Sejarah
Berdasarkan cerita yang menyebar di kalangan masyarakat, di era Majapahit terdapat seorang pembuat pusaka, yaitu Mbah Kriyo Kusumo.
Mbah Kriyo Kusumo bertapa di tengah hutan.
Ia membawa api, kemudian menyalakannya di bebatuan tepat di sebelah tempat bersemedi.
Konon, api itulah yang menyala hingga kini menjadi Kayangan Api.
Di sebelah barat Kayangan Api terdapat kubangan lumpur berbau belerang, bernama Sumur Blekutuk.
Mbah Kriyo Kusumo, atau Empu Supa, atau Mbah Pande, selain membuat pusaka, juga beraktivitas membuat peralatan pertanian.
Ditemukannya 17 lempeng tembaga yang berangka 1301 M, menjadi bukti historis penting mengenai keberadaan Kayangan Api.
Selain itu, juga ditemukan prasasti berbahasa Jawa kuno.
Prasasti tersebut diyakini berasal dari era pemerintahan raja pertama Majapahit.
Prasasti tersebut berisi pembebasan Desa Adan-adan dari kewajiban membayar pajak.
Daerah tersebut juga ditetapkan sebagai sima perdikan atau swantantra.
Penghargaan tersebut diberikan Raden Wijaya kepada Rajasi, atas jasa dan pengabdian terhadap Majapahit.
Rajasi yang dimaksud merupakan Mbah Kriyo Kusumo, atau Mbah Pande. (1)
Baca: Antoine Griezmann
Sumber Api
Menurut penelitian, kayangan api ini menyala karena terdapat gas alam di perut bmi.
Karena terdapat dalam jumlah yang banyak, serta muncul terus menerus, maka nyala api di Kayangan Api tidak pernah padam.
Hal ini juga didukung dengan fakta bahwa di sekitar lokasi terdapat banyak gas alam. (2)
Baca: Andaliman
Lokasi
Kayangan Api terletak di kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur. (3)
Penggunaan Api
Api abadi di Kayangan Api hanya boleh diambil atau digunakan untuk upacara penting.
Api abadi ini pernah diambil untuk upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X .
Untuk mengambil api di Kayangan Api harus memenuhi syarat.
Pertama, harus diadakan selamatan atau wilujengan.
Kedua, tayuban dengan gending eling-eling, wani-wani, dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo.
Ketika gending tersebut dinyanyikan dan ditarikan waranggono, tidak boleh diiringi atau ditemani siapapun.
Pengambilan api PON di Kayangan Api juga melalui upacara yang dipimpin tokoh masyarakat.
Upacara tersebut meliputi asung sesaji dan tumpengan. (1)
Baca: Sirius
Kegiatan
Lokasi Kayangan Api digunakan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
- Acara Ruwatan Massal
- Nyadaran Desa
- Wisuda Waranggono
- Selapanan Jumat Pahing
Fasilitas
Kini, Kayangan Api berkembang sebagai tempat wisata.
Di sekeliling api, terdapat candi-candi nuatan berukuran kecil.
Di lokasi Kayangan Api juga terdapat wahana bermain, seperti becak dan kereta mini.
Harga Tiket dan Jam Operasional
Kayangan Api buka 24 jam.
Tiket untuk memasuki Kayangan Api sebesar Rp 8500.
Tiket tersebut sudah termasuk asuransi jiwa.
Untuk memarkirkan kendaraan, pengunjung perlu membayar Rp 2000 per motor, dan Rp 10000 per kendaraan roda empat. (4)
Ketentuan mengenai jam operasional dan harga tiket ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Untuk terus update informasi tribunnewswiki.com, ikuti kami di:
Instagram @tribunnewswiki
Fanpage Facebook Tribunnews Wiki
Youtube TribunnewsWiki Official