Kehidupan Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kiai Haji Ahmad Dahlan atau KH Ahmad Dahlan adalah pendiri organisasi Islam besar di Indonesia, Muhammadiyah,
KH Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 dari pasangan KH Abu Bakr (Ayah) dan Nyai Abu Bakr (Ibu).
KH Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwisy, dan merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara di dalam keluarganya.
KH Ahmad Dahlan masih keturunan kedua belas dari salah satu anggota Wali Songo, Maulana Malik Ibrahim. (1)
Sepulang dari Makkah untuk menimba ilmu keislaman, KH Ahmad Dahlan menikahi anak dari Kyai Penghulu Haji Fadhil, yakni Siti Walidah yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah.
Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.
Di samping itu, K.H. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah.
Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak.
K.H. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah.
Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin, Pakualaman Yogyakarta.
Awal Perjalanan
Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil, dan sekaligus menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab.
Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun.
Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.
Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Muhammad Darwisy.
Jiwa dan pemikiran Kh Ahmad Dahlan dipengaruhi oleh aliran pembaharuan ini yang kelak menjadi corak Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).
Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. (2)
Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Haji Ahmad Dahlan (suatu kebiasaan dari orang-orang Indonesia yang pulang haji, selalu mendapat nama baru sebagai pengganti nama kecilnya).
Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.
Pada tahun 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah termasuk pada Syeh Ahmad Khatib, yang juga menjadi guru bagi KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). (3)
Pada 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk menjadikan gerakan dakwah yang ia gelorakan semakin masif dan terstruktur.
Pendirian Muhammadiyah
Pada tanggal 20 Desember 1912, KH Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum.
Pemerintah kolonial Belanda baru mengabulkan pada 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914 dan hanya terbatas untuk area Yogyakarta. (4)
Lalu, pada 7 Mei 1921 Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Permohonan itu dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921. http://www.muhammadiyah.or.id/id/4-content-156-det-kh-ahmad-dahlan.html
Padahal secara empiris, pada 18 November tahun 1912, KH Ahmad Dahlan sudah mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita dakwahnya yakni memberi khasanah pembaharuan Islam di bumi Nusantara.
KH Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam.
Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Selain itu, sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat gerakan dakwah yang dimanifestasikan dalam bidang sosial dan pendidikan.
Strategi Berdakwah dan Tantangan
Untuk membangun upaya menyebarluaskan dakwah Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan gigih membina angkatan muda demi memajukan, membangkitkan kesadaran dan ketertinggalan ummat Islam di Indonesia.
Strategi yang dipilihnya untuk mempercepat dan memperluas gagasan dakwah adalah dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta ketika diizinkan menjadi guru agama oleh pemerintah kolonial Belanda kala itu.
KH Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimat (Kweekschool Putri Muhammadiyah).
Pendirian sekolah-sekolah itu diharapkan mampu menyemai dan menamankan nila-nila dakwah Muhammadiyah semakin luas ditengah-tengah masyarakat.
Ketika upaya dakwahnya dibatasi dan diawasi oleh pemerinah kolonial Belanda, KH Ahmad Dahlan dengan cerdik menganjurkan agar cabang-cabang Muhammadiyah di daerah lain dirubah dengan nama seperti Nurul Islam di Pekalongan atau Al-Munir di Makassar.
Untuk meluaskan jangkauan dakwah Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan juga menghimbau untuk diadakan pengajian-pengajian rutin dengan bimbingan dari Muhammadiyah di Yogyakarta dan tabligh-tabligh di berbagai kota diluar Yogyakarta.
Selain itu, KH Ahmad Dahlan yang seorang pedagang dan aktif di beberapa organisasi seperti Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad Saw menggunakan relasinya untuk menyebarluaskan nilai-nilai dakwah Muhammadiyah.
Sebelumnya, gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya.
Bahkan dalam Kongres Al-Islam yang diselenggarakan Sarekat Islam (SI) pada Oktober 1922 dalam upaya konsolidasi persatuan ummat Islam, KH Ahmad Dahlan yang kala itu mewakili Muhammadiyah mendapat tuduhan menyerang ajaran konservatif-tradisional serta dituding mengembangkan mahzab baru.
Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan berkali-kali datang kepadanya.
KH Ahmad Dahlan dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam dan membuat tafsir baru terhadap Al-Quran.
Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar dan mengatasi segala rintangan yang membentang.
Gelar Pahlawan Nasional
Atas jasa-jasa K.H. Ahmad Dahlan dalam mem-bangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut :
- K.H. Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
- Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
- Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
- Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.