17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Douwes Dekker

Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pahlawan Nasional, Douwes Dekker.


Daftar Isi


  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ernest Francois Eugene Douwes Dekker adalah seorang pahlawan nasional yang dikenal juga dengan nama Multatuli atau Danudirja Setia Budhi.

Douwes Dekker atau Multatuli merupakan seorang keturunan Belanda yang justru ikut berjuang dalam memerdekakan Indonesia dari cengkraman kolonialisme Belanda.

Douwes Dekker dikenal sebagai seorang aktivis dan penulis.

Sebuah buku karyanya yang sangat fenomenal dan masih dijual sampai sekarang adalah Max Havelaar.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Cut Nyak Meutia

  • Kehidupan Pribadi


Douwes Dekker atau Multatuli lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 Oktober 1879.

Ayahnya bernama Auguste Henri Adoeard Douwes Dekker, sedangkan ibunya bernama Lousa Neumann.

Sepanjang hidupnya, Douwes Dekker sempat menikah dengan empat orang perempuan, di antaranya Clara Charlotte Deije, Johanna P Mossel, Djafar Kartodiwedjo, serta Haroemi Wanasita alias Nelly Kruymel.

Dari pernikahan itu, Douwes Dekker memiliki lima orang anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. 

Salah seorang anak laki-lakinya bernama Koesworo Setia Budhi. (1)

Pahlawan Nasional, Douwes Dekker dan istrinya. (biografiku.com)

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Ki Bagoes Hadikoesoemo

  • Riwayat Pendidikan


Douwes Dekker pertama mengenyam pendidikan formal pertamanya di tanah kelahirannya, Pasuruan Jawa Timur.

Tamat dari sana, Douwes Dekker kemudian melanjutkan ke HBS Surabaya, namun tidak lama ia kemudian pindah ke sekolah elit di Batavia bernama Gymnasium Koning Willem III School.

Ketika mengalami masa pengasingan di Swiss, Douwes Dekker melanjutkan pendidikannya di Universitas Zurich, Swiss mengambil bidang ekonomi.

Dari universitas itu, Douwes Dekker berhasil meraih gelar doktornya. (2)

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - dr Soetomo

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - W R Soepratman

  • Riwayat Karier


Setelah lulus dari Gymnasium Koning Willem III, Batavia (sekarang Jakarta), Douwes Dekker mendapat pekerjaan di sebuah kebun kopi di Malang bernama Soember Doeren,

Di tempat itu, Douwes Dekker melihat kesengsaraan para pekerja pribumi dengan sangat nyata karena orang-orang Belanda memperlakukan mereka dengan semena-mena.

Hal itu membuat Douwes Dekker tidak bisa tinggal diam.

Douwes Dekker kerap membela para pekerja kebun tersebut.

Imbasnya, ia dimusuhi oleh para pengawas kebun yang lain. 

Douwes Dekker juga berkonflik dengan managernya yang membuatnya dimutasi di perkebunan tebu Padjarakan.

Namun tidak lama, Douwes Dekker berkonflik lagi dengan perusahaannya karena masalah pembagian irigasi antara perkebunan tebu dan para petani yang ada di sekitarnya.

Hasilnya, Douwes Dekker dipecat dari perusahaannya.

Tidak lama, sang ibu, Louisa Neumann meninggal dunia yang membuat Douwess Dekker terpuruk.

Pada tahun 1899, Douwes Dekker meninggalkan Hindia Belanda untuk ikut berperang di Afrika Selatan dalam perang Boer melawan Inggris.

Namun nahas, Douwes Dekker berhasil ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

Di sana, Douwes Dekker bertemu dengan sastrawan asal India.

Keduanya banyak berinteraksi, hingga wawasan Douwes Dekker tentang perlakuan pemerintah kolonial kepada pribumi semakin terbuka.

Pulang ke Indonesia pada 1902, Douwes Dekker kemudian bekerja sebagai wartawan di De Locomotief.

Dalam tulisannya, Douwes Dekker sering mengangkat isu-isu soal kelaparan di daerah Indramayu, Jawa Barat. 

Douwes Dekker banyak mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial dalam setiap tulisannya.

Kegarangan Douwes Dekker terhadap pemerintah kolonial semakin menjadi ketika ia menjadi staf majalah Bataviaasch Nieuwsblad pada 1907.

Salah satu tulisannya yang paling terkenal adalah “Hoe kan Holland het Spoedigst Zijn Kolonien Verliezen?” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Bagaimana Caranya Belanda dapat Kehilangan Koloni-koloninya”.

Tulisan-tulisannya sampai membuat Douwes Dekker menjadi target intelijen pemerintah kolonial saat itu.

Rumahnya saat itu juga kerap dijadikan sebagai tempat berkumpul para aktivis pribumi seperti Sutomo dan Cipto Mangunkusumo.

Banyak juga anggapan bahwa berkat bantuan Douwes Dekker, organisasi modern pertama di Indonesia, Budi Utomo dapat berdiri.

Pada 25 Desember 1912, Douwes Dekker bersama Suwardi dan Cipto Mangunkusumo mendirikan partai politik dengan haluan nasionalis bernama Indische Partij.

Foto Tiga Serangkai: Soewardi Soerjaningrat/Ki Hadjar Dewantara (kiri), Ernest Douwes Dekker (tengah) dan Tjipto Mangoenkoesoemo (kanan) (Foto: konfrontasi.com)

Tidak terlalu lama, partai ini menjadi sangat popular di kalangan pribumi Indonesia.

Anggotanya juga mencapai lima ribu orang.

Sayangnya pada 1913, Indische Partij dibubarkan oleh pemerintah Belanda.

Tidak hanya dibubarkan, ketiga pendirinya yang tidak lain adalah tiga serangkai Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan dr. Cipto Mangunkusumo akhirnya diasingkan.

Masih dari biografiku.com, Douwes Dekker diasingkan di Eropa. Selama di sana, Douwes Dekker tinggal bersama keluarganya.

Douwes Dekker melanjutkan pendidikannya dengan mengambil program doktor bidang ekonomi di Universitas Zurich, Swiss.

Di sana, Douwes Dekker terlibat konspirasi dengan kaum revolusi India hingga membuatnya ditangkap dan diadili di Hongkong.

Pada 1918, Douwes Dekker juga sempat ditahan di Singapura selama dua tahun.

Baru setelah itu Douwes Dekker pulang ke Indonesia.

Di Indonesia, di samping aktif kembali di dunia jurnalistik, Douwes Dekker juga membuat partai baru bernama national Indische Partij, namun tidak mendapat izin dari pemerintah Belanda.

Pada 1919, Douwes Dekker dituduh terlibat dalam peristiwa kerusuhan petani perkebunan tembakau di Polanharjo, Klaten. Namun tuduhan itu tidak dapat dibuktikan.

Meski lolos dari tuduhan pertama, tuduhan lain kembali dilayangkan kepadanya.

Douwes Dekker dituduh membuat tulisan yang memuat hasutan dan melindungi redaktur surat kabar yang menulis komentar tajam terhadap pemerintah kolonial.

Beruntung, tuduhan itu lagi-lagi tidak dapat dibuktikan.

Karena banyaknya tuduhan yang dilayangkan kepadanya, Douwes Dekker kemudian meninggalkan dunia jurnalistik.

Douwes Dekker beralih menulis buku-buku semi ilmiah.

Salah satu bukunya yang paling fenomenal adalah Max Havelaar yang sampai saat ini masih banyak dijumpai di toko-toko buku.

Sahabatnya, yaitu Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara juga memberikan masukan supaya ia terjun ke dunia Pendidikan dan mendirikan Ksatrian Instituut di Bandung.

Dalam menjalankan sekolah ini, Douwes Dekker dibantu oleh seorang guru bernama Johanna Petronella Mossel, yang kemudian menjadi istrinya.

Pelajaran yang kebanyakan berisi tentang sejarah Indonesia dan dunia itu dinilai oleh pemerintah Belanda anti kolonial dan condong pada Jepang.

Akibatnya, pada 1933 buku-buku karya Douwes Dekker banyak dirampas dan dibakar oleh pemerintah kolonial Belanda.

Tidak hanya bukunya yang dirampas, Douwes Dekker juga dilarang mengajar, bahkan hingga memasuki masa penjajahan Jepang Douwes Dekker  tetap dilarang mengajar.

Douwes Dekker kemudian bekerja di Kantor Dagang Jepang di Jakarta.

Di tempat itu Douwes Dekker bertemu dengan Mohammad Husni Thamrin.

Tahun 1941, Douwes Dekker kembali dibuang ke Suriname.

Saat itu Jerman tengah melakukan serangan ke Eropa yang membuat banyak orang-orang Eropa ditangkap, termasuk Douwes Dekker.

Pasca perang dunia II, pada 1946, Douwes Dekker dikirim ke Belanda, kemudian pada 2 Januari 1947 ia kembali ke Indonesia ditemani seorang perawat, Nelly Albertina Gertzema nee Kruymel yang kemudian ia nikahi.

Pasca kemerdekaan, Douwes Dekker sempat mengisi posisi penting di dalam pemerintahan.

Di Kabinet Sjahrir III, Douwes Dekker sempat menjadi salah satu menteri, meski hanya berlangsung selama sembilan bulan.

Douwes Dekker pernah juga menjadi negosiator dengan Belanda dan pengajar di Akademi Ilmu Politik, serta menjadi Kepala Seksi Penulisan Sejarah di bawah Kementerian Penerangan.

Douwes Dekker kembali ditangkap oleh Belanda ketika terjadi agresi militer Belanda terhadap Indonesia. 

Douwes Dekker dibawa ke Jakarta untuk diinterogasi.

Namun karena usia yang sudah tua dan ia berjanji untuk tidak terjun ke dunia politik lagi, akhirnya Douwes Dekker dibebaskan dan kemudian tinggal di wilayah Lembangweg, Bandung.

Di Bandung, Douwes Dekker melanjutkan lagi kariernya di dunia pendidikan di bawah Ksatrian Instituut yang pernah ia dirikan.

Di sana, Douwes Dekker banyak menghabiskan waktunya untuk menyusun autobiografinya dan merevisi buku-buku sejarah yang pernah ia tulis.

Karena usia yang sudah semakin tua, Douwes Dekker akhirnya menghembuskan napas terakhir pada 28 Agustus 1950.

Douwes Dekker dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada 9 November 1961 melalui Keppres No. 590 tahun 1961. (3)

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Ki Bagoes Hadikoesoemo

  • Karya


1843 - De eerloze (naskah drama, kemudian diterbitkan sebagai De bruid daarboven (1864))

1859 - Geloofsbelydenis (diterbitkan dalam jurnal pemikir bebas De Dageraad)

1860 - Indrukken van den dag

1860 - Max Havelaar of de koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy

1860 - Brief aan Ds. W. Francken z.

1860 - Brief aan den Gouverneur-Generaal in ruste

1860 - Aan de stemgerechtigden in het kiesdistrikt Tiel

1860 - Max Havelaar aan Multatuli

1861 - Het gebed van den onwetende

1861 - Wys my de plaats waar ik gezaaid heb

1861 - Minnebrieven

1862 - Over vrijen arbeid in Nederlandsch Indië en de tegenwoordige koloniale agitatie (brochure)

1862 - Brief aan Quintillianus

1862 - Ideën I (terdapat pula yang berupa novel De geschiedenis van Woutertje Pieterse)

1862 - Japansche gesprekken

1863 - De school des levens

1864-1865 - Ideën II

1864 - De bruid daarboven. Tooneelspel in vijf bedrijven (naskah drama)

1865 - De zegen Gods door Waterloo

1865 - Franse rymen

1865 - Herdrukken

1865 - Verspreide stukken (diambil dari Herdrukken)

1866-1869 - Mainzer Beobachter

1867 - Een en ander naar aanleiding van Bosscha's Pruisen en Nederland

1869-1870 - Causerieën

1869 - De maatschappij tot Nut van den Javaan

1870-1871 - Ideën III

1870-1873 - Millioenen-studiën

1870 - Divagatiën over zeker soort van Liberalismus

1870 - Nog eens: Vrye arbeid in Nederlandsch Indië

1871 - Duizend en eenige hoofdstukken over specialiteiten (esai satir)

1872 - Brief aan den koning

1872 - Ideën IV (terdapat pula dalam naskah drama Vorstenschool)

1873 - Ideën V

1873 - Ideën VI

1874-1877 - Ideën VII

1887 - Onafgewerkte blaadjes

1891 - Aleid. Twee fragmenten uit een onafgewerkt blyspel (naskah drama)

1897 - Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappy (editor Willem Frederik Hermans) (4)

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Info Pribadi


Nama Dr Ernest Francois Eugene Douwes Dekker


Nama Panggilan Douwes Dekker


Nama Alias Multatuli


Danudirja Setia Budhi


Lahir Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879


Meninggal Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950


Makam Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, Jawa Barat


Riwayat Pendidikan Pendidikan Dasar, Pasuruan, Jawa Timur


Hogere Burgerschool (HBS), Surabaya, Jawa Timur


Gymnasium Koning Willem III School, Jakarta


Doktor Ekonomi, Universitas Zurich, Swiss  


Riwayat Karier Pekerja Kebun Kopi, Malang


Pekerja di Perkebunan Tebu


Prajurit Perang Belanda dalam Perang Boer Melawan Inggris


Wartawan Koran De Locomotief


Staf Mahalah Bataviaasch Nieuwsblad


Pendiri Indische Partij


Pendiri Nationaal Indische Partij


Pendiri Ksatrian Instituut


Menteri di Kabinet Sjahrir III


Delegasi Negosiasi Indonesia dengan Belanda


Pengajar di Akademi Ilmu Politik


Kepala Seksi Penulisan Sejarah di Bawah Kementrian Penerangan


Penulis


Pahlawan Nasional  


Keluarga


Ayah Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker


Ibu Louisa Neumann


Istri Clara Charlotte Deije


Johanna P. Mossel


Djafar Kartodiwedjo


Haroemi Wanasita alias Nelly Kruymel


Anak Koesworo Setia Buddhi


Sumber :


1. www.sukita.info/indah-permata-sari/profil-dan-fakta-unik-ernest-douwes-dekker-anggota-tiga-serangkai/
2. www.biografiku.com/biografi-douwes-dekker-tokoh-pejuang/
3. www.biografiku.com/biografi-douwes-dekker-tokoh-pejuang/
4. id.wikipedia.org


Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: haerahr

Berita Populer