Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seusai Jepang mengakui kekalahannya terhadap Sekutu, beberapa serdadu militer Jepang turut membantu berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Salah satunya adalah Tomegoro Yoshizumi.
Tomegoro Yoshizumi adalah tentara Jepang yang berjuang untuk Indonesia.
Yoshizumi lahir di Oizumi-Mura Nishitagawa pada 1911.
Pada umur 21 tahun, Yoshizumi menjadi satu dari sekian banyak spion atau intelijen militer Jepang yang dikirim ke Selatan (Hindia Belanda).
Saat itu, serdadu militer Jepang mengirim banyak intelijennya ke berbagai negeri untuk berbagai tujuan.
Tujuan dikirimnya intelijen atau spionase oleh serdadu militer Jepang tidak hanya bertujuan pada bidang politik dan militer.
Dalam buku karangan Wenri Wanhar berjudul Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomogoro Yoshizuma yang dikutip dalam artikel Historia.id, (20/8/2014), M.F. Mukhti, Tomegoro Yoshizumi, Intel Negeri Sakura, diterangkan bahwa pihak Jepang mengirim spionase dengan tujuan untuk memakmurkan bangsanya. [1]
Tomegoro Yoshizumi: Riwayat Pekerjaan
Para intelijen atau spion Jepang itu melakukan penyamaran dengan melakukan beberapa pekerjaan dari berbagai profesi, dari pengusaha warung kelontong hingga rumah bordil.
Tercatat Yoshizumi pernah melakukan penyamaran sebagai pekerja di Toko San'yo.
Toko tersebut adalah toko milik salah satu dari keluarga terdekatnya.
Setelah menjadi pekerja di toko, Yoshizumi melakukan bisnis dan berhasil menjadi saudagar.
Dalam bisnisnya, ia membangun relasi dengan banyak kalangan, baik dari Jawa maupun luar Jawa, yaitu seperti di Sulawesi.
Pada tahun 1935, Yoshizumi bertugas sebagai wartawan di Nichiran Shogyo Shinbun.
Nichiran Shogyo Shinbun adalah koran yang pernah memberitakan kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905.
Koran ini juga turut mengkampanyekan slogan "Asia untuk Asia" dan "Jepang saudara tua" yang menghadirkan respons keras dari pemerintah Hindia Belanda.
Koran Nichiran Shogyo Shinbun dan Jawa Nippo kemudian melakukan fusi atau penggabungan menjadi Tohindo Nippo.
Di koran Tohindo Nippo, Yoshizumi menulis untuk menggalang persatuan orang-orang Jepang di Hindia Belanda.
Pada awal tahun 1941, Yoshizumi bertugas menjadi redaktur Tohindo Nippo.
Namun demikian, Yoshizumi harus dideportasi Pemerintah Hindia Belanda karena aktivitas jurnalismenya.
Di negara Jepang, Yoshizumi menjalin koordinasi dengan Kaigun atau Angkatan Laut Jepang.
Yoshizumi kemudian dipekerjakan untuk mengamati dan ikut melakukan operasi spionase di Selatan, salah satunya adalah Indonesia. [2]
Tomegoro Yoshizumi: Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Yoshizumi tercatat pernah ditangkap pemerintah Hindia Belanda sehari setelah Jepang menyerbu Pearl Harbor di Hawaii, pada 8 Desember 1941.
Yoshizumi kemudian menjalani penahanan di Australia.
Dilaporkan bahwa penahanan tersebut sangat berat yang membuat Yoshizumi berubah 180 derajat.
Sahabatnya, Shigetada Nishijima (dalam buku Wenri) mengungkapkan bahwa:
“Yoshizumi yang sebelumnya seorang sayap kanan nasionalis Jepang yang antikomunis menjadi seorang Marxis,” tulis Wenri.
Idealisme kiri yang dimiliki Yoshizumi tersebut kemudian membuatnya bersimpati terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia.
Yoshizumi kemudian menjadi satu dari beberapa tokoh kunci Jepang yang membantu mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Yoshizumi, ketika mengepalai bagian intelijen Kaigun Bukanfu (kantor penghubung AL Jepang), aktif membangun jaringan dan merancang gerakan bawah tanah.
Yoshizumi pernah melakukan pertemuan dengan Nishijima dan Tan Malaka di rumah Ahmad Subardjo tak lama setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus
Pertemuan tersebut membuat langkahnya semakin besar dalam berjuang.
“Pendek kisah, dua orang Jepang itu minta dibaiat menjadi Indonesia,” tulis Wenri.
Dituliskan oleh Wenri, bahwa Tan Malaka memberi nama Indonesia “Hakim” untuk Nishijima dan “Arif” untuk Yoshizumi.
Yoshizumi selanjutnya melibatkan diri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pada awal pergerakannya, ia mencuri barang-barang di gudang Markas Besar Kaigun Bukanfu lalu menjualnya di pasar gelap.
Uang hasil penjualan tersebut kemudian diberikan kepada Tan Malaka untuk dana perang gerilya.
Selain itu, Yoshizumi juga pernah menemani Tan Malaka ke Banten.
Dari Banten, Yoshizumi pergi ke Surabaya.
Yoshizumi juga menjalin kontak dengan Affandi, pemimpin serikat buruh PAL, galangan kapal di daerah Ujung, Surabaya.
Kepada Affandi, dia memberi masukan soal pendirian pabrik senjata di Mojopanggung, Blitar, dan Kediri.
Tomegoro Yoshizumi gugur pada 10 Agustus 1948 di Blitar, Jawa Timur ketika bergerilya ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Makam Tomegoro Yoshizumi bisa dijumpai di Taman Makam Pahlawan, Blitar, Jawa Timur.
Sebagai Presiden, Soekarno menghormati dua tentara Jepang yang berjuang untuk Indonesia, yaitu Ichiki Tatsuo dan Tomegoro Yoshizumi. [3]
Tribunnewswiki.com terbuka dengan data dan sumber baru serta usulan perubahan untuk memperkaya informasi.