Profil
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Yos Sudarso adalah pahlawan nasional Indonesia yang gugur di Laut Aru karena mengorbankan dirinya dalam perjuangan pengembalian Irian Barat ke Indonesia.
Lahir pada 24 November 1925 di Salatiga, Yos Sudarso bernama asli Yosaphat Soedarso.
Yos Sudarso sudah bercita-cita menjadi prajurit sejak kecil, terutama karena ayahnya adalah seorang polisi.
Sayangnya kedua orang tua menginginkan Yos Sudarso menjadi guru.
Karena peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, Yos Sudarso berkesempatan untuk mengejar cita-citanya.
Karier Yos Sudarso dalam dunia militer berjalan dengan mulus.
Pada masa kampanye Trikora, Yos Sudarso gugur dalam peristiwa pertempuran Laut Aru di atas KRI Macan Tutul. (1)
Masa Kecil
Yos Sudarso lahir pada 24 November 1925 di kota Salatiga, Jawa Tengah.
Yos Sudarso adalah anak kedua dari tiga bersaudara, namun kakak laki-lakinya, Suwarno meninggal pada usia empat tahun.
Adiknya bernama Soedargo dan hanya terpaut dua tahun dari Yos Sudarso.
Sang ayah adalah seorang polisi, bernama Sukarno Darmoprawiro.
Dan sang ibu bernama Mariyam.
Yos Sudarso menyelesaikan pendidikannya di HIS dan melanjutkan ke sekolah guru di Muntilan.
Namun saat Jepang dan menguasai Indonesia, sekolah itu ditutup.
Yos Sudarso kemudian masuk ke Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang dan merupakan salah satu murid lulusan terbaik.
Pendidikan sekolah Pelayaran Tinggi itu memang bercorak militer, karena dimaksudkan untuk membantu Jepang dalam peperangan.
Setelah lulus, Yos Sudarso dipekerjakan sebagai mualim di kapal Goo Usamu Butai.
Badan Keamanan Rakyat
Saat Indonesia resmi merdeka, Yos Sudarso bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (nantinya menjadi TNI) Laut.
Yos Sudarso mengikuti misi atau operasi militer untuk memadamkan pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah.
Pada 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
Yos Sudarso diangkat sebagai komandan kapal di KRI Alu, lalu ke KRI Gajah Mada, KRI Rajawali hingga ke KRI Pattimura. (2)
Di umur 21 tahun, Yos Sudarso sudah melakukan ekspedisi maritim ke daerah-daerah di Indonesia terutama Maluku.
Saat itu kapal-kapal patroli Belanda sudah berkeliaran di lautan Nusantara.
Yos Sudarso pernah ditahan di Ambon dan Ujung Pandang oleh Belanda namun dibebaskan berkat Perjanjian Linggarjati.
Selama Agresi Militer Belanda kedua (1948), Yos Sudarso bergerilya di sekitar Yogyakarta, kemudian bersama seluruh Staf MBAL (Markas besar Angkatan Laut), ia menyingkir keluar kota.
Tahun 1958, ia pernah menjabat hakim pengadilan tentara walaupun cuma sekitar 4 bulan.
Pertempuran Laut Aru
Puncak perjuangan Yos Sudarso ialah dilaut Aru, dalam rangka perjuangan pengembalian Irian Barat kepada RI.
Pada tanggal 15 Januari 1962 sebuah satuan MTB (Markas besar Angkatan Laut) ALRI melakukan tugas disertai pejabat-pejabat MBAL termasuk Komodor Yos Sudarso.
Kesatuan MTB itu terdiri dari 3 kapal, yaitu RI Macan Tutul, RI Macan Kumbang dan RI Harimau.
Komodor Yos Sudarso ada di KRI Macan Tutul.
Saat itu Yos Sudarso menjabat sebagai Deputi Operasi KSAL.
Operasi militer laut Aru sebenarnya bersifat rahasia dan bertujuan untuk mencari informasi namun Belanda mengetahui rencana Yos Sudarso.
Tepat pada jam 21.15 malam, kapal-kapal RI tadi diserang oleh kapal-kapal dan pesawat Belanda. (3)
Yos Sudarso mengeluarkan perintah bertempur dengan Belanda.
Strateginya adalah untuk mengorbankan KRI Macan Tutul agar dua kapal lainnya bisa terselamatkan.
Akhirnya Yos Sudarso meninggal tertembak oleh musuh dan tenggelam bersama 23 awak kapal tersebut. (4)
Pahlawan Nasional
Bersama dengan 23 anak buahnya Yos Sudarso tenggelam di dasar laut dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat.
Kalimat terakhir dari komodor Yos Sudarso sesaat sebelum kapalnya karam yaitu ‘Kobarkan semangat pertempuran‘ ia pekikan melalui radio ke dua kapal lainnya yang berhasil selamat.
Pemerintah RI menaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda TNI AL Anumerta.
Yos Sudarso diberi gelar Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 088/TK/Th. 1973. Tanggal 6 November 1973.
Nama Yos Sudarso juga dijadikan nama jalan serta pulau di daerah Jakarta dan Papua.