Korek Api

Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi korek api kayu. (Pixabay)


Daftar Isi


  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Korek api atau pemantik adalah alat yang digunakan untuk menyalakan api secara terkendali.

Korek api merupakan benda yang sangat penting di tengah kehidupan manusia untuk membantu berbagai kegiatan sehari-hari.

Korek api dijual secara bebas di toko-toko atau di warung-warung.

Ada bermacam jenis korek api, mulai dari korek api kayu sampai korek api gas.

Jenis ini tidak lepas dari sejarah panjang penemuan korek api.

Ilustrasi korek api kayu menyala. (Pixabay)

  • Sejarah


Penemuan korek api kayu ini bermula di China sekitar tahun 950 Masehi.

Dalam sebuah buku yang berjudul Catatan Tentang Dunia dan Keanehannya yang ditulis Tao Gu menuliskan deskripsi awal korek api.

"Jika terjadi keadaan darurat di malam hari, mungkin perlu waktu untuk membuat cahaya untuk menyalakan lampu. Tetapi seorang pria yang cerdik merancang sistem kayu pinus dengan belerang yang sudah diresapi dan menyimpannya siap untuk digunakan," tulis Tao Gu.

"Pada sedikit sentuhan api, mereka meledak menjadi api. Satu mendapat sedikit nyala seperti biji jagung. Hal yang luar biasa ini dulunya disebut 'pembawa cahaya', tetapi kemudian ketika itu menjadi sebuah artikel perdagangan namanya diubah menjadi 'tongkat api'," sambung tulisan itu.

Meski literatur menunjukkan tahun tersebut, tapi para ahli percaya korek api ditemukan beberapa ratus tahun sebelumnya.

Mereka percaya penemuan korek api dibuat tahun 577 Masehi oleh perempuan Qi Utara.

Teks lain tentang penemuan serupa ditulis oleh Wu Lin Chiu Shih sekitar tahun 1270.

Dalam tulisannya, Shih menyebut bahwa korek api sulfur telah dijual di pasar Hangzhou.

Tahun tersebut bertepatan dengan waktu kunjungan Marco Polo.

Kemungkinan, kunjungan tersebutlah yang membuat korek api menyebar ke berbagai belahan dunia.

Ratusan tahun kemudian, korek api gesek mulai diciptakan.

Penemunya adalah Hennig Brandt dari Hamburg, Jerman.

Korek api gesek ditemukan dari percobaan yang dilakukan Brandt pada 1669.

Saat itu, dia mencoba membuat emas dari logam lain, sayangnya, bukan emas yang tercipta melainkan fosfor.

Selain itu, dia juga menemukan bahwa fosfor memiliki sifat mudah terbakar.

Mendapati percobaannya tak sesuai harapan, Brandt mengabaikan temuannya.

Tapi ini tidak dilakukan oleh asistennya, Robert Boyle.

Pada 1680, Boyle melapisi kertas kasar dengan fosfor dan serpihan kayu dengan belerang.

Uniknya, ketika serpihan kayu ditarik melalui kertas kasar, benda itu terbakar.

Namun, karena kelangkaan fosfor, penemuan ini masih terbilang mahal.

Karenanya, hanya orang kaya yang bisa mengakses temuan baru tersebut.

Penemuan Robert Boyle berhenti sampai di situ dan tidak dikembangkan lagi.

Pasca penemuan Boyle, penemuan korek api terus berkembang, hingga pada tahun 1805 Masehi, seorang ahli kimia Paris bernama Jean Chancel menciptakan korek api dengan minyak mentah.

Alih-alih menggunakan fosfor yang langka, Chancel justru melapisi tongkat kayu dengan potasium klorat, sulfur, gula, karet, dan kemudian mencelupkannya ke dalam botol asbes kecil berisi asam sulfat.

Hasilnya, koneksi antara asam dan campuran pada tongkat kayu tersebut menghasilkan api.

Selanjutnya di tahun 1826 Masehi, seorang apoteker bernama John Walker melakukan percobaan di laboratoriumnya.

Walker mengaduk campuran sulfida antimon, potasium klorat, permen karet, dan pati dengan tongkat kayu.

Ia kemudian mengikis tongkat di lantai batu untuk menghapus segumpal larutan yang telah kering di ujungnya.

Anehnya, tongkat itu justru terbakar.

Walker terkejut bukan main, ia kemudian menyadari dia baru saja menciptakan sesuatu yang menarik.

Walker kemudian membuat beberapa tongkat serupa untuk ditunjukkan pada teman dan koleganya.

Salah seorang pengamat yang menyaksikan temuan Walker adalah Samuel Jones.

Tidak mau menyia-nyiakan apa yang dilihatnya, Jones mengkomersilkan korek api ala Walker itu dengan merk dagang “Lucifer”.

Namun karena penemuan Lucifer belum sempurna, sering kali Lucifer menyemburkan api dan mengeluarkan bau belerang yang sangat berbahaya.

Akhirnya Lucifer belum bisa diproduksi secara massal.

Kasus Lucifer ini mendorong seorang ahli kimia Perancis, Charles Sauria di tahun 1830 Masehi memformulasi ulang korek api untuk menghilangkan bau busuk dan memperpanjang waktu pembakaran.

Sauria kembali mencoba membuat korek api berbasis fosfor yang lebih aman untuk diproduksi secara massal.

Namun, meskipun korek api tersebut aman digunakan, fosfor merupakan bahan kimia yang sangat beracun.

Hal ini membuat puluhan pekerja pabrik korek api menjadi sakit di bagian tulang wajah.

Untuk mengatasinya, banyak pabrik beralih dari penggunaan fosfor putih yang beracun ke fosfor merah yang tidak beracun.

Tapi, harga fosfor merah saat itu lebih mahal untuk produksi.

Korek api yang menggunakan fosfor merah ini dibuat oleh Gustaf Erik Pasch dari Swedia pada 1844 Masehi.

Pasch kemudian mematenkan penggunaan fosfor merah dengan permukaan penggesek. (1)

Seiring perkembangannya, korek api gesek berkembang menjadi korek api gas dengan pemantik api.

Korek api gas adalah korek api yang menggunakan gas cair.

Untuk memunculkan apinya, digesekkan batu api dengan permukaan yang kasar.

Percikan api yang dihasilkan akan menyulut gas hingga api menyala.

Perkembangan ini diawali pada 1823 Masehi oleh ahli kimia Johann Wolfgang Döbereiner.

Alat yang disebut “lampu Döbereiner” ditemukan oleh Wolfgang Döbereiner sebagai batu loncatan penemuan pemantik api di seluruh dunia.

Temuan Döbereiner tersebut menggunakan reaksi kimia antara seng dan asam sulfat untuk menciptakan gas hidrogen yang mudah terbakar.

Pada 1903 Masehi batu api khusus pengganti platinum sebagai katalis ditemukan ilmuwan asal Austria Carl Auer von Welsbac.

Batu api ini terdiri dari paduan piroforik, cerium 70%, dan 30% besi.

Ketika tergores atau dipukul, ia akan mengeluarkan bunga api.

Berbekal penemuan Welsbach, seorang pengrajin logam bernama Louis Ronson menciptakan sebuah pemantik.

Pada 1910 Masehi, Ronson mematenkan pemantik hasil karyanya yang diberi label Pist-O-Liter.

Tiga tahun kemudian, perusahaannya, Ronson Lighter Company, memproduksi pemantik modern seukuran genggaman tangan.

Bahan bakarnya berganti dari hidrogen ke nafta.

Karena menggunakan batu api, harganya pun relatif murah.

Pemantik pertama keluaran Ronson diberi label “Wonderlitte”.

Pada 1920 Masehi, di tengah periode Art-Deco, merokok menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Eropa.

Meski saat itu harga pemantik tak semahal sebelumnya, pemantik masih menjadi barang mewah bagi sebagian orang, terutama kaum buruh yang sebagian besar perokok.

Tapi kondisi tersebut kemudian berubah berkat George G Blaisdell, pengusaha asal Bradford, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Blaisdell menciptakan pemantik model baru dengan merancang sebuah kap berlubang untuk sumbu, yang dapat menahan hembusan angin.

Selain itu, Blaisdell juga memodifikasi ruang bahan bakar menjadi lebih efisien dan menambahkan tutup flip-top berengsel.

Hasil karya Blasidell dikenal masyarakat dengan sebutan Zippo, sebuah label pemantik yang tenar hingga saat ini.

Seperti tertulis Russell E Lewis dalam Zippo Lighters: An Identification and Price Guide, Blaisdell mulai merancang pematiknya sejak 1932 dan mulai memproduksinya setahun kemudian.

Kata “Zippo” digunakan karena Blaisdell amat menyukai bunyi pengucapan dari kata zipper (risleting).

Jadi merek Zippo merupakan pelesetan dari kata zipper.

Zippo garapan Blaisdell kemudian pertama kali diluncurkan dengan harga 1,95 dolar.

Zippo. (Pixabay)

Setelah lahirnya Zippo, banyak perusahaan pemantik bermunculan, terutama dari perusahaan rokok diantaranya adalah Dunhill, St Dupont, dan Colibri.

Sengitnya persaingan membuat harga pemantik jadi murah, sehingga buruh dapat memilikinya.

Memasuki 1940 Masehi, bahan bakar pemantik mulai bergeser dari nafta ke butana.

Bau butana tak setajam nafta, selain itu, butana yang terkompresi dapat diatur intensitas atau kekuatan apinya.

Salah satu penemuan penting dalam sejarah pemantik tercatat pada 1917 Masehi saat para ilmuwan Prancis menemukan media piezoelektrik yang menjadi pengganti batu api sebagai katalis.

Batu api yang terus tergesek oleh roda besi kecil pemantik lama-lama tergerus, dan jika sudah habis maka harus diganti, inilah yang mengilhami lahirnya piezoelektrik.

Sebuah pemantik dengan sistem kerja memanfaatkan dua kabel kecil yang dapat menghasilkan aliran listrik untuk memicu api saat gas keluar.

Meski sudah ditemukan sejak 1917 Masehi, tapi pemantik piezoelektrik baru keluar di pasaran pada 1950-an.

Dengan adanya pemantik piezoelektrik inilah kemudian memunculkan berbagai jenis pemantik api yang biasa ditemui sehari-hari. (2)

Baca: Tentang Api

Baca: Sejarah Kaca

  • Industri Korek Api Kayu


Di Indonesia, indsutri korek api kayu hanya dilakoni oleh beberapa perusahaan besar saja, satu diantaranya adalah Java Macth Factory di Jakarta Utara.

Perusahaan ini sudah berdiri sejak 1949.

Dalam industri pembuatan korek api, jenis kayu yang umum dipakai untuk stick korek api adalah kayu pinus, albasia, gamelina, damar, dan genitri.

Untuk bahan pentol korek atau head composition-nya, yang digunakan adalah zat kimia gelatin, powdered glass (bubuk kaca), mangan dioksida, potassium klorat, potassium bikromat, zine oxide, iron oxide, bubuk sulfur, serta parafine untuk splint atau stick kayu.

Sedangkan bahan untuk menggesek bagian kepala atau pentol korek biasa disebut dengan istilah side coating.

Bagian ini terdiri atas fosfor merah, mangan diokside, polysol, dan ore concentrade.

Untuk bisa membuat korek api dalam jumlah yang besar, perusahaan korek api memerlukan peralatan dan mesin yang canggih.

1. Pada bagian produksi batang korek (splint process), mesin-mesin yang diperlukan:

  • Mesin Cross Cut (CCT) untuk memotong batang kayu menjadi ukuran tertentu.
  • Mesin Autoclave yang berfungsi melunakan kayu pinus dengan proses uap.
  • Mesin Peeling (CBK2) untuk mengiris kayu menjadi lembaran-lembaran tipis (veneer) yang tebalnya sekitar 2mm.
  • Mesin Penyusun (CED) yang akan menyusun venner sebelum dimasukkan ke dalam mesin Chopping.
  • Mesin Chopping (DAL) berfungsi memotong veneer menjadi batang-batang (sticks) korek api yang panjangnya 4cm.
  • Mesin Impragnating (DYS) yang bertugas memberi amonium fosfor ke batang-batang korek api.
  • Mesin Pengering (SF); Mesin Poleshing Drum (FZDS) yang berfungsi menghaluskan batang-batang korek api (splint).
  • Mesin Penyortir Batang Korek Api yang rusak atau disebut Mesin Selecting Table.

2. Pada bagian pembuatan pentol korek api (match production process), jenis mesin yang dibutuhkan:

  • Mesin Match Dipping (MDM) yang bertugas menyusun splint (batang korek api) dan memberinya adonan pentul sehingga menjadi korek api yang sempurna.
  • Mesin Filling Type untuk memasukkan batang-batang korek api kedalam kotak kemasan korek api (box).
  • Mesin Outer Box untuk memberi lapisan side coating pada ke dua bagian sisi kotak pembungkus.
  • Mesin Inner Box; Mesin Wraping; dan Mesin Packing.

Begitu canggihnya mesin-mesin yang digunakan, sehingga para pemain dalam industri ini adalah pengusaha-pengusaha kelas kakap untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan juga ekspor.

Namun untuk sekadar keperluan pribadi, kita bisa membuat beberapa batang korek api dengan teknik yang sederhana (manual). (3)

Korek api gas. (Pixabay)

  • Cara Membuat Korek Api


Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa seseorang bisa membuat korek api dengan cara manual atau sederhana.

Untuk membuat korek api, alat dan bahan yang dibutuhkan terdiri dari atas 1 sendok teh fosfor merah, 1 sendok teh kalium klorat; lem elmer (polyvinyl acetate); batang-batang kayu kecil (sebagai batang korek api); loyang untuk oven; kacamata untuk keselamatan; sarung tangan; dan tusuk gigi.

Cara membuatnya, pertama campurkan 1 sendok teh potasium klorat dengan ½ sendok teh lem elmer dengan menggunakan tusuk gigi hingga adonan merata.

Kemudian ujung batang yang akan dijadikan korek api diberi lapisan adonan tersebut setabal 1 mm.

Setelah itu, panggang pakai wajan atau oven batang-batang yang telah dilapisi adonan selama 2 jam pada suhu 65°C.

Kemudian keluarkan dan biarkan menjadi dingin dan mengeras.

Langkah berikutnya, dengan menggunakan tusuk gigi yang baru, campurkan 1 sendok teh fosfor merah dengan ½ sendok teh lem elmer.

Celupkan ujung batang korek yang telah berlapis tersebut kedalam campuran fosfor merah dan lem tadi.

Pastikan lapisan potasium klorat telah tertutup dengan lapisan fosfor merah.

Oven lagi selama 2 jam pada suhu yang sama, dengan loyang yang berbeda.

Setelah itu korek api telah selesai dibuat.

Yang perlu diperhatikan, bahan-bahan yang dipakai untuk membuat korek api adalah zat kimia yang reaktif dan beracun, jadi sebisa mungkin jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Selain itu, jangan sampai potassium klorat bersentuhan langsung dengan fosfor merah karena dapat menimbulkan reaksi kimia yang membahayakan mata dan pernapasan, bahkan bisa menimbulkan ledakan. (4)

(TribunnewsWIKI Official)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Nama Korek Api


Ditemukan Tiongkok


Sumber :


1. sains.kompas.com
2. bolehmerokok.com
3. www.kerjausaha.com/2013/03/mengenal-industri-pembuatan-korek-api.html
4. www.kerjausaha.com/2013/03/mengenal-industri-pembuatan-korek-api.html


Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Melia Istighfaroh

Berita Populer