Sejarah
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Penemuan kretek bisa dibilang sebagai sesuatu yang tidak disengaja.
Dari berbagai literatur yang ada, kretek ditemukan sekitar abad ke 19 oleh seorang warga Kudus, Jawa Tengah bernama Haji Djamhari.
Penemuan kretek bermula ketika Haji Djamhari menderita sesak napas.
Haji Djamhari kemudian mengoleskan minyak cengkih ke dadanya dan ternyata sakitnya mulai reda.
Lebih lanjut, Haji Djamhari kemudian meningkatkan terapinya dengan mengunyah cengkeh, hasil yang ia dapat lebih baik.
Haji Djamhari kemudian mempunyai ide untuk merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau lalu dilinting menggunakan kulit jagung atau biasa disebut klobot menjadi rokok.
Setelah menghisap rokok buatannya itu, penyakit asma yang diderita Haji Djamhari lambat laun pun mulai sembuh.
Ketika dibakar dan dihisap, rokok yang dibuat oleh Haji Djamhari menghasilkan suara “kretek-kretek”, sehingga rokok tersebut diberi nama kretek.
Kisah Haji Djamhari tersebut dengan cepat meluas di tengah masyarakat.
Orang-orang mulai mengikutinya, menaburkan cengkih pada tambakau dan dilinting dengan klobot lalu disulut dan digunakan untuk merokok.
Selain memiliki khasiat menyembuhkan sesak napas, kretek juga dirasa memiliki cita rasa tersendiri.
Sejak saat itu mulai lahir industri-industri rumahan yang membuat kretek untuk dijual secara luas.
Haji Djamhari meninggal pada 1890.
Sejarawan Onghokham memperkirakan peristiwa penemuan kretek terjadi antara tahun 1870 hingga tahun 1880.
Berawal dari upaya pengobatan akhirnya berkembang menjadi dagangan yang melahirkan industri rumah tangga. (1)
Selain Haji Djamhari, Mbok Nasilah juga dikenal sebagai penemu kretek.
Penemuan tersebut bermula dari usaha Mbok Nasilah yang ingin mengentikan kebiasaan nginan para kusir yang sering mangkal di warungnya.
Ampas nginang yang dibuang oleh para kusir mengotori warungnya.
Karena itu, Mbok Nasilah kemudian membuat rokok kretek yang dijual di warungnya supaya para kusir tidak nginang lagi.
Kretek buatan Mbok Nasilah ternyata disukai para kusir, termasuk Nitisemito, salah seorang kusir yang kemudian dikenal sebagai raja kretek.
Rokok buatan Mbok Nasilah terbuat dari campuran tembakau dan cengkih kemudian dibungkus dengan daun jagung kering atau klobot lalu diikat dengan benang.
Jauh sebelum ditemukannya kretek oleh Haji Djamhari, tembakau sudah mulai dibawa ke Indonesia, khususnya ke Jawa oleh pedagang dari Portugis sekitar 1600-an.
Kata tembakau sendiri lebih mengacu pada Bahasa Portugis yaitu “tumbaco”, bukan mengacu pada Bahasa Inggris yaitu “tobacco”. (2)
Perkembangan Kretek
Pada 1894, Nitisemito kemudian menikahi Mbok Nasilah.
Pernikahan Nitisemito dan Mbok Nasilah ini menjadi awal sejarah perkembangan kretek.
Keduanyalah yang pertama mendirikan industri rokok, Mbok Nasilah sebagai peracik sedangkan Nitisemito sebagai manajemen produksi dan pemasaran.
Pada 1914, Nitisemito mendirikan pabrik rokok dengan merk “Tjap Bal Tiga” di Desa Jati, Kudus.
Perusahaan rokok tersebut makin berkembang dan menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.
Awalnya Nitisemito menggunakan nama “Kodok Nguntal Ulo”, namun karena dianggap kurang hoki dan jadi bahan tertawaan, akhirnya ia mengubah nama perusahaan rokoknya.
Pada 1938, industri kretek milik Nitisemiyo mampu memproduksi 10 juta batang rokok perhari dengan jumlah pekerja mencapai 10 ribu orang. (3)
Industri kretek di tanah air terus berkembang, berawal dari pabrik kretek bernama GOL PAL (gawang di sepak bola), KH Syafi’i memulai pembuatan kretek rempah alami di awal tahun 1950-an sampai 1970.
Kretek buatannya hanya beredar di area Turen Malang, Jawa Timur.
Pada saat 1970-an seiring mulai masuknya industri rokok dari campur tangan asing, mulai berdiri pabrik-pabrik rokok yang menggunakan bahan pencampur untuk rasa di kretek dari bahan kimia.
Sejak saat itu, KH Syafi’I memutuskan untuk menghentikan produksi kretek rempah karena persaingan industri kretek yang semakin tidak kondusif.
Industri kretek mulai hanya mementingkan kepentingan bisnis dan murahnya produksi kretek dengan saus kimia.
Sejak saat itu juga muncul istilah rokok yang kemudian menggeser nama kretek. (4)
Bahan Kretek
Bahan baku utama kretek tidak lain adalah tembakau dan cengkih.
Namun ada juga bumbu-bumbu lain yang biasa dicampurkan dengan tembakau sesuai dengan selera penghisap kretek.
Dengan kata lain. bahan-bahan tersebut tidak wajib ada.
Beberapa bahan-bahan tambahan dalam membuat kretek diantaranya:
Cengkih yang memiliki nama latin syzgium aromaticum teramasuk ke dalam jenis rempah dan dikenal sebagai tanaman identitas rakyat Maluku Utara.
Cengkih memiliki banyak manfaat, baik sebagai bumbu masakan, ramuan obat, serta sebagai bahan campuran kretek.
Pada abad pertengahan, cengkih menjadi komoditas yang paling dicari oleh bangsa Eropa.
Menurut beberapa catatan, bangsa Arab dan Kanaanlah yang pertama kali memperkenalkan cengkih dari Asia ke benua Eropa melalui perdagangan di kawasan Mediterania.
Indonesia dikenal sebagai produsen dan konsumen cengkeh terbesar di dunia.
Menurut catatan Departemen Pertanian pengguna terbesar cengkih adalah industri rokok kretek (80-90 %).
Baca: Museum Kretek Kudus
Baca: Ernesto Guevara Lynch de la Serna
Tanaman ini termasuk rempah yang kerap pula dipakai untuk bumbu masakan dan jamu.
Beberapa kandungan yang terdapat pada kapulaga adalah minyak atsiri, borneol atau terpena, alfa terpinen, cineol, alfa-terpinelasetat dan juga limonen.
Kapulaga merupakan jenis temu-temuan yang memiliki manfaat herbal.
Kapulaga berkhasiat untuk mencegah pengeroposan tulang dan menjadi antioksidan yang baik.
Kapulaga juga dapat mengobati gusi bengkak dan menghilangkan nyeri pada gigi.
Manfaat lain dari kapulaga adalah dapat mengobati sakit tenggorokan, menjernihkan suara, serta melancarkan sirkulasi darah.
Klembak adalah tumbuhan penghasil bahan obat dan wewangian.
Akar klembak yang dikeringkan memiliki aroma yang khas.
Klembak biasana dijadikan bahan pembuatan kretek bersama kemenyan.
Perpaduan Klembak dan kemenyan biasa disebut sebagai klembak menyan atau rokok Siong.
Rokok ini mengeluarkan bau harum dan banyak diproduksi di Banyumas, Jawa Tengah.
Kemukus memiliki nama ilmiah piper cubeba.
Tanaman ini mungkin kurang dikenal oleh banyak orang.
Kemukus yang merupakan tanaman rambat ini sangat mirip dengan lada, tapi memiliki ekor sehingga sering disebut juga mrica buntut.
Kemukus biasanya digunakan sebagai obat sesak napas, penghangat badan, dan penghilang bau mulut.
Selain mengandung mintak atsiri, pada buah dan daun kemukus juga mengandung saponin dan plavonida.
Buah kemukus biasa juga dijadikan sebagai bumbu tambahan pada rokok kretek. (5)
Jenis-jenis Kretek
Seiring berjalannya waktu, jenis-jenis kretek mulai bervariasi.
Setidaknya ada empat jenis kretek yang sampai sekarang masih sering dijumpai yaitu kretek tangan, kretek tangan filter, serta kretek mesin.
- Kretek Tangan
Kretek tangan adalah kretek berbentuk kerucut yang dibuat secara manual menggunakan alat giling kretek tradisional.
Ciri-ciri kretek tangan adalah selain tanpa filter, bentuknya juga unik, yakni ujung bakarnya lebih besar dan terus mengerucut hingga ujung hisapnya.
- Kretek Tangan Filter
Sama dengan kretek tangan di atas, dibuat menggunakan alat giling tradisional.
Perbedaannya, pada ujung hisap kretek tangan filter terdapat filter.
Selain itu, kretek tangan filter juga memiliki bentuk silinder, berbeda dengan kretek tangan biasa yang memiliki bentuk konus atau mengerucut.
Kretek tangan filter ini agak susah dicari, karena hanya beberapa perusahaan saja yang memproduksi kretek tangan filter dan tidak diproduksi dalam jumlah yang besar.
- Kretek Mesin
Kretek mesin adalah kretek berbentuk silindris, proses pembuatannya menggunakan mesin dan terdapat filter di ujung hisapnya.
Kretek mesin merupakan fase inovasi dalam sejarah perkembangan kretek.
Sebelum era 1970-an, masyarakat masih menikmati produk-produk kretek tangan.
Karena permintaan kretek tangan terus meningkat, industri kretek sampai kewalahan dalam memenuhi permintaan pasar.
Karena itu, pada 1986, PT Bentoel memesan mesin pembuat sigaret buatan Molin dari Inggris yang dimodifikasi untuk membuat kretek mesin.
Dalam perkembangannya, kretek mesin dibagi menjadi dua golongan, yaitu kretek mesin full flavor (regular) dan kretek mesin LTLN (Low Tar Low Nikotin).
Kretek mesin full flavor adalah kretek mesin yang dalam proses pembuatannya ditambahkan rasa aroma khas dengan tarikan lebih berat dan kadar tar serta nikotin lebih besar dibandingkan LTLN.
Sedangkan kretek mesin LTLN merupakan kretek yang kadar tar dan dikotin di bawah rata-rata.
Angka tar yang biasa terkandung dalam kretek mesin LTLN biasanya hanya sampai belasan mg, sedangkan nikotinnya hanya sekitar 1 mg sampai 2 mg. (6)
Jangan lupa subscribe channel Youtube TribunnewsWIKI Official