Pidi Baiq

Penulis: Sekar Dwi Setyaningrum
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Penulis buku sekaligus sutradara film Dilan 1991 Pidi Baiq saat diwawancarai di Bandung, Kamis (21/2/2019).(KOMPAS.com/RENI SUSANTI)


Daftar Isi


  • Masa Kecil


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pidi Baiq merupakan sosok yang lahir pada 08 Agustus 1972.

Pidi Baiq bukan lahir dari keluarga seniman, namun di dalam diri Pidi mengalir darah seni.

Pidi Baiq menyukai seni sejak dulu.

Ayahnya merupakan pelanggan majalah Bobo, namun Pidi Baiq memilih untuk menutup ilustrasi gambar yang terdapat di majalah Bobo dan menggantinya dengan ilustrasi gambar dari Pidi.

Kemampuan itu yang kemudian mengasah kemahirannya dan tidak heran jika Pidi Baiq diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung.

Pidi Baiq mengaku jarang membaca buku maupun novel.

Pidi Baiq membaca dan akhirnya menyukai sastra karena Ibu dan kakak perempuan Pidi Baiq berprofesi sebagai Guru Bahasa Indonesia yang sering meminjamkan buku karangan dari Sutan Takdir Alisjahbana, Taufik Ismail, Iwan Simatupang, dan WS Rendra.

Terinspirasi dari membaca buku yang dibawakan oleh Ibu dan kakaknya, Pidi Baiq berusaha untuk menulis puisi.

Baca: Osama Bin Laden

Namun puisi yang Pidi Baiq tulis tidak disukai oleh teman-temannya karena merasa puisi yang Pidi tulis itu sulit dipahami.

Pidi Baiq juga gemar membaca cerita pendek karya Sarlito Wirawan Sarwono yang terdapat di majalah Gadis.

Ayahnya yang berlangganan majalah Tempo juga membuat Pidi Baiq menyukai tulisan dari Goenawan Muhammad.

Pidi Baiq yang suka membaca dan menulis tidak membuat Pidi Baiq bercita-cita menjadi penulis, pelukis maupun seniman.

Pidi Baiq justru semasa kecilnya bercita-cita ingin menikah.

Semasa menjalankan pendidikan di ITB, sifat memberontan dan kebebasan diri Pidi Baiq semakin membara.

Pada saat itu masih menjadi perbincangan mengenai rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto dan Pidi Baiq memutuskan untuk membuat negara sendiri yang dinamakan Negara Kesatuan Republik The Panasdalam.

Negara tersebut terletak di Ruang Seni Rupa yang memiliki luas 80 meter persegi pada 1995.

Nama The Panasdalam yang diberikan merupakan akronim dari Atheis, Paganisme, Nasrani, Hindu, Buddha, dan Islam.

Ini berarti The Panasdalam menerima kalangan dari keyakinan yang berbeda-beda.

Penduduk dari negara The Panasdalam terdiri dari 18 orang.

Imam Besar negara The Panasdalam merupakan Pidi Baiq sendiri.

Ketika Orde Baru tumbang, negara The Panasdalam ikut tumbang pada 1998 dan negara The Panasdalam memilih untuk ikut bergabung bersama indonesia.

Pada 1997 Pidi Baiq pernah merilis komik berjudul Bandung, Pahlawan Pembela Kebetulan: Kasus Tikus Tarka yang berlatar belakang kota Bandung.

Pidi Baiq pernah bergabung bersama PT POS Indonesia dan menjadi ilustrator menghasilkan 17 judul perangko sejak 1998.

Ilustrasi prangko pertamanya yang dibuat Pidi Baiq merupakan gebrakan baru karena prangko ini prangko seri cerita rakyat.

Pada umumnya desain prangko berbeda-beda walaupun memiliki tema desain yang sama namun Pidi Baiq membuatnya berkesinambungan sehingga ketika Prangko tersebut dijejerkan maka Prangko tersebut akan membentuk sebuah rangkaian gambar.

Perjalan Pidi Baiq selanjutnya ke negara Belanda untuk mempelajari filsafat dan seni.

Tahun 2005 The Panasdalam bank mengisi di televisi nasional dan membuat perdebatan sengit, semenjak saat itu Pidi Baiq sebagai Imam Besar memutuskan untuk tidak akan mengisi di televisi lagi.

The Panasdalam pun sudah tidak menempati ruang seni di ITB lagi, namun sudah memiliki rumah sendiri yang menjadi kegiatan komunitas dari The Panasdalam. (1)

  • Buku


Pidi Baiq yang pernah merilis komik ini kemudian dibuatkan sebuah blog oleh temannya, blog tersebut tidak memiliki konsep dan Pidi Baiq menulis apa saja di blognya.

Kemudian mantan Dekan ITB ini merilis serial Drunken pada 2008-2009.

Setial Drunken terdiri dari Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama, dan Drunken Marmut.

Di buku yang berjudul Drunken Monster Pidi Baiq menceritakan bahwa banyak tetangganya yang tidak percaya jika Pidi Baiq pernah menjadi dosen dan dekan di ITB.

Nama Pidi Baiq mulai naik ke pasaran dan temannya membuatkannya twitter untuk digunakan Pidi Baiq berkomunikasi bersama pembacanya.

Pidi Baiq sangat aktif menjawab pertanyaan dari pengikutnya.

Pidi Baiq kemudian menulis buku lagi yang berjudul Al-Asbun Manfaatulngawur pada 2010.

Buku lainnya yang ditulis pada 2010 berjudul Hanya Salju dan Pisau Batu.

Buku Dilan pun akhirnya dibuat oleh Pidi Baiq pada 2014.

Buku Dilan yang berulang-ulang cetak berkali-kali memutuskan Dilan untuk diangkat ke layar lebar. (2)

Novel Dilan 1990 dan Dilan 1991.

Karya

  • Bandung, Pahlawan Pembela Kebetulan: Kasus Tikus Tarka (1997)
  • Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (2008)
  • Drunken Molen: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (2008)
  • Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan (2009)
  • Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan (2009)
Serial Drunken Karya Pidi Baiq (Sumber: Revius)
  • Al-Asbun Manfaatulngawur (2010)
  • Hanya Salju dan Pisau Batu (2010)
  • At-Twitter: Google Menjawab Semuanya, Pidi Baiq Menjawab Semaunya (2012)
  • S.P.B.I: Dongen Sebelum Bangun (2012)
  • Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 (2014)
  • Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 (2015)
  • Milea: Suara dari Dilan (2016)
  • Asbunayah: Kumpulan Quote 1972-2098
  • Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara (2017) (3)
Serial Drunken Karya Pidi Baiq (Sumber: Revius)

  • Film


1. Dilan 1990

2. Dilan 1991

3. Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara

4. Koboy Kampus

(TribunnewsWiki/Sekar)

Jangan lupa Subscribe youtube channel TribunnewsWiki ya!



Nama lengkap Pidi Baiq


Nama lain Ayah/Surayah


Tanggal lahir Bandung, 8 Agustus 1972


Pekerjaan Seniman multitalenta


Pasangan Rosi


Anak Timur Langit Hali


Bebe Bibe Utara


Sumber :


1. www.kenangan.com/biografi/pidi-baiq
2. www.ekomarwanto.com/2012/01/biografi-singkat-pidi-baiq.html
3. tibuku.com


Penulis: Sekar Dwi Setyaningrum
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer