Profil
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pakubuwono VI adalah salah satu raja Kasunanan Surakarta yang diberi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berkat jasanya melawan penjajahan Belanda.
Sri Susuhunan Pakubuwono VI adalah raja di Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Sri Susuhunan Pakubuwono VI memiliki julukan Sinuhun Bangun Tapa karena sering melakukan meditasi atau bertapa.
Pakubuwono VI menjalin persekutuan rahasia dengan Pangeran Diponegoro yang terlibat polemik melawan Belanda dalam Perang Jawa.
Pada tahun 1830, Pakubuwono VI ditangkap dan diasingkan ke Ambon, Maluku oleh Belanda.
Pakubuwono wafat di Ambon di usia 42 tahun dan masih menyisakan misteri. (1)
Masa Muda
Sri Susuhunan Pakubuwono VI lahir dengan nama Raden Mas Sapardan pada 26 April 1807 di Surakarta.
Sang ayah adalah Sri Susuhan Pakubuwono V, sementara sang ibu adalah Raden Ayu Sosrokusumo yang merupakan keturunan Ki Juru Martanti.
Raden Ayu Sosrokusumo bukanlah seorang ratu, namun saat sang ayah meninggal dunia, Pakubuwono V meninggalkan wasiat untuk mengangkat Pakubuwono VI menjadi raja.
Pada 15 September 1823, Pakubuwono V resmi dinobatkan menjadi raja.
Kala itu, Kerajaan Yogyakarta dan Kerajaan Surakarta sedang dirundung kabut gelap oleh pengaruh Belanda yang kuat.
Belanda sudah mulai campur tangan dengan urusan kerajaan, seperti misalnya masalah pengangkatan raja.
Sementara itu rakyat menjadi semakin sengsara. (2)
Perang Diponegoro
Dua tahun di masa kekuasaan Pakubuwono VI, terjadi perlawanan bersenjata untuk menunmbangkan Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Pangeran Diponegoro
Karena kontrak politik, Sunan Surakarta, Sultan Yogyakarta serta Mangkunegara dan Paku Alam terpaksa memihak Belanda.
Diam-diam, Pakubuwono VI mengirim pasukan untuk membantu Diponegoro.
Lama kelamaan, Belanda mulai curiga dengan keterlibatan Pakubuwono VI dalam membantu Diponegoro.
Dalam sejarah dikatakan bahwa sikap Pakubuwono VI amat meragukan dimata orang-orang Belanda.
Menurut versi keraton Surakarta, sikap Pakubuwono VI ini memang karena memihak Diponegoro.
Kadang keduanya mengadakan pertemuan rahasia di hutan Krendawahana, sebelah utara kota Sala.
Dalam pertemuan-pertemuan itu, Pakubuwono VI memberikan pusaka-pusaka keraton dan bahkan bermusyawarah tentang siasat perang melawan Belanda.
Pakubuwono kemudian mendapat julukan Sinuhun Bangun Tapa karena sering bertapa, yang sebenarnya adalah pertemuan rahasia dengan Pangeran Diponegoro.
Beberapa kali pasukan Surakarta dikirim dengan dalih membantu Belanda padahal sebenarnya memihak Diponegoro.
Perang Jawa berakhir pada 1830 setelah Diponegoro ditangkap.
Perang terbesar itu memberi kerugian besar bagi Belanda.
Pakubuwono VI akhirnya ditangkap sepasukan tentara Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Sollewijn di Mancingan.
Pada 14 Juni 1830, Pakubuwono VI turun tahta dan digantikan oleh Pangeran Puruboyo.
Pada 8 Juli 1830, Pakubuwono VI diasingkan ke Ambon hingga meninggal dunia di sana pada 1849.
Jasadnya dikebumikan di Ambon, kemudian dipindah ke makam raja-raja di Imogiri Yogyakarta.
Pahlawan Nasional
Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.294 Tahun 1962 tanggal 17 November 1964 menganugerahi Sri Susuhunan Pakubuwono VI gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. (3)