Tentang
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Bandung adalah ibu kota provinsi Jawa Barat di Indonesia.
Menurut sensus 2015, Bandung adalah kota terpadat keempat di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, dan Bekasi dengan lebih dari 2,5 juta penduduk.
Kota ini terletak di lembah sungai yang dikelilingi oleh gunung berapi yang menyediakan sistem pertahanan alami.
Hal ini menjadi alasan utama pemerintah Hindia Belanda pernah berencana untuk memindahkan ibukota koloni dari Batavia (Jakarta modern) ke Bandung.
Terletak 768 meter (2.520 kaki) di atas permukaan laut, sekitar 140 kilometer (87 mil) tenggara Jakarta, Bandung memiliki suhu yang lebih sejuk sepanjang tahun daripada kebanyakan kota di Indonesia.
Iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk.
Pada tahun 1998 temperatur rata-rata 23,5 o C, curah hujan rata-rata 200,4 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 21,3 hari perbulan.
Sejarah
Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung.
Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.
Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun.
Beliau memerintah Kabupaten bandung hingga tahun 1681.
Semula Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang.
Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki "Dalem Kaum I", kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).
Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km).
Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.
Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada.
Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Asia Afrika - Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya.
Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.
Rupanya Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan.
Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang).
Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan.
Sekitar akhir tahun 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).
Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun.
Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati.
Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung.
Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.
Wali Kota Bandung
- E.A. Maurenbrecher (exofficio) 1906-1907
- R.E. Krijboom (exofficio) 1907-1908
- J.A. van Der Ent (exofficio) 1909-1910
- J.J. Verwijk (exofficio) 1910-1912
- C.C.B. van Vlenier dan 1912-1913 B. van Bijveld (exofficio) 1913-1920
- B. Coops 1920-1921
- S.A. Reitsma 1921-1928
- B. Coops 1928-1934
- Ir. J.E.A. van Volsogen Kuhr 1934-1936
- Mr. J.M. Wesselink 1936-1942
- N. Beets 1942-1945
- R.A. Atmadinata 1945-1946
- R. Siamsurizal
- Ir. Ukar Bratakusumah 1946-1949
- R. Enoch 1949-1956
- R. Priatna Kusumah 1956-1966
- R. Didi Jukardi 1966-1968
- Hidayat Sukarmadijaya 1968-1971
- R. Otje Djundjunan 1971-1976
- H.Ucu Junaedi 1976-1978
- R. Husein Wangsaatmaja 1978-1983
- H. Ateng Wahyudi 1983-1993
- Wahyu Hamidjaja 1993-1998
- Aa Tarmana 1998-2003
- H.Dada Rosada 2003-2013
- Mochamad Ridwan Kamil S.T., MUD. 2013-2018
- Oded Muhammad Danial (Pelaksana Tugas) 2018-2018
- Dadang Supriatna (Pelaksana Harian) 2018-2018
- Oded Muhammad Danial 2018-sekarang
Peristiwa
- 1488 Bandung didirikan sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran
- 1799 Menjadi bagian dari Sumedang Larang diserahkan kepada Pemerintah Belanda dari Kompeni
- 1811 Dinyatakan sebagai Ibukota Kabupaten Bandung
- 1906 Gemeente Bandoeng
- 1917 Burgemeester Van Bandoeng yang pertama
- 1926 Staadsgemeente Bandoeng
- 1942 Bandung Si
- 1945 Pemerintah Nasional kota Bandung
- 1949 Haminte Bandung
- 1950 Kota Besar Bandung
- 1957 Kotapraja Bandung
- 1966 Pemerintah Daerah Kotamadya Bandung
- 1974 Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung
Baca: Penjelasan Mengapa Suhu di Bandung Lebih Dingin Beberapa Hari Terakhir
Baca: Persib Bandung
Visi dan Misi
Visi Kota Bandung:
"TERWUJUDNYA KOTA BANDUNG SEBAGAI KOTA JASA YANG BERMARTABAT
( BERSIH, MAKMUR, TAAT DAN BERSAHABAT )"
Misi Kota Bandung:
Misi adalah tugas yang diemban Pemerintah Kota Bandung meliputi :
- Mengembangkan sumber daya manusia yang handal yang religius, Yang mencakup pendidikan, kesehatan dan moral keagamaan.
- Mengembangkan perekonomian kota yang adil, yang mencakup peningkatan perekonomian kota yang tangguh, sehat dan berkeadilan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha.
- Mengembangkan Sosial Budaya Kota yang ramah dan berkesadran tinggi, serta berhati nurani, yang mencakup peningkatan partisipasi masyarakat dalam rangka meningkatkan ketenagakerjaan, meningkatkan kesejahteraan sosial, keluarga, pemuda dan olah raga serta kesetaraan gender.
- Meningkatkan penataan Kota , yang mencakup pemeliharaan serta peningkatan prasarana dan sarana kota agar sesuai dengan dinamika peningkatan kegiatan kota dengan tetap memperhatikan tata ruang kota dan daya dukung lingkungan kota .
- Meningkatkan kinerja pemerintah kota secara professional, efektif, efisien akuntabel dan transparan, yang mencakup pemberdayaan aparatur pemerintah dan masyarakat.
- Mengembangkan sistem keuangan kota , mencakup sistem pembiayaan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, swasta dan masyarakat. (1)