selasa (20/8/2019)

TRIBUNNEWSWIKI.COM – Insiden Pembantaian anak buah kapal (ABK) di KM Mina Sejati di perairan Laut Aru, Maluku pada Jumat (16/8/2019) lalu akhirnya terungkap.

Penyebab pembantaian di KM Mina Sejati itu diawali dengan perkelahian antara dua orang anak buah kapal.

Dikutip dari Kompas.com, Senin (26/8/2019), perkelahian tersebut ternyata hanya disebabkan oleh masalah sepele.

Penyebab perkelahian itu diungkapkan oleh Kapolres Kepulauan Aru, AKBP Adolof Bormasa.

Menurut keterangannya, perkelahian yang memicu terjadinya aksi pembantaian itu berawal saat salah seorang pelaku pembunuhan, Fery Dwi Lesmana dan seorang rekannya sesama ABK sedang memancing cumi.

Secara tidak disengaja, tali pancing kedua ABK tersebut saling kait hingga menyebabkan keduanya terlibat adu mulut dan berujung perkelahian.

“Awal persoalannya semua dari situ,” kata Adolof seperti dilansir Kompas.com saat dikonfirmasi via telepon selulernya, Senin (26/8/2019).

Baca: Tarik Seluruh Mahasiswa Papua, Dewan Adat Papua Akan Bawa Masalah Rasisme ke Tingkat Internasional

Baca: Kronologi Pembantaian di Kapal Motor (KM) Mina Sejati, Korban Dibantai saat Tidur

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa saat perkelahian itu terjadi ABK lainnya yang juga sedang memancing berusaha melerai kedua ABK tersebut.

Saat itulah Wakil Kapten Kapal yang tidak disebutkan identitasnya kemudian memarahi kedua ABK tersebut.

“Kalian berkelahi untuk apa kita di sini mau cari hidup, bukan untuk berkelahi,” kata Adolof meniru ucapan wakil kapten kapal kepada dua ABK tersebut.

Adolof mengaku dari peristiwa itu, wakil kapten kapal yang geram dengan perlakuan kedua ABK tersebut tidak lagi bertegur sapa dengan Ferry dan salah satu rekannya yang terlibat perkelahian tersebut.

Dari kejadian, Ferry yang juga merupakan salah satu pelaku pembunuhan ini menjadi marah dan menyimpan dendam.

”Dari situ selama berhari-hari wakil kapten kapal tidak lagi bersuara dengan Ferry. Jadi persoalannya dari situ kemudian mulai timbul dendam lalu rencana itu dilakukan,” katanya.

Menurut Adolof, peristiwa keributan antara Ferry dan seorang ABK lainnya itu telah terjadi beberapa waktu yang lalu sebelum aksi pembantaian itu terjadi di atas kapal.

Sayangnya, para ABK yang dimintai keterangannya sudah tidak ingat lagi kapan persisnya aksi perkelahian yang melibatkan Ferry dan satu ABK lainnya itu terjadi.

“Kejadian antara Ferry dan satu ABK itu sudah terjadi beberapa waktu lalu sebelum aksi pembunuhan itu terjadi, hanya saja para ABK yang kami mintai keterangannya sudah lupa harinya kapan,” katanya.

Dia menambahkan, Ferry yang semakin dendam lantas kembali terlibat keributan dan perkelahian dengan para ABK lainnya pada tanggal 16 Agustus 2019 malam.

Namun, kejadian itu kembali dapat dilerai oleh para ABK dan kemudian diselesaikan.

Saat kejadian perkelahian itu, Ferry ikut dibantu oleh dua ABK lainnya yakni Nurul Huda dan juga Qersim Ibnu Malik yang diketahui memiliki hubungan saudara dekat dengan Ferry.

Ketiga pelaku diketahui sebagai anak, bapak dan paman.

Adolof mengaku setelah kejadian di malam hari itu, besok paginya saat seluruh ABK masih tertidur pulas, ketiga pelaku ini lalu beraksi dengan memanfaatkan situasi tersebut untuk membunuh rekan-rekannya sesama ABK tersebut.

“Jadi puncaknya itu jam 10.00 pagi. Jadi malam itu mereka tidur lelap sama sekali, semua tertidur saat itu, tiba-tiba ada yang berteriak baru mereka terbangun dan berhamburan,”terangnya.

Polisi sendiri memastikan, saat kejadian itu terdapat 36 ABK dan termasuk nakhoda dan juga tiga terduga pelaku pembunuhan di atas kapal tersebut.

Saat pembunuhan itu terjadi, 13 orang termasuk nakhoda kapal memilih menyelamatkan diri dengan cara melompat ke laut.

Dari jumlah ABK yang melompat ke laut itu, 11 ditemukan selamat sedangkan dua ABK lainnya ditemukan tewas.

Saat ini 20 ABK bersama tiga pelaku pembantaian masih belum diketahui nasibnya hingga saat ini.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)



Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Fathul Amanah
BERITA TERKAIT

Berita Populer